Sekali berarti. Sudah itu mati. (Sajak Diponegoro)
Tiba-tiba baca buku non-fiksi. seri buku tempo Chairil Anwar, karena waktu itu Alwijo rekomendasiin buku ini. Selain itu, Chairil Anwar juga banyak disebut di buku yang aku baca sebelumnya, Nadira karya Chudori.
Untungnya aku pun cukup enjoy bacanya, ga terlalu tebel dan bahasanya gak baku banget.
Memang belum banyak tokoh-tokoh sejarah yang aku kenali lewat buku, tapi aku rasa kisah Chairil cukup unik juga. Di buku disebutin kalau cara beliau bertahan hidup dan memenuhi kebutuhannya membaca adalah dengan mencuri. "Tak apa-apa mencuri kalau di toko milik orang Belanda. 'Bangsa mereka juga merampok kekayaan negeri kita'" (hlm. 47). Chairil Anwar betullah seorang maniak buku.
"Aku suka pada mereka yang berani hidup. Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam. Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu..." (Sajak Prajurit Jaga Malam)
Chairil ternyata adalah seseorang sastrawan Angkatan 45 yang paling besar pengaruhnya. Kala itu, ketika Bahasa Indonesia pada tahun 1940-an masih sangat muda, Chairil mampu meyakinkan bahwa bahasa itu menyimpan tenaga besar.














