“Manusia Bisa Dihancurkan, Tapi Tidak Bisa Dikalahkan”
Ini kedua kalinya aku selesai membaca novel The Old Man and The Sea karya Ernet Hemingway dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia-nya. Dulu, waktu pertama kali membacanya, dalam bentuk buku fisik yang aku beli di Gramedia sekitar tahun 2008, aku bingung. Aku kurang mampu mengikuti gaya bahasa yang terdapat di terjemahan tersebut. Imajinasiku tidak begitu mampu membangun latar dan narasi dengan tepat. Aku menyelesaikan novel tersebut tanpa begitu menikmatinya.
Edisi yang aku baca itu adalah edisi yang diterjemahkan oleh Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat:
Kutipan yang aku jadikan judul di atas dalam edisi bahasa Inggris berbunyi seperti ini:
“A man can be destroyed but not defeated.”
Kutipan ini saja sudah menunjukkan bagaimana novel ini mengajarkan mengenai perjuangan hidup sekeras apapun. Banyak yang bilang jika kebijaksanaan yang Hemingway hadirkan di dalam novel kecil ini adalah kebijaksanaan yang lahir dari kehidupannya yang keras. Ibarat kata, Lelaki Tua itu adalah dirinya sendiri, dan benar, kemudian dia hancur sebagai manusia. Dia menolak kalah dan memilih untuk hancur ketika memutuskan untuk menghabisi dirinya sendiri dengan senapan serbu.
Tragis.
Aku menikmati semangat yang buku ini bawakan, dan semangat itu semakin terasa saat aku membaca buku ini untuk kedua kalinya.
Untuk memudahkan imajinasiku menangkap latar suasana, aku iseng mengetik judul novel tersebut di YouTube dan akhirnya menemukan video animasi mengenai novel tersebut yang aku rasa sangat keren dan sangat membantu imajinasiku menyerap novel ini dengan lebih baik:
Saat melihat-lihat Google Play Book selepas membaca novel ini (oh ya, aku membaca kedua kalinya ini menggunakan versi e-book yang dijual oleh Google), aku menemukan bahwa ternyata ada edisi terjemahan lain dan penerjemahnya adalah salah seorang penyair terbaik Indonesia yang baru berpulang beberapa saat yang lalu: Sapardi Djoko Damono. Aku akhirnya memutuskan untuk membeli edisi tersebut setelah membaca-baca halaman awal mendapati kualitas yang lebih baik. Edisi ini diterbitkan oleh Gramedia dalam rangkaian “Seri Sastra Dunia”. Seri ini menghadirkan karya-karya terbaik para pengarang kelas dunia. Aku bermimpi mengoleksi semua seri ini suatu saat nanti.
Buku Lelaki Tua dan Laut dapat terlihat di sudut kiri bawah. Desain sampul seri ini menarik hatiku. Judul-judul yang terpampang di foto di atas belum menampilkan semua judul seri yang totalnya berjumlah 27 buku tersebut.
Menikmati sastra bukan hanya memperkaya jiwa dan bahasa, melainkan juga menelusupkan kedalaman pemaknaan ke dalam hati. Pemaknaan yang dalam ini mampu hadir meski dalam bentuk karya yang tidak terlalu panjang, seperti novel ini, atau bahkan dalam cerita-cerita pendek seperti karya-karya Kafka. Pemaknaan yang dalam semacam ini yang sedikit sekali aku lihat dalam karya-karya pengarang Indonesia. Terlebih para pengarang yang populer belakangan yang menurutku hanya menang di marketing karena mampu menggaet begitu banyak pembaca dengan cerita-cerita yang dangkal dan sekadar menjual kutipan-kutipan statusable yang sok bijak yang keluar secara klise dari mulut tokoh-tokohnya.
Hanya beberapa pengarang Indonesia yang aku rasa punya pemaknaan yang dalam, dan rata-rata cenderung kurang populer. Pengarang yang punya pemaknaan dalam namun juga cukup populer aku rasa dapat dihitung jari. Kalau harus menyebut aku hanya akan menyebutkan dua nama: Eka Kurniawan untuk prosanya dan M Aan Mansyur untuk puisinya.










