Bercerita Sebelum Tidur
---Obrolan Raga dan Pikiran
"Raga, ini udah malem. Tidur yuk, saatnya istirahat. Kamu lelah kan?"
"Iya tau ini udah malem. Tapi si mata belum mau tidur. Mungkin, kamu jg belum mau kan karena lagi banyak pertanyaan yang belum sempat terjawab hari ini?"
"Iya sih. Aku juga lagi cari jawaban dari berbagai pertanyaan yang masih berputar-putar dalam otak. Rasanya capek ya muter-muter terus. Tapi masih ada waktu besok raga, yuk mau tidur gak?"
Capek. Satu kata yang selalu menghantui kerap kali udah pasrah sama keadaan. Kala tubuh udah di hujani berbagai pertanyaan yang setiap tidur masih belum dapat jawaban.
Tenang. Kalau udah di kasur, rasanya tenang karena raga udah dipersiapkan buat istirahat. Rebahan kan posisinya? Posisi yang sering dilakukan sama orang yang bermalas-malasan. Iyakan, kaum rebahan?
Hening. Kalau malam mau tidur, suara bising udah kurang. Yang ada, cuma kita. Kita mendengar apa yang kita rasa dari segala panca indera. Salah satunya mata, kalau sedih pasti turun air mata. Bibir, pastinya senyum kalau lagi bahagia.
Malam. Waktu di mana raga mau istirahat, rehat dari berbagai aktivitas yang sempat menguras seharian. Pokoknya, waktu di saat kita bisa mendengar apa yang raga butuhkan.
Dialog atau monolog?
Kayanya, dialog tapi gak ada bunyi. Yang ngomong raga sama akal. Mungkin itu, mungkin 2 komponen itu yang selalu bikin diskusi sebelum kita tidur setiap hari.
Jadi, sudahkah kamu melakukan dialog sebelum tidur?
Tak usah banyak bicara, cukup dirasakan saja. Sejauh apa kamu bisa memahami diri sendiri. Sejauh apa kamu bisa bersyukur hari ini. Sejauh mana kamu bisa mengevaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan sepanjang hari ini. Sampai...
---sampai kamu sadar waktu udah malam dan bersiap buat tidur.
SALAM MALAM,
Dari mata yang belum terpejam.
Aku dan cerita sebelum tidur.
💫




















