Sedarah
Hening malam berikan jawaban. Satu hal yang pasti, di dalam tubuh kami mengalir darah yang sama. Gemetar menahan emosi. Antara rasa benci, peduli, serta belati yang enggan lepas dari genggaman tangan ini. Ku pandangi lelap tidurnya. Ku imajinasikan masa depannya. Ku prediksi reaksi ibu jika melihat hasil akhir dominasi amarah ini. Satu langkah mundur. Dua langkah terjatuh. Air mata menetes. Kendalikan amarah. Urungkan niat. Membunuhnya butuh alasan yang lebih dari ini. Bukan hari ini ataupun kelak nanti. Menunggunya membenahi diri. Hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini, esok, lusa, mungkin seterusnya.












