seen from Bangladesh
seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from New Zealand

seen from United States
seen from United States
seen from Russia

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Taiwan

seen from Croatia

seen from Netherlands
seen from China
seen from Moldova

seen from Italy
seen from United States

seen from United States
seen from Russia

seen from United States
seen from United States
Ngobrol Produktif
Alhamdulillah selesai juga tantangan zona 1 komunikasi produktif perkuliahan Bunda Sayang. Tentu saja, komunikasi produktif kali ini aku praktikkan bersama mas suami. Selama 15 hari. Jujur, mencari waktu yang pas untuk ngobrol sama mas suami setelah beliau pulang kerja itu susah susah gampang wkwkwk. Kadang ngerasa kalau beliau pasti udah capek seharian kerja, tapi kalau nggak ngobrol, gimana aku ngerjain tantangan ini haha! Lagipula, aku pribadi pengen banget implementasi mantra Ibu Profesional: “ngobrol bareng, main bareng, aktivitas bareng” hehe. Hari pertama dan hari kedua tantangan, aku masih diem aja. Langsung ngobrol spontan sama pak suami tanpa kasih sounding dulu ke beliau kalau aku ada tantangan komunikasi produktif. Dan ternyata hasilnya nggak oke. Nggak sesuai harapan wkwk. Setelah itu, aku coba ganti strategi. Hari ketiga, saat beliau pulang dan agak santai, aku coba komunikasikan tentang tantangan 15 hari komunikasi produktif ini. Aku coba jelaskan poin komunikasi produktif ke beliau. Seperti, harus bertatapan mata, pilih waktu yang tepat, perhatikan gesture, kalimat jelas, dan selesaikan masalah sampai tuntas. Justru setelah penjelasanku itu, kami ngobrol banyak. Curhat tentang kondisi kami masing-masing. Ya walaupun terkadang ada beda pendapat, tapi kami berusaha menyelesaikannya sampai tuntas. Hari-hari berikutnya tentu saja tidak selalu mulus. Kadang output tercapai, kadang berakhir dengan cuman ngobrol bentar dan nggak ada output-nya wkwk.
Tantangan terberat komunikasi produktif sama mas suami adalah menahan emosi dan memberikan instruksi dengan jelas. Kedua hal ini akan jadi PR besar banget buat aku. Kadang, kalau ada beda pendapat, aku masih terkesan egois. Masih ke-aku-an. Kadang juga sewaktu minta tolong, aku kasih instruksinya kurang jelas. Jadi malah nggak tuntas dan berakhir emosi. wkwkwk. Namun, Alhamdulillah udah hampir nggak pernah kasih kode, kalau butuh, langsung bilang minta tolong. Malah lebih enak jadinya, nggak bikin geregetan sendiri karena suami nggak paham kode hahaa. Alhamdulillah, karena ada momen ngobrol bareng gini, banyak banget yang bisa kami peroleh.
Kami bisa review kembali visi dan misi keluarga kami yang udah dibuat 1,5 tahun lalu wkwk. Walaupun isinya nggak berubah, tapi kami jadi ngobrol lagi tentang visi dan misi keluarga. Jadi tergerak buat mencapai visi dan misi itu.
Kami berhasil bikin family brand. Alhamdulillah. Nama dan filosofinya justru datang dari suami. Aku hanya usul-usul dikit kalau dirasa kurang pas wkwk.
Alhamdulillah. Kami juga bikin cita-cita keluarga per lima tahunan. Dulu, nggak ada kayak gini, adanya cuman financial planning ajaa. Dan kami menyadari, sepertinya keliru. Jadi semacam nggak ada panduan keluarga ini mau dibawa kemana sih. Padahal untuk keluarga, keduanya penting menurut kami.
Sempet juga kami coba implementasi ilmu dari hasil sharing teman di perkuliahan lain tentang merancang hunian pribadi. Di sharing tersebut, disebutkan bahwa salah satu langkah menerjemahkan rumah impian kita adalah bikin mood board. Aku yang sering banget simpan foto-foto rumah, selalu excited pas cerita ke mas suami tentang hunian impianku. Karena itu pula lah, ini jadi bahan obrolan kami. Kami sama-sama menuangkan ide dan keinginan kami tentang hunian impian.
Kami juga banyak ngobrol tentang usaha yang sedang kami rintis. Alhamdulillah, banyak banget evaluasi dan solusi yang akhirnya bisa kami temukan melalui ngobrol.
Logo family brand kami
MasyaAllah. Alhamdulillah. Syukur tak terhingga kami bisa melalui tantangan 15 hari ini. Walaupun aku sendiri masih banyak PR-nya wkwk.
Terakhir, kemarin malam, kami ngobrol lagi. Kali ini tentang program kerja keluarga kami. Justru mas suami yang menginisiasi obrolan kemarin malam hehehe. Beliau malah yang bilang, “ayo lihat aku kalau lagi ngobrol”. wkwk. Rupanya materi komunikasi produktif pun juga udah mulai beliau coba terapkan. Alhamdulillah. :))
Semoga kami benar-benar bisa konsisten dan komit untuk terus ngobrol dan menerapkan komunikasi produktif. Dan semoga semua hasil obrolan kami bermanfaat dan membawa keberkahan untuk keluarga. Aamiin. Padang, 22 September 2020
Menyelam Lebih Jauh
Bismillah, hanya Allah, yang dengan segala kuasaNya menjadikan apa yang terjadi hari ini sebuah kebaikan. Kami mohon ampunan dan izinMu ya Allah…
Alhamdulillah setelah menjalani ketiga tahapan bermain di pulau cahaya, akhirnya sampailah kita di wahana terakhir, yaitu Diving. Seperti namanya, saya juga diajak untuk menyelami diri sendiri untuk kembali bertanya. Mengenai siapa saya, bagaimana saya setelah di IIP, lalu apa yang akan saya perjuangkan ke depannya (dengan adanya pembelajaran), dan apa sih common ground saya dengan IIP hingga membuat saya bertekad bertahan dengannya sampai selesai.
Ketika ditanya siapa saya dan bagaimana saya setelah di IIP, ini sangat sangat berkaitan. Di IIP lah saya seperti menemukan tujuan. Eh ternyata jadi istri dan ibu tuh butuh ilmu. Bukan hanya ilmu turun temurun yang kita dapatkan dari orang tua, tapi juga ilmu lebih dalam mengenai kerumahtanggaan dan anak-anak. Ternyata juga, saya sebagai istri dan ibu juga bisa punya passion dan berperan lebih disana. Dengan ikut IIP, saya seperti membuka mata. Way to go!
Apa yang ingin saya perjuangkan ke depannya dengan mengikuti pembelajaran di IIP ini? Di kelas Bunda Sayang kali ini saya pingin banget lebih banyak belajar. Karena dalam sebuah rumah tangga, untuk mencapai sakinah (tenang), mawaddah (cinta), wa rahmah (kasih sayang) butuh banget peran seorang perempuan. Dan ketiga indicator tersebut menurut saya bisa didapat dengan belajar salah satunya di kelas Bunda Sayang ini.
Saya sempet terpesona dengan bagan ini…
Jadi pada intinya, semua yang kami pelajari di IIP merupakan dasar dari perwujudan akhlaq mulia untuk apapun peran yang sedang dijalankan. Apakah menjadi seorang istri, ibu, termasuk seorang perempuan dalam kehidupan sosialnya secara umum. Jadi ketika melihat ini, saya seperti menemukan jalan. Wah ya ini yang saya cari. Karena sesungguhnya lagi, apapun yang kita lakukan adalah sebagai bentuk untuk beribadah kepadaNya.
Wahana Diving #PraBunsay
Alhamdulillah tiba juga di wahana terakhir dalam periode Pra Bunda Sayang kali ini yaitu Wahana Diving. Dalam wahana terakhir ini, kita diajak menyelam lebih dalam mengenai evaluasi diri selama berkecimpung di Institut Ibu Profesional. Materi dalam wahana ini dibawakan oleh Mba Maria Ulfah. Mohon maaf gambar di atas tidak dicantumkan sumber materinya.
Pembahasan Materi kali ini yaitu berupa…
View On WordPress
Pilihan Jalan
Bismillah.
Saya mohon izin menulis singkat padat jelas untuk Wake Boarding kali ini hehehe (bener bias menulis singkat padat jelas?)
Mengawali wahana ini, saya kembali membuka pembacaan ST30 yang sudah saya lewati di Matrikulasi Batch 7 yang lalu. Jujur, saat kembali membacanya saya merasa seperti “eh iya nih bener aku banget nih kayak gini”. Cuma saya juga melihat kembali diri saya setelah melewati matrikulasi, masih belum bisa menemukan dan menekuni track yang menurut saya memang tepat untuk saya.
Berikut adalah kekuatan/potensi saya menurut ST30 :
Administrator, caretaker, designer, motivator, server, strategist.
Jadi saya kemudian memutuskan untuk belajar tentang seni mengatur/merapikan yang emang saya rasa udah jiwa saya banget. Dan untuk step awalnya, saya akan mulai membaca buku tentang bebenah. Dimulai dari membaca buku Marie Kondo. Kemudian ingin saya tuliskan prosesnya dalam sebuah jurnal online khusus mengenai ini.
Tantangannya, kemungkinan besar akan saya temui pada diri saya sendiri, pada factor-faktor internal. Tapi tentu aja, kalo nggak “always play hard pray hard” bukan Diana Namanya. Masalah dan tantangan tersebut akan saya diskusikan dengan partner terbaik dalam hidup saya untuk ditemukan solusi terbaiknya. Tentu karena saya berharap, dengan turun ridhonya atas segala yang saya lakukan, turun juga ridho dan kemudahan-kemudahan dariNya untuk saya yang lebih baik.
Wahana Wake Boarding #PraBunsay
Alhamdulillah saya sudah tiba di wahana ketiga yaitu Wake Boarding. Dalam wahana ini kami diingatkan kembali tentang core value dan karakter moral yang harus dimiliki oleh member Ibu Profesional. Membaca gambar di atas membuat semangat semakin terpacu dan bisa menjadi strong why kita untuk terus melangkah dan tidak menyerah.
Mulai dari core value Ibu Profesional untuk terus semangat belajar,…
View On WordPress
tentang adab...
Bismillah…
Segala puji bagi Allah, yang menurunkan segala kebaikan untuk kita, yang kadang luput tidak kita sadari dan tidak kita syukuri. Ya Allah, hanya Engkau satu-satunya harapan untuk kami, maka bimbinglah kami...
Alhamdulillah, habis nyimak materi rekaman Wahana Surfing (Wahana ke-2 dari Pulau Cahaya) dan merasa masih punya banyak banget PR. Apalagi wahana kali ini berbicara mengenai Code of Conduct (COC) IIP atau bahasa mudahnya adalah pedoman berperilaku selama kita berada dalam rumah IIP ini. Awal kenal COC saat matrikulasi dulu mikirnya wah ada giniannya juga ya, sampai seserius ini ya, seperti bener-bener masuk rumah IIP ini istilahnya kita mau nggak mau harus ikut aturan tuan rumah. Alhamdulillah sekarang insyaa Allah udah jadi bagian dari yang punya rumah juga yah hehe jadi akan terus belajar untuk menerapkan COC ini ketika berkomunitas di IIP.
Kalo ditanya mengenai pengalaman nyata mengenai COC, hmm… apa ya?
Saya paling teringat dengan materi saat awal-awal matrikulasi dulu yaitu tentang adab yang ternyata juga tercantum sebagai perilaku bermartabat di COC. Menjadi orang beradab itu berat. Of course, karena konsekuensi yang didapat juga besar. Termasuk yang paling ngeh di saya adalah beradab dalam menuntut ilmu.
Suami saya adalah seorang guru. Suatu hari saya pernah diajak beliau ikut untuk mengajar karena saat itu masih awal-awal menikah jadi belum ada nak kanak :p dan subhanallah, saya jadi saksi betul bagaimana beradab dalam menuntut ilmu itu sebenarnya dilakukan. Seperti datang tepat waktu, menyiapkan diri dan alat untuk belajar, menjaga ketenangan, memperhatikan dan focus, wes istilahnya di titik itulah saya bener-bener ngerasa wow. Ternyata saya masih harus banget belajar TT. Dan lebih wow nya lagi ketika saya tanya suami saya, murid abi tadi sikapnya kayak gitu banget ya. Lalu jawabnya, ya disitulah letak ridho seorang guru mi, kalo gurunya sudah ridho, berkahnya ilmu pasti turun lebih cepat pada murid-muridnya. Wuah, nohok bangeeet
Saat mengikuti matrikulasi IIP, saya seperti kembali diingatkan oleh momen tersebut. Saat di kehidupan sehari-hari pun saya berusaha sekali untuk tetap menerapkan adab tersebut. Termasuk ketika saat menyimak rekaman materi saat ini, saya berusaha focus, meski rekaman dan itu online, tetap mencatat, tidak makan dan minum saat menyimak agar focus tidak terpecah. Ehe ya meski masih ada kurangnya, insyaa Allah justru akan menjadi cambuk untuk terus belajar dan belajar lagi. Semoga Allah mampukan kita untuk terus belajar dan menjadi seorang yang lebih baik lagi…
Surabaya, 09-08-2020
Wahana Surfing #PraBunsay
Alhamdulillah, saya sudah tiba di wahana kedua dalam periode Pra Bunda Sayang. Wahana kali ini bernama wahana Surfing. Dalam wahana ini, kita disiapkan dan dibekali perlengkapan untuk menghadapi ombak ombak yang bisa menghempas kita dalam kelas Bunda Sayang nanti. Ombak-ombak baru akan menghempas jika kita tidak bersiap dengan benar. Oleh karena itu, dibutuhkan perbekalan yang sudah saya peroleh…
View On WordPress