Sejatinya hidup ini tentang perjalanan, perjalanan dengan pijakan-pijakan dzikir mengulang doa dan berharap berkah. untuk kemudian sampai pada tujuan yang hakiki.tentang rindu, kerinduan yang suci. perjalanan ini akan dipenuhi berbagai pertanyaan-pertanyaan, yang pada akhirnya seluruh pertanyaan ini akan menemui takdirnya jawaban-demi-jawaban. terkadang, tidak ada jawabannya, pun penjelasannya.
Cerita kali ini datang dari perjalanan panjang berbagai tokoh dengan berbagai pertanyaan dalam perjalan kerinduan menatap Masjidil Haram. Di zaman itu, kerinduan itu harus ditempuh dengan perjalanan berbulan-bulan lamanya. Penuh perjuangan, penuh air mata, mengorbankan harta dan bahkan nyawa.
Hebatnya, kadang dengan tujuan dan nasip yang sama berlabuh dengan kapal yang sama, ditimpa pukulan ombak yang dasyat yang sama, hingga ditekan dengan perompak. Ujung pisau yang dingin-tajam dileher orang terkasih. Tetap membawa pertanyaan yang berbeda. satu dari pertanyaan yang menaruh perhatianku adalah, Tentang kebencian kepada orang yang seharusnya kita sayangi. Ibu/bapak kepada anak, anak kepada ibu/bapak, suami kepada istri, dan sebaliknya.
Tentang kebencian yang begitu besar. Apakah tanah suci akan menerima seseorang dengan kebencian luar biasa hebat dihati? Bagaimana agar berhenti dari segala rasa benci dihati?.
Dan beruntungnya, pertanyaan ini memiliki jawaban, terlepas dari salah ataupun benar. Bagaimana membersikannya, tidak ada yang tau jawaban pastinya. Wallahu a’lam. Sungguh sangat menyakitkan, memendam benci pada ibu-bapak kita dan pula sebaliknya.
Aku misalnya, suka berasa ibu bapak pilih kasih. Kadang sampe kebawa mimpi sakin kesalnya atau jadi uring"an dan ibu-bapak tanggapannya marah. Beda kasus sama adek-adek yang lebih diberi kesempatan memilih, diberi kebebasan bergaul dan kalau nilai sekolah nggak sesuai harapan nggak perna marah atau ngunci mereka atau sita hp. selama bertahun-tahun, selain kesel dan marah. Aku juga memperhatikan dan membandingkan sekeliling bagaimana teman-teman sebaya aku dan kebetulan anak sulung diperhatikan dan sampe pake surve pake tingkatan ekonomi mereka pulak. sama nggak perlakuan orangtua ke anak pertama mereka dari faktor-faktor yang berpengaruh banget ortunya kerja dimana, orang kaya apa nggak sampe punya sodara berapa dan ibuknya wanita karir atau ibu rumah tangga. Dan jawabannya, beda.
Ada yang bapak kita sekantor, ibuknya ibu rumah tangga tapi adeknya jauh lebih banyak. sama. Tapi, anaknya nggak banyak ulah disekolah juga biasa aja. Kalem aja. Tapi, hati manusia tidak ada yang tahu. Dan, dia juga tidak punya nasehat apa-apa selain, "udah ikutin aja, kan udah nasipnya lahir duluan. Kalau bisa diusahaiin, kalau nggak yaudah biar aman". Mungkin kesimpulannya adalah, ikhlas saja.
Tentang kebencian tadi, bagaimana menyikapinya, saat waktu subhu Gurutta diatas Kapal Blitar Holland meringkas jawaban untuk pertanyaan Tentang Kebencian yang telanjur mengisi hati seorang Tuan Daeng Andipati.
Pikirka tiga hal tadi, Nak. Berhenti membenci ayahmu, karena kau sedang membenci dirimu sendiri. Berikanlah maaf karena kau berhak atas kedamaian dalam hati. Tutup lembaran lama yang penuh coretan keliru, bukalah lembaran baru. Semoga kau memiliki lampu kecil dihatimu. - Gurutta Ahmad Karaeng.
sungguh tidak pantas memang, seorang anak memiliki kebencian kepada orang tuanya, apalagi terpupuk dan tumbuh subur hingga menjadi buah pahit bagi diri sendiri. Getahnya membutakan mata untuk melihat seluruh kebaikan mereka hingga dewasa ini.
Benar, mungkin benar boleh marah dan boleh kecewa. Tapi tidak lantas menutup mata dan membandingkan. Gurutta benar, saat membenci ibu bapak kemarin karna diri sebenarnya tidak bisa memilih untuk masuk sekolah mana yanh terbaik, jadi pilihanku untuk ikut saja. Setelahnya salahku membiarkan mulut bungkam tanda tidak sepakat dengan pilihan yang ada. Bukannya itu salahku juga? Temanku juga benar, sebaiknya memilih iklas. Toh, semua sudah terjadi juga. Tidak ada sekolah untuk menjadi orang tua yang baik seperti apa bukan? Bukannya juga adil juga kadang tidak harus dengan jumlah yang sama kan?. Dan, kenapa baru sadar sekarang setelah membiarkan diri larut dalam marah dan kebencian. Yah, walaupun tidak bisa membandingkan seberapa kekesalan itu tumbuh hingga menjadi benci, dan tak sebanding pula hal yang dialami Tn. Daeng Andipati yang begitu kompleks dengan ku yang mungkin bahkan nggak masuk hitungan dalam masalah beliau, apapun itu. Jawaban Gurutta Ahmad Karaeng benar.
Ini masih satu dari deretan pertanyaan yang memiliki jawabannya. Rindu. Lima kisah dalam sebuah perjalanan kerinduan.