Apakah Benar, Hanya GM Yang Mampu Menulis Sesuatu Seperti Catatan Pinggir?
Aku baru saja menyelesaikan Catatan Pinggir Goenawan Mohamad edisi yang ke-13. Gila. Catatan Pinggir ini adalah salah satu esai paling konsisten di Indonesia, bahkan mungkin juga di dunia. Aku belum pernah menemukan seseorang yang menulis esai sekonsisten GM menulis Catatan Pinggir ini.
Konsistensi ini, beriringan dengan kualitasnya, adalah sesuatu yang sangat ingin aku contoh. Blog ini pun, yang aku beri tagline "Makna Peristiwa", adalah sesuatu yang aku harapkan bisa menjadi "Catatan Pinggir"-ku sendiri. Sesuatu yang kemudian menjadi karakter kepenulisanku yang khas.
Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya, apakah ada yang mampu menulis seperti GM menulis Catatan Pinggir? Sampai sekarang pula aku masih belum menemukan jawabannya. Meski, tentu saja, selain GM aku juga menyenangi esai-esai pengarang yang lain. Sebut saja Eka Kurniawan, Puthut EA, Saut Situmorang, dll.
Aku juga bertanya-tanya, dari kalangan para penulis muslim, yang menyatakan diri sebagai penulis karya-karya islami, belum ada yang menurutku mampu menulis seperti GM. Aku membaca Salim A. Fillah, Adian Husaini, Felix Siauw, dll., namun semuanya belum bisa memberi kepuasan logis, etis, dan estetis sekaligus sebagaimana yang aku dapatkan dari Catatan Pinggir.
Selain itu, sesuatu yang paling membuatku kagum dengan Catatan Pinggir adalah kekuatan kutipannya. Mulai dari sumbernya, caranya, hingga kontekstualisasinya yang menurutku begitu pas, begitu mengena. Suatu karya yang berusia berabad-abad, bisa terasa begitu segar, dekat, dan relevan ketika tersaji di Catatan Pinggir. Begitu juga data-data sejarah.
GM menurutku mampu menjahit kata-kata dengan sangat rapi. Kepada temanku, aku pernah berkata bahwa menulis adalah mengenai menjahit kata-kata. Kita memungut kepingan-kepingan dari sana sini, informasi, pengetahuan, ide, gagasan, dll., kemudian menjahitnya menjadi sesuatu yang baru.
Aku juga ingin mampu menjahit sebaik itu.










