Semua pintu baru saja dikunci rapat-rapat setelah seseorang berhasil mencuri hatimu. Dan kau jatuh hati pada pencuri itu. Kakinya tak kau biarkan melangkah, tubuhnya tak kau biarkan pergi, kau mengunci pencuri itu dalam hatimu. Pencuri itu bukan aku. Kau baru saja mengunci satu nama di kedua matamu, juga di kepala, dada dan seluruh tubuhmu. Nama yang membuat kepalamu berputar tak menentu saat kau memikirkannya, atau membuat jantungmu meletup-letup seperti gelembung udara yang dipecahkan anak kecil, atau membuat seluruh bunga tumbuh di tubuhmu saat tangan-tanganmu menuliskan namanya di ponselmu. Rasanya akupun ingin menjadi pencuri, tapi aku masih jadi pencuri yang belum dan tak akan kau ketahui. Aku baru saja mencuri senyum yang kau lepaskan di keramaian, menyimpannya di saku ponselku yang sewaktu-waktu akan kubaca jika kau sedang malas tersenyum atau sedang murung dengan pencuri yang sekarang jadi kekasihmu itu. Aku masih bersembunyi dan kau tidak dapat menemukanku, di balik kasur yang kau tiduri selepas sholat subuh, atau di jalanan yang kanan kirinya penuh klakson dan raung sepeda motor. Aku melarikan diri ketempat-tempat asing sambil membawa hasil curianku: Senyumanmu. Sudah, Akanku buat senyummu jadi penawar dari segala risau yang melukai dadaku. Pencuri itu biarkan saja dia menjadi raja di puncak sukmamu. Raut wajahmu lebih riang, nampaknya pencuri itu berhasil menumbuh mekarkan bunga di keningmu, kau terlihat bahagia dari biasanya dan aku menyukai itu. Aku akan melarikan diri ketempat paling kedap bunyi dan mencintaimu dalam sunyiku sekali lagi. - Juli 2017