Maaf. Aku Pergi.
Hari ini, genap dua bulan sudah kita saling mengenal. Meski baru 60+ hari, tapi banyak sekali yang sudah kita saling ceritakan. Setiap hari mulai malam berganti fajar. Hari ini pun, aku memutuskan untuk pergi dari kehidupan seseorang. Hidupmu. Aku akan lenyap dari segala tentangmu, sembunyi dari apapun yang berkaitan dengan hidupmu,menghilang dari alur cerita yang pernah Tuhan gariskan, aku benar-benar akan pergi.
Kau hanya perlu tahu, tidak mudah bagiku meninggalkan (si)apa yang telah membuatku nyaman, merasakan kasih sayang, menjadi tempatku berkongsi cerita. Pergi dari hidup seseorang bukanlah keahlianku ketika aku teringat percakapan kita di malam-malam lalu. Namun memutuskan untuk pergi dari hidupmu tidak kupikirkan sekali saja, aku telah memikirkan ini berulangkali.
Ini hari pertama aku pergi, tak ada lagi saling mencari, serupa kamu yang tak mencariku sejak kemarin, ‘kan? Esok dan seterusnya aku akan terbiasa tanpa cerita kita lagi.
Dan pada akhirnya, aku memutuskan cara ini. Pergi untuk menyelamatkan kita. Bukan kita, tapi untuk menyelamatkan diriku sendiri. Asal kau tahu, aku pergi agar tidak merasakan sakitnya. Dan seperti ini caraku untuk menghilangkan segala memar yang telah kau beri tanpa kau sadari.
Kelak, jika aku sudah benar-benar sembuh dari perih keranamu, aku akan mengenang setiap kata di cerita kita kepada dia yang bersedia menjadi imamku nanti. Akan aku beritahu dia tentangmu dan kisah kita yang berjarak ribuan kilometer, lalu aku akan sangat berterima kasih kepadamu, kerana telah memberiku pengalaman tentang cinta yang tak hati-hati menjatuhkan hati.
Maka, aku pamit dari hidupmu. Hari ini, kita hanya sepenggal kisah yang telah usai.
Karawang, 27 Agustus 2017












