Terkadang kita merasa diri kita sangat besar, jika di skalakan pada angka tertinggi adalah sembilan. Pernahkah kita berpikir bahwa angka sembilan tidak akan bernilai lebih besar jika tidak ada angka delapan, pernahkah kita berpikir nilai 8 tidak akan menjadi lebih besar jika tidak angka 7, angka 7 tidak akan bernilai lebih besar jika tidak ada nilai 6, begitu juga nilai 5,4,3,2 dan 1 tidak akan pernah bernilai besar jika tidak tercipta angka 0.
Di dalam hidup kita tidak pernah penuh utuk berpikir, kita hanya melihat sebuah kebaikan. Ya sebuah kebaikan untuk diri sendiri. Ketika kita melihat warna putih, kita melupakan warna hitam, kita melupakan warna yang membuat warna putih terlihat lebih putih. Putih atau hitam, besar atau kecil, baik atau buruk hanyalah sebuah media penyampaian perasaan yang ada di dalam diri kita.
Kenyataannya di dalam kehidupan tidak ada putih yang benar putih dan hitam yang benar hitam, tidak ada yang keburukan dan kabaikan yang teramat.
Di dalam sebuah kala atau masa atau waktu, kehidupan terus berubah. Membentuk sebuah tatanannya sendiri pada setiap jaman. Kebaikan dan keburukan menjadi relatif setiap jamannya. Kebaikan pada masa lalu belum tentu penuh bisa baik di masa sekarang, kebaikan di masa sekarang belum tentu penuh terlihat baik di masa mendatang.
Demikian kebaikan dan keburukan terjadi di setiap jamannya. Tidak ada kebaikan dan keburukan yang mutlak, karena yang mutlak itu hanya sebuah kebenaran, kebenaran yang bersemayam di dalam hati setiap insan. Kebenaran menyatakan kebaikan itu baik, dan kebenaran yang menyatakan keburukan itu buruk.
Untuk melihat kebenaran itu, lihatlah jauh ke dalam hati, karena kebenaran itu sesungguhnya tidak pernah terpengaruh oleh apapun. Baik yang kamu lihat, kamu dengar, atau yang kamu rasakan dari luar dirimu. Kebenaran itu ada di dalam hatimu, tidak pernah berubah, tidak bergerak dan akan selalu ada di dalam hati setiap insan.