Yap, mungkin jika Tuhan mengijinkan, beberapa jam lagi gue akan memasuki usia dengan diawali angka 2. Hmmm, sudah 10 kali gue selalu melewati ulang tahun gue dengan dua angka di mana angka pertama adalah angka 1. (Apaan sih ini, sungguh-pengantar-tulisan-yang-aneh, wkwkwk)
Walaupun umur sudah mengharuskan gue untuk berusia *nelen ludah* 20 tahun, tapi entah mengapa akhir-akhir ini gue seperti kena sindrom "gak bisa move on dari usia belasan", lebih tepatnya sih ke kelakuan-kelakuan gue yang masih sangat teenager habits,
Menjadi sosok berumur kepala 2 itu, menurut gue, bakal menjadi tantangan tersendiri bagi diri gue, terlalu berat bahkan. Diri gue sendiri pun mengatakan bahwa gue masih sangat childish, kekanak-kanakan. Sosok berusia dua puluhan itu, setidaknya, harus bisa semakin dewasa dalam bersikap dan bertindak, apapun itu.
Berikut beberapa sikap seorang berusia dua puluhan, yang menurut gue, gue belum bisa menanggung sikap tersebut:
Gue merasa belum siap pada poin ini karena secara gue masih terlalu banyak bergantung pada orang tua gue. Khususnya finansial. Ya emang sih secara gue belom kerja dan belum ada penghasilan sendiri. Ada sih penghasilan, cuma penghasilannya juga kan dari uang saku yang dikasih sama orang tua. Gue agak tengsin sendiri melihat orang-orang yang seumuran sama gue, bahkan ada yang lebih muda dari gue, sudah bisa menghasilkan uang sendiri dengan melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. But, me? (Mohon maaf, yang nulis lagi galau gara-gara target magang di liburannya kali ini belom kesampean, hehehe *tertawa miris*)
Selain dalam hal finansial, terkadang gue suka mencoba berpikiran ke depan nanti kalau seandainya sudah waktunya gue akan hidup tanpa orang tua gue. Masalahnya usia ini semakin lama akan semakin matang kan, dan yang namanya manusia, cuma Tuhan yang tahu berapa lama hidupnya. Entahlah gue belom bisa membayangkan. Sekalipun terkadang orang tua gue terlihat menyebalkan, gue pasti bakal bingung akan kemana gue akan memerlukan bantuan jika seandainya gue sedang dalam kesulitan.
Jika proses kuliah gue lancar (HARUS itu mah, HARUS!), 3 atau 4 semester lagi gue akan lulus kuliah dan pasti "dunia" ini memberikan gue 3 pilihan: Lanjut S2, Kerja, atau nunggu dilamar orang a.k.a getting married. Dan pilihan gue jelas pada pilihan kedua. Kalau lanjut S2, gue sih mikirnya mending gue banyakin pengalaman kerja dulu dan mungkin nantinya akan seperti salah satu dosen gue "Bosen ah kerja mulu, kuliah lagi deh." Selain itu gue juga mikirin kalo gue ditanggung biaya terus sampe usia seperempat abad kasihan nanti duitnya gak bisa ditabung buat biaya pendidikan adek gue. Bokap juga bakal pensiun beberapa tahun setelah gue lulus S1, sementara jarak umur adek gue sama gue cukup jauh. Sedangkan kalo kawin, hemmmm, ya-kali, jodoh aja belom ketemu, mapan juga belom, eh, tapi gak tahu juga sih kalo 1 atau 2 tahun mendatang gue ketemu cowok yang bibit-bebet-bobotnya sesuai yang diharapkan. hehehe. Who knows?
Nah, berarti perkiraan 2 tahun lagi gue akan dituntut untuk cari pekerjaan kan, gue akan khawatir kalo luck gue gak berpihak disini. Liat aja kan berapa banyaknya pengangguran sekarang ini. Terus, gue aja hunting magang sana sini aja kagak dapet-dapet, gimana kerja nanti. Gue takut nantinya semua tingkat pendidikan yang gue selami dari TK sampai perguruan tinggi sekarang ujug-ujugnya kebuang sia-sia gara-gara gak gue aplikasikan dalam kehidupan sebenarnya. Gak bisa bayangin jadi orang gak berguna di depan kedua orang tua sendiri. Dan gue sampai saat ini belum mendapatkan passion untuk membuka lapangan kerja sendiri.
Oke, gue gak bisa bohongin diri sendiri soal hal ini. Hmm, orang tua gue sih sejauh ini tidak pernah memberikan sinyal sedikitpun kepada gue kalo gue sebaiknya sudah memikirkan hal ini. Dan gue terlihat santai dan gak pernah ada problem lagi soal pacar di depan ortu selama 3 tahun terakhir ini. Yah, mungkin karena masih dianggap "terlalu alim" dan "awam" soal ini. Tapi, melihat dari kebanyakan orang Indonesia pada umumnya, hampir semua orang melepas lajangnya pada usia kepala 2 kan? Gue gak mau mengalami kejadian seperti beberapa sodara gue yang sampe kepala 3 masih belum menemukan "the right person"-nya, sementara itu, biasanya di keluarga gue, kalo udah mau penghujung kepala 2 baru didesak buat mencari pasangan hidup. Gak mau jadi tekanan batin aja sih gue, kalo sampai gak beruntung gitu kan complicated juga.
Intinya sih dari semua ini, gue merasa gak siap dan gak pede untuk semakin menatap tantangan terberat dalam siklus kehidupan manusia, yaitu usia duapuluhan. Gue pernah denger atau baca dari sumber tertentu, kalau gak salah, masa dewasa yang sesungguhnya berawal pada usia duapuluhan, karena disinilah seorang manusia menentukan kemana arah hidupnya dengan lebih bijak dan matang.
Mungkin dengan berpikir dan menuangkannya dalam postingan ini, gue akan semakin siap memulai kehidupan baru gue di esok hari, dan gue akan terus belajar menjadi lebih dewasa lagi dalam berbagai hal.
Tapi... tambah tua bukan berarti gak bisa awet muda kan? Semoga muka gue tetep kayak usia belasan, hehehe...
Cheers! Fighting! Ready to come to 20's Club! :D
PS: Oh ya satu lagi kelupaan! Errrr, masa udah mau 20 kagak bisa masak, gimana toh -_________-"