Episode 1: Too Many Ideas!
Ketika gue memutuskan untuk mengerjakan Tugas Karya Akhir (TKA) sebagai jalur kelulusan gue, pada bulan Juni 2014 setelah gue menyelesaikan semester 5, gue langsung merancang ide yang akan gue kerjakan.
FYI, di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, ada 3 jalur kelulusan yang bisa dipilih, yaitu jalur TKA, jalur skripsi (tadinya gue mau ini, cuma gue takut jatoh nilainya), dan jalur 144 sks, alias abisin sks-sks dengan belanja mata kuliah lain di luar mata kuliah wajib, tapi musti bikin jurnal ilmiah. Jadi, menurut gue sih, semua jalur ini punya tingkat kesulitannya masing-masing.
Selama liburan awal setelah semester 5 berakhir, Puji Tuhan banget gue bisa bikin draft kasaran ide gue sebanyak 5 buah. Gue pun langsung mengkonsultasikan ide tersebut ke salah satu dosen tidak tetap yang biasa ngajarin gue di peminatan Industri Kreatif Penyiaran (IKP). Setelah mendapat tanggapan dari beliau, gue langsung mengeliminasi 2 dari 5 ide tadi. Tiga ide yang masih ada gue kembangin lagi sehingga bisa dikonsultasiin lagi ke dosen yang bersangkutan.
Namun, karena dosen tersebut lagi sibuk, gue pun mencoba untuk menghubungi dosen lain yang juga sering ngajar di IKP guna minta tanggapannya. Syukurlah, beliau memberikan respon yang positif. Karena ketiga ide tersebut menurut gue "gue banget" dan bingung mau yang mana yang akan diajuin untuk sidang outline. Akhirnya, gue sharing 3 ide tersebut ke sahabat-sahabat gue di IKP. Satu ide pilihan sahabat-sahabat gue itu akhirnya fix menjadi proposal yang gue kumpulin. Tinggal nunggu jadwal sidang deh :)
Episode 2: Sidang Outline
Suatu hari di bulan September, gue dan salah satu teman gue di IKP jadi dua mahasiswi pertama IKP yang disidang outline-nya. Gue dan temen gue itu dibimbing oleh dosen yang sama. Sebenarnya sih, sidang outline-nya seharusnya sudah dilakukan dari bulan Agustus, namun entah ada apa jadinya diundur.
Karena gue gak tahu bentuk sidang outline kayak apa, gue cuma bisa bolak-balik baca proposal outline gue dan bisa dibilang minim persiapan tentang apa yang ingin gue sampaikan ke dosen-dosen yang akan menyidang gue.
Teman gue yang sidangnya barengan sama gue bisa dibilang sudah curi start duluan konsultasi dengan dosen pembimbing gue ini. Sebenarnya kebetulan sih ini, karena dosen pembimbing TKA kita ini juga dosen pembimbing akademik anak-anal IKP. Sementara gue baru ketemu dengan beliau saat Hari H Sidang Outline.
Sidang Outline pun terjadi pada pukul 11 siang. Dalam ruang rapat di gedung departemen, gue dan teman gue duduk sejajar bersebelahan, sedangkan di seberangnya ada dosen yang merupakan ketua program dan dosen pembimbing TKA kami. Gue dapat giliran presentasi outline gue setelah temen gue.
Ketika gue selesai presentasi, dua dosen yang ada di hadapan gue berkomentar yang sama: BINGUNG. Mungkin karena gue yang tegang sehingga yang gue sampaikan kurang jelas. Setelah mereka mencoba bertanya-tanya kepada gue, perlahan-lahan mereka mengerti.
Saat itu, gue mengajukan membuat web series dengan per episodenya kurang dari 5 menit mengenai momen saat menunggu. Jadi, bisa dibilang, gue membuat sebuah drama singkat berseri yang rencananya ditayangkan di YouTube. Namun, kedua dosen gue ini menyarankan sebaiknya gue membuat dalam bentuk dokumenter. Pikiran gue langsung melayang kembali saat gue kuliah produksi dokumenter dan hasil nilainya sangat-sangat mengecewakan 1 kelas IKP. Gue pun jadi agak parno. Harus bikin dokumenter lagi? Nilai gue nanti gimanaaaaa~
Gue pun keluar sidang outline dalam perasaan hancur. Yah, anggep aja gitu. Gue harus merevisi kembali Outline gue dalam waktu dua malam saja dan besok lusa harus udah dicek sama dosen pembimbing, sementara temen gue idenya udah diterima (karena dia udah curi start duluan, enaknya T.T) dan bisa langsung melangkah ke Bab 1. Sepertinya gue akan sidang outline ulang kayaknya.
Tips Masa Outline Skripsi / TKA ala missbeithestory:
1. Kalau udah tahu dosen pembimbingnya, langsung hubungin dan segera konsultasiin ide lo. Kalau bisa sebelum sidang outline jadi beliau lebih paham (dan mungkin bisa belain lo).
2. Kalau dalam jangka waktu tertentu lo belum tahu dosen pembimbing lo siapa, coba hubungin dosen pembimbing akademik lo buat konsultasiin ide skripsi / TKA lo. Anggep aja beliau dosen pembimbing pra sidang Outline. Curi start sebelum sidang outline dihalalkan ternyata.
3. Perkaya outline lo dengan referensi sebanyak mungkin, biar ada 'pegangan' pas sidang dan semakin terlihat masuk akal. Saran gue sih sebaiknya didukung data-data yang bikin dosen-dosen pengujinya gak akan kepikiran buat ngerubah rancangan ide konten yang bakal lu bikin nanti, apalagi kalo rancangannya udah 'lo banget'. Gue belajar banget sih seharusnya gue harus perkuat data tentang drama dan webseries sehingga gue gak harus nurut ke dokumenter gini.
4. Khusus buat yang nervous kalo bicara depan orang-orang tertentu (macem gue): bikin catatan kecil tentang apa aja yang mau disampein dan berlatihlah presentasi sejak beberapa hari sebelum sidang Outline.
Episode 3: Bimbingan Positif
Tadinya gue mengira dosen pembimbing gue ini galak. Mungkin karena 'tak kenal maka tak sayang' kali ya, soalnya selama gue kuliah belum pernah diajar beliau. Waktu gue harus ketemu beliau lagi karena gue kira mau 'disidang ulang' ternyata beliau memberikan banyak feedback positif di bagian mana gue yang salah dan harus diperbaiki. Karena beliau, ruang lingkup topik gue semakin dipersempit agar semakin mudah bagi gue untuk menulis TKA ini. Gak tahu kenapa, gue seneng aja draft TKA gue yang tiap gue kasih tiap bimbingan beliau baca, abis itu langsung ditulis atau dicoret macem-macem. Rada pas juga sih, karena beliau juga memiliki passion di bidang dokumenter, jadi beliau turut membantu dalam mencari bahan-bahan referensi seperti buku tentang dokumenter dan cara penulisan ilmiah. Kalau menurut beliau sih, gue sudah mencoba untuk bisa mengungkapkan ide gue dengan baik, tapi bahasa gue aja yang ala blogger abis (yaiyalah :p). Untungnya sih selama bimbingan, beliau tidak terlalu membuat gue sulit dalam membuat TKA ini. Beliau bilang, kalau TKA itu anggep aja kayak bayi, yang kita kandung dengan baik, sehingga nanti saat 'dilahirkan' hasilnya pun juga baik. Gue selalu berusaha untuk mengikuti kemauan beliau terhadap TKA sehingga I'm still on the good way deh.
Salah satu momok menakutkan bagi gue saat mengerjakan TKA untuk peminatan IKP adalah eksekusi, syuting tepatnya. Karena dalam TKA lebih dijelaskan mengenai konsep film dokumenter yang gue bikin, nah di syuting inilah gue harus mengambil beberapa gambar yang dibutuhkan serta beberapa wawancara yang diperlukan sebagai bahan prototipe atau sampe TKA gue dalam bentuk video, ya berarti film dokumenter beneran. Untungnya sih, seluruh orang yang membantu gue secara langsung dalam produksi video ini, mendukung gue secara penuh, sehingga tidak membuat gue stress sendiri. Pada awalnya, gue takut sekali tidak ada yang membantu gue saat gue syuting untuk keperluan TKA ini, karena pada dasarnya ini kan pekerjaan individu, bukan pekerjaan kelompok seperti biasanya.
Hasil potongan syuting wawancara dengan narasumber
2 dari 3 kamera yang gue pake buat syuting, they are partners of Nikon! huehehe
Episode 5: Finishing = Editing :"""
Syutingnya udah parno, editingnya lebih menguras lahir batin, Laptop gue sempet gak bisa diajak kerja sama. Jadi kalo misalnya mau import atau export file video dengan durasi panjang ke software editing, laptop gue gak kuat dan akhirnya mati mendadak. Untung aja paman gue segera membantu gue mencari penyebab mati mendadak-nya laptop gue dan langsung dibawa ke Jakarta Kota buat diservis. Sempet kebuang beberapa hari tuh ketika laptopnya masih suka mati mendadak.
P.S: kalo ada yang temenan Path sama LINE sama gue pasti pernah liat postingan marah-marah gue soal laptop ini, hahahaha
Saat seminggu sebelum deadline pengumpulan TKA siap sidang, gue memutuskan untuk 'ngerem' di rumah dan sekuat tenaga menyelesaikan TKA dan film dokumenternya. Untung aja segala aspek kehidupan di rumah gue hingga laptop pun bisa diajak bekerja sama dengan baik.
Episode 6: Sidang Final TKA = Tegang Abissss
Sepertinya, gue adalah mahasiswi terakhir di jurusan Ilmu Komunikasi UI angkatan 2011 yang sidang final semester ini. Yup, gue baru sidang final tanggal 5 Januari 2015, dan gue dapat giliran paling akhir sidang di hari itu, jam 12 siang. Ya ampun, itu jam-jam orang laper kan ya?
Gue udah stand by di kampus di hari Senin itu jam 10 pagi, 2 jam sebelum sidang final gue. Gue janjian sama sepupu gue di kampus buat ketemuan. Gue minta sepupu gue buat make up-in gue sekalian dia juga mau nontonin gue sidang (padahal males banget gue ditontonin sidangnya, malu coy). Sepupu gue juga ngajakin temen lama gue dari SMP (yang kebetulan ceesan juga sama sepupu gue) buat nemenin dia 'jadi orang asing' di kampus gue.
Akhirnya sampai setengah jam sebelum gue sidang, gue bersama dengan sepupu dan teman lama gue ini.
Begitu beberapa menit terakhir sebelum jam-nya sidang, kondisi badan gue udah gak karuan. Tangan dingin parah, jidat bercucuran keringat (sampe sepupu gue udah siap-siap mau touch up aja), dan gue udah gak sanggup bawa semua barang-barang gue yang saat itu bawa ransel berat (karena isinya laptop) dan satu tas tambahan yang isinya pakaian ganti dan sendal. Sahabat-sahabat gue selama di kampus mendampingi gue hingga saatnya gue masuk ruangan sidang.
Dengan ditonton oleh satu sahabat gue di kampus, sepupu gue, dan teman lama gue, plus satu sahabat gue yang lain yang jadi notulensi sidang, gue pun memulai presentasi, kurang lebih selama 20 menit hingga memutar trailer video.
Kalo menurut gue sih, gue lebih 'diserang' oleh dosen penguji dengan komentar-komentarnya yang sangat mendetail, tidak terlalu menjurus ke pertanyaan-pertanyaan yang membuat gue bingung. Sifatnya pun gue hanya mengiyakan, dan gue memang senang kalau mendapat saran dari orang-orang lebih ahli dan senior, selama itu memang sejalan dengan pemikiran gue juga. Kalo untuk dosen pembimbing dan ketua sidang lebih ke menimpali tanggapan dari dosen penguji gue waktu itu sih. Tapi disayangkan saja karena dosen pembimbing gue tidak terlalu banyak berkomentar atau membela gue, ya gue lebih kelihatan berjuang sendiri, sedangkan menurut cerita teman gue yang lain pada sidang-sidang sebelum gue, dosen pembimbingnya membela mahasiswa yang dibimbingnya.
Setelah gue 'diserang' sekitar kurang lebih setengah jam, gue pun diminta keluar karena para dosen mau mendiskusikan nilai yang akan gue dapat. Ketika keluar pun, gue hanya bisa menyambut orang-orang terdekat gue yang menunggu sidang gue dengan mata berkaca-kaca. Gak kuat saya, guyssss~
Tak perlu menunggu lama-lama, gue diminta kembali masuk ke dalam ruang sidang. Akhirnya, gue dinyatakan oleh ketua sidang kalo gue lulus TKA. Sesi cipika cipiki deh abis itu.
Setelah sidang berakhir, orang-orang yang udah nungguin gue dari tadi langsung menghujani gue dengan ucapan selamat dan pelukan (plus balon-balon dan selempang bertuliskan "Menantu Berprestasi, S.Sos" yaolohhhh). Makasih Tuhan, gelar S.Sos di tangan!!! >.<
Sampe gue capek sendiri foto-fotonya sama temen-temen gue, makasih banyak ya kalian semua!!!! Aku sayang kalian semuaaaa~
Dan dari sini udah mulai gak sanggup berdiri, hahaha.
Jangan lupa foto sama dosen pembimbing dan sobat seperjuangan karena pembimbingnya sama hehehe
Dan bahkan setelah makan siang pun masih juga, tapi sekarang nambah orang baru lagi, hehe. Gue pun masa bodo deh pake sendal jepit aja, udah gak betah sok anggun-anggunan pake wedges hahaha.
Episode 7: Revisian Dikejar Deadline
Waktu itu, deadline pengumpulan TKA tanggal 9 Januari 2015, yaitu 4 hari setelah gue sidang final. Sementara yang lain, yang sudah sidang dari belasan Desember tahun lalu, sudah punya waktu lebih banyak untuk revisi. Jadilah gue dan temen-temen gue yang IKP yang baru kelar sidang, gimana cara pokoknya, dalam waktu 2 hari, revisian udah kelar, soalnya kan butuh kejar 3 dosen untuk minta ttd pengesahan TKA, itu juga belum tentu bisa langsung diiyain revisian kita.
Di episode inilah, gue ngerasa boros banget. Ngeprint berulang-ulang karena ada kesalahan satu atau dua kata di halaman itu, yang berdampak buat halaman-halaman selanjutnya. Burning DVD sampai lupa kalau tanda tangan gue sebagai penulis TKA dan tanda tangan 3 dosen harus discanning, jadinya burning DVD 2 kali. Pada malam Jumat banget gue dan bokap malem-malem ke Depok buat cari tempat jilid hard cover yang buka 24 jam, biar besok gak terlalu mepet buat diambil (secara besoknya dong deadline-nya).
Yak, walaupun mepet-mepet revisian ini berbuah kegondokan kalau ternyata di tanggal 9 Januari itu belom bisa kumpulin karena persyaratannya Daftar Nilai Sementara (DNS) harus udah ada, sedangkan dari pihak fakultas belom keluarin ke semua anak Komunikasi yang akan lulus semester ini. Alamat gak jadi kumpulin TKA yang udah fix pastinya.
Final Episode: Agak Tertohok = Feeling Stupid
Sampai seminggu lebih setelah sidang final, gue dan teman seperjuangan gue dalam mengerjakan TKA belom tahu berapa nilai TKA kita. Hingga akhirnya, saat mengurusi berkas-berkas ijazah sekaligus penyerahan TKA, gue diberitahu oleh pihak kampus kalo nilai gue.... hmmm, kurang maksimal. Di luar ekspetasi gue banget.
Muka gue pun langsung bete abis sambil menyelesaikan keperluan-keperluan kelulusan kemarin. Gue semakin down saat lihat nilai temen-temen gue yang TKA, entah yang 1 peminatan maupun di luar peminatan, nilainya amazing semua alias A di tangan. Anjirrrrr, sejelek itukah TKA gue?
Pulang dari kampus, gue langsung nangis-nangis sesenggukan sendirian aja. Meratapi nasib. Duh, gue kok sial banget, udah paling akhir sidangnya, eh malah paling jelek nilainya. Gue pun jadi mikir lagi kenapa gue malah pilih jalur TKA pas awal kalo hasilnya begini. Padahal gue udah berjuang keras sejak awal, ngebut-ngebut menghadapi deadline yang jauh lebih mepet dibandingkan yang lain, berusaha untuk gak jiper di antara teman-teman IKP yang jauh lebih jago kalo produksi konten audio visual. Penyesalan akhirnya tumpeh-tumpeh di dalam hati.
Gue cuma bisa curhat dengan teman seperjuangan gue (pas masih di kampus) dan sahabat-sahabat cewek gue via aplikasi chatting. Cukup terhibur dengan semangat dan dukungan yang diberikan sahabat-sahabat gue. Untung aja ini cuma 3 SKS. Gak begitu ngaruh sama IP dan IPK gue, turun dikit sih.
Semoga TKA gue beneran gak jadi 'sampah' dan bisa berguna untuk orang lain di kemudian hari.
Mungkin ide gue agak aneh dan orang-orang belum tentu menyadari topik gue tersebut ada hubungannya gak sama kehidupan mereka, bukan ide mainstream yang biasa dibutuhin industri. Targetnya terlalu spesifik. Gue-nya mungkin yang bego.
Hmmm, yah, gue tetiba jadi gak bangga sama TKA gue sendiri. Ibaratnya, kayak ibu baru ngelahirin anaknya tapi gak mau ngakuin anaknya karena anaknya jelek, orang lain gak suka.
Ada satu quote dari salah satu sahabat gue yang gue harap, gue tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihan ini. Karena gue masih tetep bisa wisuda kok, bisa cum laude, bersyukurlah kau, nak :""""
This is the end of "Aku dan TKA The Series". Capek ya bacanya? Huft, aku cuma bisa bikin orang capek aja kerjaannya :(