Dilema suatu kritik
Melihat kondisi saat ini, dimana sedang marak-maraknya hujat garis miring bulliying, membuat saya lebih sering merenungi apa yang terjadi berkaitan kebisingan di media sosial atau dunia maya.
hujat tersebut bisa dimaknai sebagai sebuah kritik dengan catatan tanpa mengindahkan emosional yang dihujat, tapi mungkin sebagian orang akan berbeda pendapat, karena hujat dkk hanyalah umpatan emosional seseorang yang tidak berpendidikan moral yang baik.
lalu kenapa saya memandangnya sebagai sebuah kritik?
pada dasarnya bulliying atau hujat dsb, akan mengarah pada suatu hal yang menurut sang subjek (penghujat) adalah titik lemah yang dimiliki oleh objek (yang dihujat). hanya saja pelaksanaan hujat dkk tersebut memang tidak dimaksudkan memberikan kritik pada objek, akan tetapi lebih pada kepuasan emosional subjek sesaat.
sehingga jika ditelisik lebih jauh, dalam hujat dkk pasti mengandung suatu hal yang menjadi titik lemah objek, dan jika boleh sedikit memaksa, maka bisa diartikan hal-hal tersebut merupakan kritik yang tidak disampaikan sebagaimana harusnya.
lalu bagaimana dengan kritik itu sendiri?
kritik merupakan suatu hal yang baik jika ditempatkan pada kondisi yang tepat dan sesuai.
semisal, jika kita mengkritik seseorang yang mempunyai jiwa yang gigih, maka kritik tersebut akan membuat orang tersebut akan menyadari kekurangannya dan akan menjadi pelecut baginya untuk bangkit. Tapi, hal tersebut akan memberikan efek yang berkebalikan jika objek yang dikritik tidak memiliki kepribadian yang kuat, dalam artian tidak kuat akan kritik, maka hal tersebut akan mengendorkan semangatnya dalam melakukan sesuatu.
jika kritik bisa berakibat buruk? lalu bukannya lebih baik memberi saran?
sebagaimana kritik, saran pun akan memiliki blindspot yang berakibat pada tidak tersampaikannya sebuah saran yang kita inginkan.
semisal, kita memberi saran kepada seseorang yang sebenarnya sudah mempunyai solusi akan suatu masalah, dan ternyata saran yang kita sampaikan pun sebenarnya sudah diketahui oleh orang tersebut, maka akan timbul kemungkinan orang tersebut merasa tersindir atau terendahkan dengan adanya saran tersebut. jika bisa digambarkan mungkin suara hatinya akan berkata, “apaan sih, sok ngasih saran, saya juga tahu kali harus ngapain!”
Ok, saya akan lompat ke permasalahan lain. Tentang bagaimana seharusnya menyikapi segala suatu hal yang berkaitan dengan pemerintahan dan dengan sederet kebijakan nya.
tidak jarang kita sering menemui kritik, saran, masukan serta niat positif lainnya yang dimaksudkan untuk membantu atau mengingatkan pemerintah terkait dengan kebijakan nya. tidak jarang pula hal-hal pengingat tersebut diutarakan dalam ruang publik, yang berbagai macam orang bisa mengakses nya, dan tidak hanya itu, bahkan banyak pribadi-pribadi yang tidak sesuai kapasitas nya mengkritik habis-habisan segala hal yang berkaitan tentang pemerintahan di ranah publik yang sangat terbuka, tak lain dan tak bukan, dunia maya.
lalu apakah memberi kritik dkk tersebut salah?
memberikan pendapat pribadi akan kinerja pemerintah sebenarnya bukanlah sesuatu yang salah, akan tetapi dalam persepsi saya, implementasinya banyak mengandung ketidak tepatan.
dalam memberikan pendapat tentang kinerja pemerintah atau kritik, seharusnya dibarengi pengetahuan bagi subjek (pengkritik) akan dampak yang akan dihasilkannya, serta mempertimbangkan juga akan efek yang nantinya diterima masyarakat. pada hal ini, yang dimaksudkan adalah seberapa besar pengaruh subjek tersebut pada lingkungannya.
jika seseorang mempunyai pengaruh yang besar atau cenderung lebih diperhatikan oleh orang banyak, maka menjadi seharusnya lah orang tersebut lebih berhati-hati atau lebih menjaga tabiat atau perilakunya sehari-hari, terlebih jika sudah melontarkan suatu argumen. semakin besar seseorang maka akan semakin besar dampak yang akan ditimbulkannya, bahkan bisa jadi besarnya dampak tersebut sebelumnya tidak terduga dan tidak sesuai maksud orang tersebut.
lalu bagaimanakah seharusnya?
dalam pemberian kritik haruslah diperhatikan besar pengaruh yang akan ditimbulkan, dan seberapa besar kefektifan kritik tersebut jika dilontarkan.
dalam masyarakat yang menurut saya saat ini masih rentan nya kepribadian masing-masing individu nya, maka seharusnya lebih diperhatikan bagaimana penyampaian kritik yang baik, di manakah seharusnya menumpahkan kegelisahan-kegelisahan serta argumen tentang lingkungan sekitarnya, serta tentunya diperlukan niat yang baik dibalik penyampaian kritik tersebut.
akan menjadi sesuatu yang berbahaya, jika nantinya terlalu banyak kritik kepada pihak pemerintahan, sehingga bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat akan segala kebijakan-kebijakan pemerintah serta segala hal yang akan dilakukan pemerintah sebagaimana tugasnya.
pemerintah dalam pelaksanaannya sangat lah membutuhkan kepercayaan dari masyarakat, jika segala kritik akhirnya ditelan mentah-mentah oleh masyarakat tanpa dibarengi lilin harapan dan hal tersebut mendoktrin masyarakat bahwa sudah tidak ada hal baik lagi di pemerintahan, maka jangan terlalu berharap untuk lahirnya generasi optimis yang tidak tertelan budaya buruk akan pendahulu-pendahulu nya. Jika generasi tersebut sudah mengurungkan diri, lalu siapa nantinya yang menjadi kunci penyelesaian permasalahan yang ada?
Lalu masihkah kita harus mengkritik dengan membabi buta?













