Aku duduk di meja kamarku. Kurebahkan punggungku di atas ranjang. Masih dengan perasaan gelisah saat itu, lalu pandanganku tertuju pada sebuah buku yang terletak di baris kedua di pojok kiri, dengan cover tebal berwarna putih bermotif bunga mawar.
Aku membukanya lembar demi lembar. Banyak coretan saat aku berada di pesantren, tahun 2013. Aku terus membuka dan membaca setiap lembarnya. “Kapan aku nulis kayak gini?”, tanyaku dalam hati sembari tersenyum. Ada sesi curcol, coretan dari teman-teman, muhasabah diri, doa-doa, pengeluaran uang, list kegiatan, list buku-buku bacaan yang lagi dipinjam, list hutang-piutang, target nilai yang nyatanya jauh dari ekspektasi, target jangka pendek yang lebih banyak tidak istiqomahnya, target jangka panjang yang fifty fifty belum tercapai semua, sampai ada gambar-gambar dan tulisan balok yang awkward banget. Lembar pertama, ketiga dari seratus target jangka panjang, “Lulus dari pesantren minimal 10 juz”. Sebegitu semangatnya dulu, padahal sampai sekarangpun belum terlampaui. Bahkan aku tidak ingat jika aku pernah berkeinginan kuliah di ITS. “Padahal aku paling ogah sama eksak”, pikirku dalam hati, masih dengan bibir yang kutarik dari dua sisi.
Ada sebuah surat di tengah-tengah buku. Aku ingat, itu tulisan ayah. Ayah pernah memberiku sebuah buku, kalau tidak salah judulnya, “Bepikir dan Berjiwa Besar”. Buku motivasi karya david -entah david siapa aku lupa, sepertinya ada di surat bagian kedua-, ukurannya sedang dan lumayan tebal dengan hard cover. Aku pernah membacanya hanya sekali, belum sampai selesai. Merupakan buku yang terlalu berat apabila dibaca anak gadis yang masih berusia 16 tahun. Ada dua surat, ayah memberi judul pada surat tersebut “Buku dan Kehidupan”.
Aku dan ayah memang banyak memiliki kesamaan yang berkaitan dengan akademik. Akan tetapi, aku tidak pernah merasa cocok jika bersama dengan ayah. Ayah berwatak melankolis koleris, sedangkan aku koleris sanguinis. Sifat koleris yang seringkali membuat kami tidak akur. Terlebih lagi sisi sanguinis dan melankolis yang sungguh bertolak belakang. Ayah seringkali berbicara tentang hal-hal dunia yang bersifat idealis, liberalis, nasionalis, sosialis, bahkan terpengaruh pemikiran-pemikiran barat. Sedangkan aku lebih suka tentang hal yang berkaitan dengan religi dan kisah-kisah Islami. Lambat laun aku sadar akan didikan ayah yang disiplin dan keras, kini banyak mengubah banyak hal pada diriku. Aku mulai bisa mengambil sisi positif dari pemikiran-pemikiran ayah yang kadang terkesan duniawi. Dari watak koleris yang ‘terlihat’ kuat dan baik-baik saja, aku bisa memperluas pandanganku, bahwa seseorang yang gemar menulis juga memiliki sisi kelembutan yang jarang disadari oleh orang lain.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur kepada Allah. Sungguh sulit dan harus memulai dari mana untuk menulis surat buat anakku yang telah menginjak dewasa. Karena itu, aku membuat judul “Buku dan Kehidupan”. Ini hanya untuk memudahkan memulai.
Buku dan Kehidupan. Hal ini yang dicontohkan Rasulullah saat menerima kenabiannya, ketika didatangi Malaikat Jibril. “Bacalah”, berarti secara harfiah kita harus membaca. Ya, membaca tulisan dalam arti yang sempit dan membaca alam semesta beserta seluruh gerak isinya dalam arti yang luas. Ya, Nabi pun membaca satu demi satu halaman dalam Al Qur’an untuk membuat kehidupan yang baru. Kehidupan yang membawa ke jaman baru keluar dari era kegelapan. Era dimana tidak ada perbudakan, jaman dimana anak perempuan dihargai dan dihormati, era dimana ada perlindungan terhadap si miskin dan si fakir, dan sebagainya, yakni era yang disebut sebagai jaman jahiliah tidak ada lagi. Ya, lebih penting lagi era pengakuan dan penyembahan terhadap Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusanNya.
Anakku, “Buku dan Kehidupan” mengingatkan ayah pada pepatah “Lima tahun kedepan tergantung dari teman yang kamu pilih dan buku yang kamu baca”. Ada beberapa hal jenis buku, yakni buku yang memberikan pengetahuan, buku yang membuka wawasan/ilmu, dan buku yang menggerakkan hati untuk melakukan suatu perubahan dalam kehidupan. Demikian pula tingkatan seseorang dalam membaca buku diawali untuk sekedar tahu, dari sekedar tahu berkembang menjadi ilmu atau wawasan, lalu selanjutnya dari wawasan itu mengubah pikiran, dan kemudian menggerakkan seseorang untuk bertindak, sesuai dengan hati yang telah disadarkan. Tindakan-tindakan itu akan melahirkan kebiasaan, dan kemudian kebiasaan itu akan menciptakan nasib atau jalan hidup seseorang.
Anakku, aku tidak tahu apakah kamu paham apa yang ayah tuliskan sebelumnya. Meski kau belum paham tetap baca saja. Baca berkali-kali juga tidak apa-apa. Sama seperti kita membaca buku terkadang bisa lebih dari dua kali, tiga kali, atau setiap kali membutuhkan. Ayah pun sering membaca buku berulang-ulang ketika ayah sedang membutuhkan nasehat, inspirasi, atau motivasi dari kata-kata yang bijak dan penuh arti.
Anakku, ayah sangat senang kamu baca buku. Ayah gembira sekali kamu menghabiskan waktu luang dengan membaca buku. Ya, buku adalah teman yang tak pernah menyinggung perasaan kita. Buku adalah guru yang tak akan marah bila kita tidak suka. Buku adalah hiburan, wisata hati, dan gelora kita. Bergaul dengan buku memang terkadang mengasyikkan, juga menenggelamkan kita dalam kesibukan yang lebih bermakna dan bersantai. Membaca buku dapat membuat kita penuh. Membaca juga membuat kita lebih bermakna.
Anakku, ayah juga sangat bangga dengan hobimu membaca buku. Itu adalah langkah awal kamu akan jadi orang yang lebih bermakna. Langkah awal kamu menjadi orang besar. Banyak tokoh-tokoh besar lahir dan muncul karena membaca buku. Ya, buku tentang apa saja. Buku sejarah, buku pengetahuan sosial, biografi, novel, roman, dan sebagainya. Kamu kenal Bung Karno, atau Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, adalah orang gemar membaca buku saat masih muda/usia SMA. Buku-buku itu membawa semangat dalam dirinya untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Kalau kamu baca sejarah Indonesia, kamu tahu negara ini didirikan oleh orang-orang yang di masa mudanya gemar membaca buku. Selain Bung Karno, juga Bung Hatta, Syahrir, M. Natsir, Buya Hamka dan sebagainya.
Itu dulu ya dari ayah, sekarang sudah hampir jam 2 pagi. Ayah tidur dulu, besok kalau ada waktu ayah akan nulis lagi. Sepertinya tetap dengan tema “Buku dan Kehidupan”. See you.
Sedati, 21/1 ’13 02.00 wib