Ghibah: Dosa tapi Suka
Rasulullah saw bertanya,“Tahukah kalian siapakan orang bangkrut itu?”
Para sahabat menjawab,”Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta sama sekali.”
Beliau SAW bersabda,”Orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang di hari Kiamat nanti dengan membawa shalat, puasa dan zakat. Tetapi ia pun datang dengan membawa dosa mencaci si fulan, menuduh si fulan, makan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, memukul si fulan. Akibatnya, diambillah kebaikan-kebaikan yang sudah ia lakukan dan diberikan kepada mereka yang ia zalimi. Jika kebaikannya sudah habis padahal belum selesai pembayaran kepada mereka maka dosa-dosa mereka lah yang akan dicampakkan kepadanya lalu ia pun kemudian dilemparkan ke neraka.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah ra).
Tahu hukumnya dosa, tahu kalau ghibah itu kayak makan daging saudaranya, tapi kok masih dilakukan ya? Di situlah keheranannya.
Ada orang ngumpul-ngumpul, perempuan atau laki-laki, kebanyakan berghibah. Walaupun awalnya tidak membahas itu, tapi ujung-ujungnya ada aja pembahasan ghibah yang terselip.
Kalau ditelusuri sejarahnya, ghibah itu sudah ada sejak zaman Nabi Yusuf AS. Istri-istri raja saat itu ghibah tentang skandal istri Al-Aziz. Itu baru perempuan lho, laki-laki juga ada. Kalau laki-laki pengghibah sudah ada di zaman Nabi Muhammad SAW. Para pembesar-pembesar Quraisy yang menentang Rasulullah adalah pelakunya.
Seharusnya sih ghibah sudah kuno di zaman sekarang. Apalagi, ghibah ini menyebabkan masalah kesehatan pada pelakunya. Dikutip dari Kajian Buruk Sangka dan Ghibah Bagi Kesehatan Tubuh Manusia (Telaah Konsep Getaran Dan Gelombang), “Ghibah dapat menyebabkan beban pikiran yang berat dan mengalami tekanan darah tinggi, serta dapat menimbulkan gangguan ilusi dan halusinasi, selain itu ghibah juga dapat menimbulkan rasa permusuhan dan emosi kepada sesama manusia, dimana dampak emosi yang berkelanjutan adalah terjadinya serangan jantung.”
Yakin masih mau ghibah?














