Memiliki harapan hanya akan memberi rasa sakit.
Biar saja jika kau pergi dan aku akan tetap tinggal.
22 Januari 2025,HK

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Poland
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Hong Kong SAR China
seen from Philippines
seen from Philippines
seen from United States
seen from China

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
Memiliki harapan hanya akan memberi rasa sakit.
Biar saja jika kau pergi dan aku akan tetap tinggal.
22 Januari 2025,HK
Romantisme Pernikahan
Ada banyak hal yang seharusnya kemudian membuat kita paham bahwa menikah itu tidak sesederhana "tipe lelaki idaman" kita seperti apa?
Tapi ternyata lebih dari itu. Ia lebih kompleks dari yang ditampilkan oleh banyak pasangan di dunia maya.
Menikah bukan hanya tentang romantisme yang ditampilkan pada banyak manusia. Atau perihal cumbu rayu bersama kekasih halal kita. Bukan!
Tapi lebih dari itu.
Karena menikah juga berarti menjaga.
Menjaga serapat mungkin rahasia-rahasia di dalam rumah. Menjaga dengan baik diri kita dan pasangan dari mata dunia. Menjaga dengan sungguh-sungguh romantisme yang ada hanya untuk kita berdua.
Karena menikah bukan hanya tentang bagaimana cara mengubah status menjadi sah kemudian bisa dipertontonkan pada banyak pasang mata.
Menikah itu ibadah penuh rahasia yang dilakukan berdua dan hanya Allah sebagai satu-satunya saksi kita.
Mengapa dikatakan rahasia?
Karena kita tidak pernah tahu, sepasang mata yang mana, yang menaruh hasad pada rumah tangga seseorang. Sepasang mata yang mana, yang justru menaruh dengki pada kebahagiaan seseorang.
Maka jika saja bisa disembunyikan dengan begitu rapat, tentu itu yang paling baik, bukan?
Karena tentang bahagia, siapalah mereka (manusia-manusia itu)? Tentunya mereka tidak memiliki kewenangan dalam memberi nilai perihal kebahagiaan seseorang, bukan?
Romantisme pernikahan itu baiknya dipertontonkan hanya pada anak-anak kita. Agar di kepala mereka tersimpan dengan baik kenangan orang tuanya yang senantiasa akur tanpa tengkar (meski tentu, selamanya tidak akan begitu). Hingga di kemudian hari, kenangan itu menjadi tolok ukur bagi mereka dalam membina keluarga.
Bukan malah diperlihatkan pada semua orang, pada rekan-rekan sejawat atau orang-orang asing yang terkoneksi dengan kita hanya dari kata "follow."
Jangan mau rumah tanggamu jadi konsumsi publik.
Kau hanya tidak tahu jumlah dari orang-orang yang memiliki penyakit hati di dalam dirinya.
Semoga kelak, jika kita tlah bersama. Kebahagiaan kita cukup ditampilkan di dalam rumah. Bukan malah bertebaran di layar kaca sosial media.
Sebab untuk aku yang pencemburu ini, rasanya tidak rela jika harus membiarkanmu dipuji oleh orang lain atas perilaku yang kau tunjukkan padaku di hadapan mereka.
Karena bagiku, untuk puji-pujian itu, kau lebih pantas mendengarnya langsung dariku. Bukan dari mereka.
Semoga kelak, kita benar-benar bersama.
12:43 a.m || 15 Juli 2020
Idul Adha
Sekilas kenangan tentangnya. Dulu, ketika masih berada di pondok pesantren, setiap hari raya idul adha ramai orang tua dan keluarga berdatangan mengunjungi anak-anak mereka dan merayakan moment idul adha bersama. Kecuali aku. 4 tahun berada di pondok pesantren, 3 kali merayakan hari raya idul adha di sana. Sekalipun tak pernah merayakannya dengan keluarga bahkan orang tua. Disaat teman-teman asyik menghabiskan seharian penuh dengan orang tua dan keluarga mereka, aku hanya duduk manis di kamar menyantap daging pemberian dari pondok. Namun, tentu saja aku tidak sendiri. Sebab ada banyak pula teman yang merasakan hal serupa seperti yang aku rasakan. Biasanya kita yang tidak dikunjungi oleh orang tua, menikmati moment idul adha dengan berkeliling kamar asrama. Kita menyebutnya dengan sebutan "open room". Kala itu orangtuaku tidak datang bukan karena tidak sayang. Namun karena jarak yang terlalu jauh serta ada hal yang tidak bisa mereka tinggalkan. Sedih? tentu saja pernah kurasakan. Namun aku bersyukur, sebab aku tidak sendiri. Aku bersama banyak teman yang juga rasakan yang sama. Aku bahagia. Dari hal itu aku belajar makna sebuah perjuangan. Berjuang jauh dari orangtua untuk menuntut ilmu jauh di sana.
Setelah lulus dari pondok pesantren, lagi-lagi aku tidak bisa merayakan idul adha dengan orang tua dan keluarga. Sebab dua tahun belakangan, aku harus merayakannya di kota perantauan, kota istimewa Yogyakarta. Tempat di mana aku berkuliah. Sedih sudah pasti. Namun lagi-lagi aku belajar tentang makna perjuangan dan keikhlasan. Allah tidak ingin aku berlarut dalam kesedihan. Allah berikan aku teman-teman seperantauan yang juga rasakan hal yang sama sepertiku; jauh dari keluarga saat moment idul adha. Tahun 2019 lalu aku merayakannya dengan agenda masak-masak di rumah salah seorang teman. Sederhana, dan aku bahagia. Meski raga tak bisa bersama kedua orang tua.
Alhamdulillah, tahun ini aku dapat merayakannya bersama kedua orang tua juga sanak saudara :"). Bagiku, indahnya idul adha adalah bukan hanya tentang makan bersama keluarga. Namun, seberapa besar rasa syukur kita dalam menyambut kedatangannya serta berbagi kepada sesama. Sebab kita tidak tahu apakah tahun depan masih dapat bersua dengan idul adha atau tidak? Maka selagi masih diberi kesempatan oleh Allah, aku ingin memaknainya dengan sebuah keikhlasan bagaimana dan dengan siapapun aku menyambutnya, setiap tahunnya. Sebagaimana ikhlasnya nabi ismail untuk disembelih demi melaksanakan perintah juga kecintaanya serta ketaatannya kepada Allah. MasyaAllah.
Semoga setiap tahunnya kita mampu mendekatkan diri dengan berqurban, tidak tahun ini mungkin tahun depan. InsyaAllah. Dan semoga kita tergolong orang yang pandai bersyukur, sebab jika kita bersyukur maka Allah akan tambahkan nikmat. [QS.Ibrahim:7]
Selamat Hari Raya Idul Adha 1441 H
@sahabatmblr
Masih tentang July lalu, sebuah kedekatan dimulai.
Mengisahkan sepercik cerita demi cerita,yang terangkai menjadi kisah. Aku, kamu lalu kemudian menjadi kita. Mulai dari obrolan ringan, diskusi senja, nonton bareng, dan juga ngopi santai.
Sayangnya, semua itu tak kudapati lagi. July tahun ini benar-benar berbeda. Aku, kamu yang mulai asing. tak ada kedekatan-kedekatan seperti tahun kemarin.
bila July lalu obrolan tiada henti, maka july ini ala-kadarnya. dimana kuberanikan diri menyapa lebih dulu sembari mengucap selamat atas hari kelahiranmu, memberi doa lalu mengaminkan tak lupa dibuntuti emoticon smile yang mewakili perasaanku. namun sayang, emoticon love tak kubiarkan disana juga, sebab aku tahu sudah tak pantas untuk memperlihatkannya, cukup kusimpan sendiri saja.
Namun sayang, aku tak bisa menyimpannya sendiri. biar kusimpan pada ujung tulisan ini, siapa tahu suatu saat kau akan membacanya. dan sekali lagi, selamat ulang tahun untuk dirimu yang sempat mengukir kisah di dalam memoriku walau dalam jangka waktu yang tak begitu lama tapi yakinlah kau tetap orang baik dalam ingatan, dan selalu begitu. sekali lagi selamat❤
Pada malam yang semakin larut. Ada seseorang yang sibuk mengeja takdir. Membayangkan perjalanan hidup yang selalu berjalan mulus, sesuai prasangkanya.
Namun nyatanya tidak demikian. Takdir yang dilakoninya tidak semulus dengan khayalan yang ia lukis dalam angan-angan. Seringkali ia menemui jalan buntu yang memaksa untuk berbalik arah.
Mimpi-mimpinya berceceran dalam lorong ingatan.
.
.
.
Kota Kuda
📝Cover Biru
Tentang Berbagi
Sore itu aku termenung. Pandanganku terarah pada mereka yang sibuk hilir mudik di salah satu sudut jalan pulang ke kos. Kedua sudut bibirku tertarik perlahan. Senyum kecilku terbentuk kala sebuah kenangan di lokasi itu melintas di benakku.
Dulu sekali, mungkin beberapa tahun lalu. Seorang gadis dalam perjalanannya menuju kampus tiba-tiba dikejutkan dengan motornya yang secara mendadak berhenti. Ia sedikit menepi dan mencoba terus untuk menghidupkannya. Namun, selelah-lelah ia mencoba, suara derum mesin motor tanda sudah menyala tetap tak terdengar. Membuatnya panik dan berkeringat. Makin paniklah ia saat menyadari kuota internet maupun pulsanya habis, membuatnya tak bisa menghubungi siapa-siapa.
Bagaimana dengan kuliahnya jika ia terlambat? Kalaupun ia memutuskan naik ojek online, bagaimana dengan motornya? Ia tak punya kenalan yang tinggal di dekat daerah situ, padahal ia berniat menitikannya jika bisa dan akan membawa motornya ke bengkel selepas kuliah. Ini masih terlalu pagi dan masih banyak bengkel yang tutup.
Tak lama, seorang bapak driver ojek online menghampirinya dan mencoba mengotak-atlk mesin motornya setelah gadis itu menceritakan apa yang terjadi. Beberapa kawan bapak tersebut, sesama driver ojek online yang lewat jalan itu, satu persatu ikutan menepi dan membantu. Sekitar empat orang. Berbagai cara dicoba, tetap si motor tak mau menyala. Gadis itu makin putus asa dan bingung sambil berkali-kali mengecek jam tangannya.
Salah seorang dari kawanan driver akhirnya mengusulkan pada gadis itu, mereka akan membawakan motornya ke bengkel terdekat yang buka. Gadis akan diantar salah satu mereka saja ke kampus, saat pulang kuliah akan dijemput dan diantar ke bengkel untuk mengambil motornya nanti. Alhamdulillah akhirnya ia dapat tiba di kelas sebelum jam masuk dan bertukar kontak dengan bapak driver yang mengantarnya.
Si gadis hampir menangis terharu dengan kebaikan para penolongnya. Hari itu ia sangat bersyukur dan pulang dengan motor yang sudah diperbaiki. Ia tinggal membayar biaya reparasinya. Bapak driver yang mengantar dan menjemputnya menolak diberikan uang.
Sejak saat itu, si gadis belajar banyak hal. Membantu orang lain, bermanfaat bagi orang lain, berbagi kebaikan pada orang lain, tidaklah harus memiliki banyak hal atau kekayaan materi. Sebab tak hanya materi yang bisa dibagi dan dipakai untuk membantu orang lain. Satu yang diperlukan adalah ketulusan dan keyakinan bahwa apa yang diberikan pada orang lain akan bernilai kebaikan dan kembali pada si pemberi. Tuhan akan membalas kebaikannya di saat yang lain. Barangkali ketika ia yang gantian tertimpa musibah atau kesulitan.
Berbagi ternyata bisa dilakukan oleh siapa saja. Tak mengenal batas usia atau kriteria. Sesederhana berbagi senyum tulus, bantuan seringan apapun, atau mengajar anak desa untuk mengaji dan membaca, adalah hal yang luar biasa. Mencurahkan segenap tenaga menjadi panitia kegiatan bermanfaat adalah juga hal yang mulia dan bermakna. Tuhan menciptakan kita dengan banyak potensi kebaikan, akan rugi jika hanya disimpan dan tak disalurkan untuk berbagi berbagai hal yang berdampak kebaikan bagi sekitar kita.
Gadis itu berjanji, akan terus berusaha menjadi pribadi yang mudah membantu orang lain dan suka berbagi.
Dan gadis itu adalah aku.
Aku masih membuka pintu, meski pintu yang terbuka itu seperempat. Aku masih suka mengintip dan mencari celah dari setiap lubang. Harap-harap ada berita bagus yang kudapat, entah itu baik atau buruk. Tak peduli, aku sudah kebal rasa. Hanya untuk mengetahui tentang dia.
Apakah aku telah membuka pintu yang seharusnya ditutup dan dikunci?
Mungkin ini caraku beranjak dari perasaan yang salah.
Kepada Duka dan Pilu di Kala itu
Hai, lama sudah tak kutengok dirimu. Apakabar? Liat aku, aku yang sekarang sangat berbeda dengan aku yang dulu bukan? Iya, kini aku sudah bahagia. Tak ada lagi pilu dan duka di waktu lalu yang kurasa kini. Dia sudah sirna seiring berjalannya waktu dan keadaan.
Kalau difikir aku dulu sangat bodoh yah? Terlalu naif. Memperjuangkan orang yg tak ingin di perjuangkan? Menunggu orang yang hati nya telah lama pergi bersama yang lain? Meratapi orang yang hanya dapat memberi luka?
Dulu aku terlalu yakin bahwa segala yang terjadi hanya cobaan untuk kami berdua. Tapi, the fact yang kuperjuangkan tengah memperjuangkan yang lain, yang ku tunggu telah pergi bersama yang lain kala itu, yang kuratapi terus-terus memberi luka, yang ku kira masih menyayangi ku ternyata ternyata sudah tak menyimpan ku di hatinya.. telah lama. Yang kumiliki hanya fisiknya, hatinya? entah berlabuh kemana. Dan kala itu aku masih menunggu, meratapi, memperjuangkannya dan mengharapkan kalau itu semua hanya mimpi dan segera berakhir. Tapi apa yang kudapat? Aku malah semakin terluka. Aku semakin jatuh.
Bodo yah aku dulu. Tapi, aku tak pernah menyesali kebodohanku itu sih, karena tanpa itu semua aku tidak akan bisa jadi aku yang sekarang. Kini aku telah menemukan kebahagiaan yang lain, kebahagiaan yang belum pernah kurasa kemarin. Dan akhirnya aku sadar bahwa apa yang kupertahankan bertahun-tahun kemarin adalah pelajaran dan pengalaman berharga dalam hidupku.
Terimakasih Duka dan Pilu, sudah menjadi teman ku kala itu. Dan terimakasih untuk pengalaman terbaiknya.
Karena pengalaman berarti itu berasal dari masalalu untuk menjadi baik di hari kemudian✨🦋🙂
•• •• ••
“Sebaik-baiknya rencana dan presepsi kita, Allah selalu tau apa yang terbaik untuk kita, maka dari itu kadang ia mematahkan hati kita dan memberikan kebahagiaan yang tak pernah kita duga sebelumnya. Karena Allah penulis skenario terbaik”
– lp