Dunia adalah perpustakaan besar yang disediakan Tuhan, perjalanan mengantarkan kita bertemu dengan buku-buku berjalan yang penuh cerita, tapi tak menutup kemungkinan tanpa berjalan mengitari dunia pun kita menemukan buku-buku terbaik di sekitar kita.
Ra, bagaimana kuliah? Teman-teman barumu bagaimana? Ku yakin mereka pasti baik padamu, karena aku tau bagaimana caramu memperlakukan mereka yang kau anggap teman. Ngomong soal teman Ra, beberapa bulan ini banyak sekali aku berkenalan dengan teman-teman baru, entah melalui media sosial, melalu seminar, ataupun tak sengaja bertemu di toko buku maupun kedai kopi. Mereka punya latar belakang yang berbeda-beda Ra, ada beberapa dari mereka hidup di Ibukota sama sepertimu, ada beberapa yang hidup di kota yang lebih besar dan lebih maju daripada Malang, dan ada beberapa mereka yang seumur hidupnya tak pernah sekalipun keluar dari kota kelahirannya.
Memang manusia itu unik ya Ra, ada mereka yang sepertiku tak bisa diam diri saja di dalam rumah, maunya selalu berkeliling kota, atau bahkan meninggalkan kota kelahiran untuk mencari kata 'tenang' atau inspirasi baru. Dan ada orang-orang yang begitu betahnya tinggal dan menetap di satu daerah sepanjang hidupnya. Beberapa orang di luar sana pasti akan mengutuk tipe orang kedua, menurut mereka orang-orang yang hanya tinggal dan menetap di satu tempat dengan jangka waktu yang lama atau bahkan sepanjang hidupnya bukanlah orang yang mampu untuk berpikiran terbuka, tak bisa beradaptasi dengan hal-hal baru, atau sekedar takut untuk keluar dari zona nyaman. Tapi apa kah dengan berpikiran seperti itu menunjukkan bahwa mereka (yang mungkin saja) suka untuk berjalan-jalan keliling dunia menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang dengan pikiran terbuka? Ku rasa tidak Ra, justru sebaliknya. Orang-orang yang enggan keluar dari rumah atau suatu daerah itu lebih banyak yang berpikiran terbuka, mereka mengakui bahwa berdiam diri di rumah pun menenangkan, menetap di suatu daerah pun tak melulu membosankan, mereka pun mengamini bahwa berkeliling kota seperti orang-orang juga membuka wawasan dan mereka tak banyak protes tentang itu. Ku rasa Ra, orang-orang itu sudah menemukan dirinya sendiri di sudut kamar mereka, di tiap-tiap lampu merah di kotanya.
Aku sering sekali menemukan orang-orang yang dengan lantang mengatakan untuk berpikiran terbuka atau bahasa kerennya open-minded tapi mereka sendiri tak menunjukkan hal itu. Mereka tetap mengutuk orang-orang yang tak sepaham dengan mereka, mereka mencaci hal-hal yang 'menurut mereka' tak sesuai dengan istilah kekinian itu. Bukan kan itu aneh Ra? Hipokrit sekali bukan mereka itu? Menyuruh orang lain untuk berpikiran terbuka tapi juga mengutuk perbedaan yang ada.
Ngomong-ngomong soal perbedaan Ra, sepertinya aku tau kenapa baik kau atau aku begitu suka berada di keramaian, ikut kegiatan ini dan itu, berkumpul bersama teman atau orang-orang yang bahkan belum dikenal. Alasannya mungkin, karena kita suka sekali membaca Ra. Haha, jangan mengernyitkan dahi seperti itu. Kau pasti bertanya kan, memang apa hubungannya suka membaca dan berkumpul atau bertemu orang baru? Tau tidak Ra, setiap manusia itu adalah kumpulan cerita, mereka itu, ah tidak kita ini, manusia, adalah sebuah kumpulan cerita. Nah jika manusia saja adalah kumpulan cerita berarti kita ini adalah? Yep, tepat Ra. Manusia itu adalah buku-buku yang suka sekali kita baca.
Ada mereka-mereka yang hidupnya penuh drama dan kasih sayang, ada mereka-mereka yang hidupnya penuh perjuangan, ada yang selalu mengumbarkan cerita-cerita fiksi, dan begitupun sebaliknya, manusia-manusia data yang mungkin terdengar kaku tapi itulah kita Ra, manusia, sebuah kumpulan cerita, sebuah buku penuh dengan misteri dan hal-hal yang perlu kita pelajari.
Bagi mereka-mereka yang memilih untuk tetap tinggal di dalam rumah, untuk menetap disuatu wilayah, mungkin mereka menikmati sekali membaca orang-orang di sekitar mereka, atau mungkin sudah puas dengan membaca cerita-cerita itu dari kertas-kertas yang tersusun menjadi buku sebenarnya. Tidak seperti kita-kita yang suka sekali becengkrama dengan keramaian, berjalan melintasi kota-kota, melalui stasiun-stasiun, berpindah dari satu terminal ke terminal, menghabiskan waktu di ruang tunggu bandara atau bahkan tidur bersama di geledak kapal pesiar yang tak bisa dibilang mewah namun menghadirkan cerita yang menyenangkan atau mungkin sebaliknya?
Ya setiap manusia memilih buku mereka sendiri-sendiri Ra, memilih bagaimana cara menikmati hidup mereka. Sama sepertimu yang suka sekali membaca disela-sela kesibukan kerja di waktu-waktu produktif atau sepertiku yang lebih suka membaca buku-buku sebelum pergi tidur yang katamu itulah kesalahanku sampai-sampai aku tak bisa tidur karena terlalu banyak pikiran dan membayangkan apa yang di buku.
Oh ya satu hal lagi Ra, setiap manusia adalah buku-buku yang menarik, buku-buku yang bagus, mereka semua bisa ku katakan best-seller di mana pun, jadi beritahu ke seluruh teman-temanmu jangan ragu. Jangan ragu untuk membaca buku, buku-buku berjalan itu, jangan ragu untuk berkenalan dengan orang-orang baru. Yakinkan mereka satu hal, setiap diri adalah cerita yang baik tergantung dari sudut pandang mana kita membacanya, kita memahaminya.