Ada kelompok manusia yang mati-matian beramal, tapi kelak terhina. Peras keringatnya mengirimkan dirinya ke neraka. All out yang dicurahkan berujung kerendahan yang menyengsarakan. Kelompok ini tak berdaya saat akhir ceritanya berlabuh di neraka. #belaislam #belabangsa #kajian #m.ikhsan #persis #islamimodern
Atas dasar panggilan hati nurani, kami merasa terpanggil. Atas pondasi perjuangan, kami merasa terdorong. Atas puncak kejayaan, kami merasa butuh perjuangan. Rakyat menjerit kesusahan atas kezhaliman negri dan kau masih diam? Kau lah sesungguhnya termasuk dalam kezhaliman tersebut Kau mendukung kami, alhamdulillah. Kau diam saja, tak masalah. Kau apatis terhadap kami, tak apa. Yang jadi masalah adalah, apakah dirimu betah, melihat kezhaliman yang ada? @bemsebi @bem_si #perjuangan #lawan #kezhaliman #belabangsa #belanegara #bangga #sebi #bemsi #bersama #rakyat (di Istana Negara Indonesia Jakarta Pusat)
Pilihan yang lain saya pikir adalah sebuah keseimbangan. Jika semua orang menjadi PNS, maka bisa dibayangkan bagaimana mungkin negara sanggup membayar mereka. Tahun 2011 jumlah PNS kurang lebih 4.7 juta orang. Surplus ini telah menjadi beban anggaran pemerintah yang serius, dan diperparah lagi dengan adanya kasus korupsi yang merajalela.
Mungkin alur hidup kita sudah diatur sedemikian rupa agar tercipta sebuah masyarakat yang aman dan tertib. Di negara ini orang dicetak untuk menjadi sama, mempunyai selera yang sama, mempunyai cita-cita yang sama. Keberagaman adalah sesuatu yang chaos dan tidak memberikan sesuatu yang bermanfaat.
Kita diciptakan untuk menggambar 2 gunung dengan jalan ditengahnya, kita diciptakan untuk mengikuti trend dan jika tidak mau akan tersingkir dari pergaulannya, kita diciptakan hanya untuk melihat satu kebenaran dan tidak ada yang lainnya.
Karya visual Bela Bangsa oleh Mira Asriningtyas “Pengepul Mimpi” adalah karya yang berangkat dari kegelisahan personal tentang jalan hidup, pengertian kesuksesan, mimpi-mimpi dan pilihan-pilihan yang lain di Indonesia
BELA BANGSA VISUAL ART EXHIBITION POJECT: Mira Asriningtyas
PENGEPUL MIMPI by Mira Asriningtyas
Mira Asriningtyas is the owner of LIR shop, Yogyakarta
Cerita Personal Mira tentang Pengepul Mimpi
aku pikir saat itu sedang melakukan belokan jalan hidup dan memutuskan untuk madeg manteb , menjalani kehidupan sesuai impianku. Aku rasa saat itu berat, terutama di negara yang menganggap menjadi tidak ‘normal’ itu adalah pilihan yang salah. Sebagian orang di sekitarku merasa keputusan untuk meninggalkan pekerjaan di jakarta yg 9 to 5, adalah sebuah perbuatan yang manja dan ‘taking things for granted’. Belum lagi saudara-saudara di trah keluarga yg mencoba ‘mencarikan pekerjaan’ entah di bank, di minyak, atau di lembaga pemerintahan yg membuat keputusan membuka toko terasa ‘malang’. Padahal kalau dilihat-lihat, kuliahku dulu adalah marketing manajemen yang fokus skripsinya adalah ‘new business development plan’.. nah.. walaupun sebenarnya jalan yang aku pilih adalah sesuai dengan sekolahku, saat itu banyak yg mencibiri. Harus ada pencapaian yang jelas. Padahal dalam bisnis, tidak semudah itu pembuktiannya…dan terkadang aku merasa bahwa mungkin ketika dulu pilihanku normal dan begitu saja bekerja di bidang-bidang normal yang oleh society dianggap suatu bentuk ‘kesuksesan’. Kadang memang ‘sukses’ itu sedikit overrated di negara ini.
Menjadi sukses adalah doa yang selalu diucapkan saat ada yg ulang tahun, sedikit yg mendoakan untuk ’semoga selalu bahagia’, kan?
Nah.. berangkat dari isu pribadi yg sangat personal itu tadi aku memutuskan untuk membuat majalah Huff edisi ‘Dream’. Dream di sini bisa berupa mimpi, maupun impian.. .namun memang lebih condong ke arah impian… (bisa dilihat majalahnya di huffmagazine.com). Nah.. karena semua memiliki project pribadi di sana, aku memutuskan membuat project ‘pengepul mimpi’.. .Saat itu aku sedikit tertantang mendengar komentar Dito bahwa memiliki impian di negeri ini adalah kutukan…sedikit banyak aku masih percaya bahwa masih ada kok orang-orang yg hidup dengan impiannya di luar sana…dan lagipula, mengumpulkan mimpi orang-orang itu bukankah sangat manis, romantis, dan kuat ya? hehehe..
Bayangkan ada sekumpulan kertas warna warni yang berisi berbagai impian. Bayangkan ada orang asing menyodorkan kertas warna warni dan menanyakan tentang mimpimu..
mungkin pertanyaan itu jarang sekali ditanyakan oleh orang lain, mungkin juga diri sendiri sudah mulai melupakan mimpi sehingga mungkin menyakitkan jika pertanyaan ini ditanyakan orang lain..
tapi ada juga yang biasa saja, menganggapnya main-main, atau dengan tegasnya dan macho-nya mengatakan bahwa dia tidak memiliki mimpi (karena mungkin memang ini adalah hal yang sedikit sentimentil)..
Pertama kali aku turun ke jalan dan menanyakan kepada dua orang suster sma stela duce, mereka kaget, menatap curiga, tapi lucunya. Mereka mengisi dg penuh kehangatan dan sepenuh hati (yg satu ingin bertemu malaikat pelindungnya, yg satu ingin orang menemukan tuhan melaluinya).
Kemudian mulai masuk impian tentang keinginan pergi keliling dunia, ingin suaminya lebih perhatian, ingin memiliki ini itu, memimpikan kebahagiaan, menjadikan mimpi sebagai bagian dari cita-citanya, dan lain-lain.
Lucunya, sebagian besar menuliskan tiga hal yg sama dalam kertas mimpinya: 1. sukses 2.membahagiakan orang tua 3. masuk surga (berikutnya ada 4. lulus, dan 5. menikah).
Sebagian dari diri saya merasa seperti melihat gambar gunung dengan sawah dan mataharinya ketika melihat kertas-kertas ini.
Ada sedikit perasaan ingin sekali lagi bertanya kepada orang-orang ini, bila mereka bisa menulis impian mereka yang paling dalam yang biasanya hanya disimpan di laci samping tempat tidur, apakah itu? Tapi kemudian saya merasa seperti men-judge dan tidak adil. Bukankah semua orang meginginkan hal-hal tersebut? Apakah semua orang benar ? bukankah tidak ada yang benar dan tidak ada yg salah? saya tidak seharusnya men-judge apapun. Negeri ini memiliki berbagai keseragaman yang dibentuk berpuluh-puluh tahun lamanya, adalah sesuatu yang wajar adanya. akhirnya ketika sekitar 500 lembar mimpi terkumpul, saya membuat kolase dan mencoba mempelajari mimpi-mimpi tersebut,
pada akhirnya, tetap saja mimpi-mimpi tersebut membuat hati hangat dan menyenangkan untuk dibaca..
Partisipan di dalam proyek Pengepul Mimpi
Waktu itu bener2 random…adikku nyebar di SMA SMA di jogja, trus mama nyebar di SMEA/SMK, yg nyaris semuanya impiannya sama…
Melihat latar belakangnya memang jadi wajar sekali sih klo sama…Mereka sama-sama punya ketakutan besar untuk nggak lulus dan berkeinginan langsung kerja demi orang tua mereka selepas SMK.
Ada beberapa anak yg nyebar di kampus-kampus dan kantor. Aku juga turun ke jalan, toko2, untuk nanya ke orang-orang secara acak…Sayangnya belum sempet nanyain anak kecil.
Apakah rasa simpati dapat membuat sebuah perubahan? Kasus pencurian sandal jepit di Palu misalnya, besarnya simpati publik tidak membuat AAL tidak divonis bersalah. Ketidakadilan terjadi diberbagai daerah, simpati publik yang lebih besar dari simpati personal, mencuat dengan hebohnya namun kemudian terlupakan. Ada sebuah pertanyaan yang patut didahulukan sebenarnya, apakah jika tidak bisa membuat suatu perubahan seseorang tidak perlu bersimpati? tidak perlu bertindak atau hanya berkeluh kesah tentang hal-hal yang berlangsung di sekitarnya.? Tamparan keras ketika melihat seorang ibu menangis diTV. sebuah respon atas kasus pembunuhan di Mesuji. Ia shock karena hal tersebut seperti tidak terjadi di Indonesia. "Percayalah bu, ini terjadi di Indonesia".
Mungkin dalam tujuanyang lebih konkretnya, proyek Bela Bangsa hanya akan berhenti disini. Sebuah kumpulan respon personal yang mungkin remeh dan tidak berarti. Tidak semuanya tentang masalah, karena ada juga orang yang tidak merasa punya masalah hidup di Indonesia. Banyak orang terus berusaha menggarisbawahi beberapa ungkapan personal mereka tentang Indonesia, dan kami hanya salah satunya, tanpa menimbang akan membuat suatu perubahan. Jika ini adalah nasionalisme, maka ini adalah nasionalisme yang melihat kedalam, melihat diri sendiri, melihat potensi dan masalah yang ada, bergulat dalam pemahaman terhadap kenyataan yang berlangsung di sekitar (lokal).