kali ini aku hanya akan mampir saja, karena menetap aku tak kuasa
demiisuga
No title available

⁂
DEAR READER

blake kathryn
No title available

❣ Chile in a Photography ❣
cherry valley forever
Sweet Seals For You, Always
Cosmic Funnies

pixel skylines
noise dept.
he wasn't even looking at me and he found me

izzy's playlists!
official daine visual archive
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

#extradirty
sheepfilms

PR's Tumblrdome
occasionally subtle
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
seen from Chile
seen from United Kingdom

seen from India

seen from Luxembourg

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Lithuania
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Spain

seen from United States
seen from Egypt
seen from United States
seen from United States

seen from Spain

seen from United States
@bintang-malam
kali ini aku hanya akan mampir saja, karena menetap aku tak kuasa
demiisuga
Log in to your Tumblr account to start posting to your blog.
akun baru
Bila lelah istirahatlah sejenak, karena tubuhmu juga butuh jeda untuk pulih dari hiruk pikuk duniawi
(via sejutaasa)
Rindu
Tadi pagi aku melewati tempat pertemuan kita
Gedung berwarna putih yang mulai memudar adalah saksi bisu kita
Disanalah awal mula senyum kita merekah
Disanalah awal mula tawa kita saling bersambut
Disanalah janji kita terukir
Dan disanalah janji kita perlahan memudar
Kini entah sudah tahun keberapa sejak pertemuan terakhir kita di lorong-lorong ruangan itu
Masih teringat jelas raut wajahmu saat kau mengelus kepala ku lembut
Masih teringat jelas raut wajahmu saat kau meminta maaf padaku
Dan masih teringat jelas di ingatan saat ku lihat kau memeluknya erat
Kecewa, rasa sakit yang bahkan air mata ku pun enggan jatuh karena rasa amarah yang lebih besar
Membuat ku enggan melangkah
Aku belum berdamai dengan masa lalu yang kau ukir dulu
Sesekali ku tatap erat layar handphone ku
Disana tergambar jelas senyum manis dan lesung pipi mu
Andai waktu bisa ku putar kembali
Aku ingin sedikit lebih peka
Aku ingin kau bertanya padaku sebelum kau mempercayai omongan mereka
Aku ingin menunjukkan seberapa besar rasa sayangku padamu
Karena harus ku akui, aku lemah saat didepan mu
Hati ku bergetar
Bahkan kadang menatap mata mu pun aku tak sanggup
Aku rindu saat kau berada di dekat ku
Aku rindu saat kau menatapku
Aku rindu saat kau menggodaku
Aku rindu saat kau tersenyum manis di depan ku
Aku rindu segala keusilan dan manja nya dirimu
Dan aku rindu segala tentang mu.
Semoga harapan baik selalu terkabulkan
kamu takut akan bayanganmu sendiri
(Aku) Kenapa?
Ada yang mengaku “baik-baik saja” padahal hatinya hancur berhamburan bagai kaca terhempas. Lalu ada yang mengaku “tidak rindu” padahal rindu. Ada yang mengaku benci padahal cinta, pun sebaliknya.
Mengapa beberapa orang memilih berdusta padahal ia tau yang sesungguhnya? Bahagiakah yang ia dapat atau justru sebaliknya? Entah apa yang ada dipikiran mereka? Bukan mereka saja tapi mungkinkah juga itu ° ° ° aku, entahlah.
Kau Bawa Pergi...
Senja kala itu menawarkan keindahan yang berbeda Warna jingga diufuk barat mampu membuat kita terpaku akan indahnya Seperti janjimu yang membuatku tak bergeming hingga kini Kau yang saat itu duduk diatas motor dengan tas ransel dipundakmu Memintaku untuk menyambut tanganmu Teringat dengan jelas senyum manismu kala itu “Dek, tunggu abang yaa...”, katamu Aku yang mengerti maksudmu lantas meng-IYA-kan permintaanmu “Tunggu, abang pasti datang.”, lanjutmu Aku yang tersipu malu hanya bisa mengembangkan senyum dibibirku Lalu kurasakan tanganmu menyentuh lembut kepalaku Aku terlena... Tiga bulan berlalu, Kita tiba-tiba bertemu dipersimpangan jalan itu Masih teringat jelas diingatan baju kaos hitam dibalut kemeja kotak-kotak merah dengan kancing sengaja terbuka yang kau pakai malam itu telah menjadi saksi bisu atas kepergianmu “Hati-hati dijalan, katamu.” Bagiku itu hal biasa yang kita lakukan disetiap akhir pertemuan kita, tapi mungkin berbeda dengan malam itu Itu adalah saat dimana untuk terakhir kalinya aku melihat senyum manis yang biasa kau beri untukku perlahan pergi
Aku sibuk mencari Terdengar suara “Maaf nomor yang anda tuju tidak menjawab” disetiap akhir panggilanku Aku kehilangan arah jalan pulang, aku tersesat... Janji yang kau ucapkan memberiku jalan berbeda Aku berjalan dijalan yang gelap, sepi, berliku, dan dingin Memeluk erat tubuh adalah cara terbaikku melawan rasa sepi dan dingin Banyak yang datang menawarkan kehangatan, namun aku menolak Aku hanya ingin menepati janji yang telah kita sepakati bersama Aku menunggu karena aku yakin kau akan datang Hari-hariku kuhabiskan dengan menyibukkan diri Kubuat tubuhku terlalu lelah hingga malam agar tidak ada terlintas wajahmu dibenakku
Kini setelah sekian lama aku menunggu Bergelut melawan diri sendiri Menutup mata, telinga, mulut dan hati dari kenyataan Akhirnya inilah ujung dari penantian dan kesabaranku Mungkin seharusnya kala itu kuberikan batas waktu untuk kau bisa menepati janji agar aku tidak terlalu lama menunggu Seharusnya, ah sudahlah tidak perlu kusesali waktu yang telah lama ku sia-siakan Bagiku semua adalah pembelajaran, bahwa tidak semua orang bisa menepati janjinya Tapi satu hal yang perlu kau tau Bahwa saat itu telah kau bawa pergi seluruh jiwa dari ragaku...
Sebelum Membenci
Malam kian dingin, dan kita saling memandang. Namun pikiran kita tidak sejalan, kosong... Kita hanya saling bertatap kosong, hening... Hanya deburan ombak yang terdengar seakan sibuk mempertanyakan kita.
Sebelum kita membenci mari kita renungkan mulai awal kita jumpa. Mengingat kembali apa yang terjadi dan kita rasakan. Kamu, seseorang yang mampu menerobos ego ku dengan senyummu. Yang membantuku melupakan sejenak luka yang tercipta saat itu. Satu bulan, dua bulan, 3 bulan, dan kini sudah 3 tahun lebih berlalu. Telah banyak kenangan tercipta, senyum canda tawa dan kekesalan hingga berujung kekecewaan.
Akhirnya kita sadar bahwa melanjutkan hanya akan menambah beban rasa. Karena bersama bukanlah milik kita. Kita memilih jalan berbeda dan melangkah dengan pundak yang saling berhadapan sambil menggenggam segala kenangan yang ada, itulah kita sekarang.
Sebelum kita membenci mari kita menerima segala kenangan. Bahwa kita adalah kenangan yang pernah indah pada masanya. Jangan mengutuk semesta yang telah memberi kita banyak waktu dan kenangan bersama. Tapi bersyukurlah bahwa kita mampu melewati dan mengakhiri dengan senyum keikhlasan...
Karena hidup adalah tentang penerimaan.
Setelah sekian lama
Aku Bisa Sulap
“Boleh kita ketemu? Aku kangen.”
Kau tak menjawab. Ada jeda lama namun bisa kudengar helaan napasmu di telepon itu. Aku sengaja tak mengulangnya, mencoba memberikanmu waktu untuk berpikir atas ajakanku barusan.
“Aku nggak bisa.” Akhirnya kau angkat bicara.
Dan kini aku yang terdiam.
“Aku bisa meramal. Tapi bukan garis tangan, melainkan garis pipi. Mau kuramal?”
Kau tertawa.
“Enggak ah! Nggak perlu diramal juga aku bisa bahagia.”
“Tapi aku enggak.”
“Enggak apa?”
“Nggak bahagia kalau kamu nggak mau diramal.” Kataku.
Lagi-lagi kau tak menjawab. Kau hanya sesekali mengeluarkan napas lebih banyak seperti sedang menahan tawa di sana.
“Aku kangen. Tapi aku bisa sulap.” Aku melanjutkan.
“Sulap apa?” Kau penasaran.
“Aku bisa mempersingkat waktu.”
“Ah aku nggak percaya.”
“Coba lihat ke luar jendela. Aku sudah ada di sana.”
Tiba-tiba telepon itu kau tutup sepihak dan kau keluar dari pintu lalu terkejut melihat ternyata aku sudah ada di sana dari lama. Mukamu memperlihatkan mimik penuh tanya, seakan sedang menghitung kenekatanku untuk menjemputmu pergi yang padahal kau sendiri belum mengiyakan.
“Mau apa ke sini?” Tanyamu sambil berdiri di sebrang pagar.
“Mau meramal garis pipi.”
Kau kembali tertawa.
“Gimana? Aku berhasil sulap kan?” Tanyaku.
“Oke oke, untuk kali ini kamu berhasil.”
“Aku bisa sulap lagi.”
“Apaan?” Kau penasaran dan memajukan satu langkah lebih dekat.
“Aku bisa membuatmu mengiyakan ajakanku pergi malam ini.”
“Hahahaha! Coba saja!”
Aku ketawa lalu menurunkan standar motorku dan beranjak pergi dari situ. Kau terheran melihatku dari jauh. Aku mengeluarkan teleponku sekali lagi. Ada lebih dari 3 menit aku berdiam di sana melihatmu dari jauh. Sebelum kemudian aku kembali mendekat ke arahmu.
“Ngapain tadi?”
“Sulap!” Jawabku tegas.
“Apaan sih? Aku nggak ngerti.”
“Tunggu saja.”
Tiba-tiba setelah kalimat itu berakhir, ibumu keluar dari dalam rumah dan menyapa kita berdua.
“Loh ndak jadi pergi?” Kata ibumu. Kau terkejut.
“Pergi kemana ai ibu?” Kau bertanya.
“Loh, tadi kan sudah izin sama ibu, lewat telepon pula. Sana keluar, kasihan katanya sudah nunggu lebih dari tiga jam di depan pintu tapi kamu nggak keluar-keluar. Dia juga bilang katanya kalian harus ada survey buat tugas kampus. Gih cepetan, jangan malam-malam tapi ya.” Kata Ibumu seraya berlalu kembali ke dalam rumah.
Kau masih terkejut lalu memalingkan wajahmu ke arahku. Sedangkan aku cuma bisa tersenyum lebar.
“Aku bisa sulap.” Kataku.
Dan kau tertawa sambil bersiap-siap menaiki motorku.
Baper adek bang😅
Aku giat menantikanmu diantara lengangnya gawai dan tulisan online yang tertera pada profil WhatsApp-mu. Berharap penuh delusi, menantikan sebuah notifikasi.
Namun, rasa kecewa yang malah hadir menyapa. Nyatanya, online-mu bukan hanya untukku dan bukan tertuju padaku. Ada seseorang yang lebih bermakna kehadirannya bagimu; ada seseorang yang lebih kamu prioritaskan agar selalu mengisi waktu luangmu.
Dan itu bukan aku.
— Arief Aumar Purwanto
Tidak ada kata menyerah, terus lawan rasa malas dan pesimis yang ada. Karena musuh terbesar kita ialah diri kita sendiri.
Usai Sebelum Dimulai
Setiap kali kau menyebut namanya, sialnya hatiku menjadi tak karuan. Mengetahui kau tak pernah menaruh rasa padaku saja, aku sudah berantakan. Lalu sekarang aku harus pura-pura menampilkan senyumku di tiap namanya muncul dan kau seperti bahagia menceritakannya.
Aku tau ini bukan salahnya jika ia menjadi pilihanmu. Pilihan orang yang aku pilih dari semua yang mencoba datang dan meminta hatiku. Mungkin kau menemukan bahagia yang selama ini kau cari yang tak kau temukan ketika bersamaku. Dan harus sehancur apa lagi aku untuk mau mengakui bahwa aku tak memiliki sesuatu yang bisa membuatmu merasa nyaman untuk memilihku.
Ini bukan salahnya, pun aku tak menyalahkannya. Karena biar bagaimanapun ini tetap kesalahanku.
Kita, adalah sesuatu yang harus berakhir. Yang padahal belum pernah dimulai sama sekali.
Nyatanya pertemuan bukan mengurangi rasa rindu, justru membuat ia semakin bergemuruh. Ah aku rindu... P.s
Jangan tertipu Aku tidak sebaik dan sekuat itu Aku juga tidak setegar seperti kata orang-orang. Hanya saja, Kalian tidak pernah tahu sebanyak apa airmataku menderas ditiap malamnya diatas sajadah. Kalian tidak pernah tahu sesering apa aku merasakan sesak ditiap kesempatan. Kalian tidak pernah tahu seburuk apa perjalanan yang aku lalui ditiap harinya. Yang ketika keluar rumah-aku bahkan enggan untuk pulang. Aku hanya ingin berlama-lama di rumah Tuhanku. Tidak ingin kemana-mana dan tak mau menemui siapapun selain Dia. Namun hidup selalu tidak sejalan dengan apa yang dibayangkan dan diinginkan. Ketahuilah bahwa tidak ada yang mampu memahami kita lebih baik daripada Allah. Tidak ada yang mampu mengerti kita selain daripada Pencipta. . Untuk itu, aku hanya mampu menyalurkan segalanya dalam sholat. Menghubungi Allah secepat yang aku bisa. Mengadukan kepada-Nya seburuk apa perlakuan hamba-Nya terhadapku. Sakit hati?! Tidak perlu ditanyakan lagi. Akulah ahlinya dalam bersembunyi. Menyembunyikan segala pedih dalam sebuah kotak kesabaran. Menangis?! Ini adalah kebiasaan burukku. Sehabis sholat. Ketika berdoa. Di aaat bahagia. Terlebih saat terluka . – Aku makhluk lemah, kawan. Ibadahku tidak ada apa-apanya di bandingkan mereka Perilaku-ku pun masih jauh dari kata bijak . . Walau begitu; Tak pernah lelah aku mengupayakan segala hal baik hanya untuk mendapat keridhaan-Nya Sebab, tujuan utama bukanlah dunia. . @gadisturatea
Dewasa itu bukan tentang umur. Tapi lebih kepada seberapa ia mampu menghadapi segala hal dengan kepala dingin, tanpa ego berlebihan.