Cado-Cado (Rasyi’s version ) : Bertemu Bahagia
Sebuah undangan pernikahan sampai pada saya. Saya mengucap syukur tak terhingga, turut berbahagia dengan kabar indah itu.
Saya single, sebuah fakta yang tak terbantahkan. Menjalani pendidikan preklinik (sarjana) di dunia kedokteran membuat saya cukup untuk menahan diri digenapi oleh orang lain dulu. Sebenarnya ada alasan lain yang lebih krusial dibanding kesibukan di dunia kedokteran, anggap saja ini mimpi yang saya ingin kejar terlebih dahulu dalam rangka menyiapkan diri saya untuk digenapi.
“Kapan nikah?” atau “Aku kapan nikah?” seringkali mengiringi hidup kami, terutama sebagai mahasiswi kedokteran yang terancam butuh 9-10 tahun menjalani pendidikan hingga bisa dikatakan “capable” menjadi dokter mandiri.
Pendidikan preklinik membutuhkan waktu 4 tahun untuk diselesaikan hingga meraih gelar sarjana kedokteran (S.Ked), selain itu kami masih harus menjalani pendidikan profesi (ko-ass) selama nyaris 2 tahun dan lulus ujian kompetensi (UKMPPD) untuk bisa meraih gelar dokter. Belum selesai di situ, kami harus mengikuti program internship, mengabdi di daerah selama setahun dan kejutan kali ini... masih ada program Dokter Layanan primer yang akan ditempuh selama 2 tahun (kalau lancar).
Saya tahu jalan perjuangan ke depan tidaklah mudah. Memilih berjuang di kampus ini berarti memilih untuk tegar dengan segala badai yang menghadang, termasuk kelak saya akan sungguh-sungguh ditanya oleh keluarga besar, “Kapan nikah?”
Terkadang saya berpikir, lelaki macam apa yang mau didampingi perempuan seperti saya? Perempuan yang sudah terikat kontrak dengan dunia pendidikannya, terlebih terikat dengan kewajibannya untuk menolong nyawa manusia. Perempuan yang mungkin kelak akan mengutamakan kesehatan orang asing dibanding kesehatannya sendiri. Perempuan yang masih akan terus berjuang begitu lama untuk mengabdikan dirinya untuk orang lain.
Saya terkadang sangsi, sedikit pesimis, apalagi mendengar komentar-komentar teman dari fakultas lain, “sibuknya...”, “yaah dokter si gitu...” Lelaki macam apa yang siap memperjuangkan perempuan seperti saya?
“Kamu akan bertemu dengan bahagiamu sendiri kok, tenang saja.”
“Kalau ada perempuan seperti kamu, berarti ada laki-laki tangguh yang siap untuk kamu. Siap memperjuangkan kamu dan berjuang bersama kamu.”
Beruntunglah, seharusnya, jika kita orang yang beriman tak ada yang perlu diragukan. Semua ada porsinya. Semua ada waktunya. Yang perlu dilakukan adalah menunggu. Menunggu pun bukan hal yang pasif, di dalamnya kita perlu bekerja, menyiapkan banyak hal. Menunggu dalam ketaatan, aah itu jauh lebih baik!
Sungguh ini bukan tulisan galau. Justru melawan galau! Ciaaat!!!