Nurut saja apa kata orang tua, ...
Gak pernah terbayang , akhirnya bisa punya mini rak buku sendiri untuk kumpulan buku-buku yang telah atau akan segera ku lahap. Perpustakaan dan toko buku adalah tempat destinasi utama yang selalu aku kunjungi. Niatan awalnya, sekedar ingin melihat-lihat saja update-an buku-buku terbaru. Ujung-ujungnya, berakhir di kasir dan ada 1 oleh-oleh yang dibawa pulang. Hehe
Kebiasaan ini bermula sejak 12 tahun yang lalu, ketika masih menjadi siswa SD. Pada masa itu, permainan waktu luang ku kalau tidak menonton kartun yaa baca buku. Kebiasaan ini timbul hasil didikan yang lumayan cukup keras oleh kakek ku. Kalau diingat-ingat waktu mau daftar SD, hampir setiap subuh disuruh untuk belajar membaca, agar lulus kata beliau. Singkat cerita, saat duduk di bangku SD buku kesukaan ku tentu saja komik. Namaku Miiko, Doraemon, dan Shincan. Selera anak-anak lah ya. Kesemua itu, aku meminjam kepada teman-teman ku. Kenapa? Karena kakek ku tidak suka buku komik. Beliau berkata “untuk apa baca begituan (komik) tidak ada manfaatnya. Mending baca buku-buku pelajaran” , alhasil hanya mengheningkan cipta yang bisa ku lakukan. Selain komik, buku pelajaran SD juga suka ku baca. Karena, tulisannya besar, banyak gambar, dan berwarna (masih selera anak-anak). Hal-hal kecil ini merupakan awal timbul minat baca dari diriku.
Berlanjut di bangku SMP menginjak usia remaja, novel merupakan buku yang sangat kusukai. Disini perlahan aku mulai belajar membaca buku tebal, non gambar dan semua tulisan di setiap halaman. Pun ini membantu ku dalam berimajinasi serta menumbuhkan rasa emosional di setiap cerita. Lagi-lagi, aku harus meminjam novel tersebut kepada temanku. Kakekku masih belum merestuinya. Tak apa. Sampai pada akhirnya, buku pertama yang ku beli dari Gramedia adalah buku KKPK (Kecil-kecil Punya Karya) atau Pink Berry –masih ingat kan yaa sama buku yang hits pada zamannya, hehe– yang dengan beragam argumen untuk meyakinkan, bisa ku bawa pulang kerumah. Berhasil!
Dari sikap beliau dan pun dengan kedua orang tua ku yang sangat perlu tahu tipe dan tentang apa buku yang ku baca, itu berdampak padaku hingga sekarang. Aku baru tahu dan merasakannya ketika beranjak dewasa bahwa setiap informasi yang didapat, pengetahuan yang dibaca dan berita yang diterima itu berdampak pada pola pikir seseorang. Dari pola pikir tersebut akan mempengaruhi tindakan yang berakhir dengan kebiasaan.
Jenis buku yang ku baca sekarang seperti novel fiksi, buku terkait dengan Islam, dan self-improvement. Aku lebih selektif dalam memilih buku bacaan, dimana poin utama buku tersebut –sekalipun novel– bisa memiliki pesan dan pelajaran bagi para pembaca nya. Dari minat baca ini, timbul akan kesadaran dalam kecintaan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Penataan bahasa yang benar serta pemilihan diksi yang tepat, akan menghasilkan sebuah tulisan yang indah. Sederhana, namun sarat akan makna. Kesemua hal ini dinamakan Literasi. Keterampilan dalam membaca, menulis, dan berbicara dengan kemampuan berbahasa yang dimiliki. Dari itu semua hingga menulis tulisan ini sekarang, akibat dari membaca.
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman yang artinya :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” – Q.S Al-Isra : 23(5)
Sebagai anak yang berbakti, nurut saja apa kata orang tua. Ibu, bapak, kakek, nenek, guru dan yang lebih tua dan paham sebelum kita. Walaupun perintah itu berlawanan dengan pemahaman kita, pastilah itu hal baik yang mereka sampaikan untuk kedepannya.
Mari membudayakan literasi. Untuk menjadi generasi “air tenang menghanyutkan” daripada “air beriak tanda tak dalam”.