IECC for Indonesia : Sebuah Cerita Petualangan Terlipat Rapi Dalam Sebuah Kenangan
Panas sang surya membakar bumi dengan megahnya. Beberapa orang, masih sibuk memindahkan barang-barang yang tidak terlalu berat dari dermaga menuju perahu motor yang kukira sudah lapuk dan tidak lagi kuat menahan beban beberapa dus buku hasil donasi beberapa orang yang peduli, tabung gas kecil, galon-galon berisi air minum, bahan makanan dan perlengkapan lainnya yang kukira sangatlah rumit untuk dijelaskan satu per satu mengapa aku dan beberapa orang yang tersisa masih bersusah payah untuk mengangkat barang-barang tersebut ke dalam perahu. Setelah selesai dan rapi, aku segera naik ke perahu, disusul oleh beberapa orang tersisa, ya, mereka yang juga akan berpetualang di suatu desa terpencil dibalik rimbun pepohonan mangrove dan derasnya sungai, ah, aku tak tahu apa nama sungainya.
Perlahan perahu itu ke tengah sungai, deru mesin berbahan bakar solar membelah sungai. Mengusir burung-burung yang asyik bercengkrama di atas daun-daun eceng gondok untuk pergi menjauh. Beberapa perahu lain yang datang dari arah berlawanan atau bahkan menyalip laju perahu kami, seakan menyapa dan tersenyum. Bismillahirrahmanirrahim.
Satu jam perjalanan di atas air yang menakutkan, dari bayang-bayang adanya buaya dari cerita penduduk sekitar dan candaan keberadaan ular anaconda dari teman-teman. Ah, sekedar pengusir kantuk agar tetap waspada. Kami tiba di satu desa, jauh dari hingar bingar kendaraan roda empat, sepi, tenang, menyejukkan. Kami disambut suara adzan dari masjid di desa tersebut. Subahannallah.
Hari pertama di desa tersebut kami isi dengan mengenali lingkungan dan berkenalan dengan warga, senangnya kami disambut baik disana. Tawa canda anak-anak kecil yang menghiasi sore hari kami, atau teriakan kecil mereka saat mereka bingung untuk mengerjakan tugas dari sekolah. Adik-adik itu sangat bersemangat untuk menyambut kami. Menyambut pengabdian singkat kami. Malam hari yang dingin, menguatkanku untuk kembali menyambut pagi penuh kejutan esok hari. Hari kedua dan seterusnya tidak kalah seru. Tepuk tangan meriah para warga dalam acara Pembukaan IECC for Indonesia mengundang sedikit kebanggan kami bisa berada disana bersama mereka, bersama laju air pasang yang semakin tinggi di hari-hari selanjutnya. kaki kami tidak pernah kering, seiring adzan yang mengiringi kegiatan kami,tiap percik air wudhu yang membersihkan hati kami, doa kami selalu tertuju pada satu yaitu untuk kelancaran acara kami dan kebermanfaatan di dalamnya.
Kelas Inspirasi, kelas sederhana itu menjadi saksi semangat mereka, baju seragam itu akan menjadi saksi perjalanan mereka, guru, dokter, pemain sepak bola, apapun cita-cita mereka, aku merasa tidak pernah memiliki cita-cita setulus dan setinggi cita-cita mereka, aku hampir menangis mendengar cerita-cerita mereka dari beberapa teman lainnya.
Ya Allah, betapa murni keinginan mereka, semoga engkau membukakan jalan pada setiap keikhlasan niat dan usaha mereka.
Sekolah Alam. Ah, aku ingin tertawa terbahak-bahak rasanya mendengar celotehan mereka, adik-adik kecilku, saat melakukan perkenalan singkat, dan menyebutkan cita-cita mereka, lagi-lagi aku terharu, akan semangat mereka, saat aku lontarkan beberapa pertanyaan, belum selesai, namun mereka sudah dengan semangat mengangkat tangan dan maju beberapa langkah seakan takut tidak aku tunjuk untuk menjawab pertanyaan dariku. Padang rumput yang diapit tambak di kanan, kiri depan belakang, di sore hari, langit biru oranye cerah menjelang senja di ufuk barat, menjadi pemandangan tak terlupakan bersama mereka, bersama semangat mereka. Perjalanan kami belum lagi selesai, berjalan diatas pematang ladang, diatara tambak ikan yang luas menuju satu rumah penduduk yang menjadi tempat persinggahan kami melepas lelah dan beberapa cerita dari masing-masing diri, bersiap untuk mendengar cerita mereka lagi lewat satu acara lain
Story Telling : Cinta Tanah Air.
Teriakannya kian keras, perselisihan singkat, saling tertawa, berkejar-kejaran, ah, ternyata mereka sudah mengisi energinya kembali untuk kembali bercerita dengan kami. Dengan beberapa jurus yang kumiliki, aku membuat mereka diam, bersiap kembali mendengar ceria tanah air. Bangga rasanya mereka dengan cermat dan teliti menyebutkan satu per satu nama tokoh pahlawan yang terpampang di presentasi interaktif kami. Mereka saling berebutan menjawab nama-nama pulau dan kota, baju adat, senjata adat, bergantian menyanyikan lagu-lagu daerah, lagu-lagu wajib, tak ada lagi keraguan akan kecintaan mereka pada Indonesia.
Meskipun keberadaan mereka yang tidak tampak dalam peta, pendidikan mereka sedikit diabaikan, dan akses perjalanan yag sangat mahal, dibalik itu semua, usaha mereka untuk bertahan, untuk terus bersekolah, tak pernah surut, tak layaknya air pasang yang kian hari kian meninggi, namun surut seiring meningginya matahari, dan pergerakan bulan. Tidak, sekuat karang, semangat yang mereka bangun.
Semoga apa yang kami titipkan, sekardus buku, yang kami letakkan di rak sederhana, cerita-cerita kepahlawanan, canda tawa, bendera-bendera merah putih plastik, botol-botol yang kita hias bersama untuk menjadi celengan cantik, tepuk tangan meriah kalian, acara memancing bersama, bersepeda, bermain air sampai tercebur bersama di kolam tetangga, akan menjadi secuil kisah petualangan dalam buku harian kita bersama, entahlah, foto digital atau video-video itu ataukah ilmu yang bermanfaat yang akan menjadi saksinya, namun Allah mengetahui semua yang kami lakukan. Semoga niat tulus kami akan bisa menjadi penyemangat dan sedikit tambahan motivasi untuk terus mengejar mimpi-mimpi kalian.
Dreams high, do not afraid to be falling, because it won't hurt as you do not try at all.
Notes from IECC for Indonesia
Dusun Kepetingan Desa Sawahan Buduran Sidoarjo
20-23 Juni 2013
BEM ITS - BSO IECC - ITS Mengajar
visit us on :
https://www.facebook.com/pages/ITS-Mengajar/200528876718721?fref=ts