Terkadang kita menjadi pelupa akut saat sedang ingin mengingat sesuatu di masa lampau dan terkadang sesuatu itu datang tiba-tiba tanpa perlu mengingat.
Akupun mengalaminya tadi pagi.
Beberapa kejadian di masa lampau tiba-tiba muncul sesaat aku melihat seorang laki-laki mengantarkan anak laki-laki ke sekolah menggunakan vespa. Anak laki-laki itu turun lalu menciumi tangan ayahnya dan melambai dengan senyum sumringah. Sang ayah membalas lambaian lalu pergi setelah anaknya benar-benar masuk.
Setelah kejadian itu semua hal saat aku kecil memutar tiba-tiba. Padahal beberapa waktu lalu ada seorang teman yang menanyakan hal paling berkesan saat kecil dan aku tak mengingatnya.
Bagaimana aku kecil pergi ke sekolah berbarengan dengan ibu yang hendak ke pasar di pagi buta. Jalanan dulu tak seperti sekarang. Dulu berantakan, belum ada lampu merah. Kemungkinan macet itu pasti. Aku sering terlambat saat tiga bulan pertama ke sekolah karena menunggu Ayah yang harus bersih-bersih warung dulu. Aku dihukum meski bersama Ayah. Setelah itu aku tak mau sekolah lagi. Maka menghindari aku terlambat dan mogok sekolah, aku kecil pergi bersama ibu. Atau istilahnya “sekalian”.
Aku tiba di sekolah lebih pagi, sebelum jam enam sudah di kelas. Itupun tak dihantar ibu. Aku berpisah dengan ibu saat aku turun angkot. Dulu belum ada motor sendiri jadi mengandalkan angkot. Tiap pagi juga, ibu selalu memberikan sarapan kepada satpam sekolah karena membantuku menyebrang dan “sekalian” menitipi aku.
Aku selalu jadi anak yang pertama tiba di sekolah. Dan hal yang kulakukan saat sendiri di kelas adalah piket meski bukan jadwalku. Setiap hari. Menyapu, merapikan kursi, menyirami tanaman, menghapus papan tulis dengan bantuan kursi, merapikan meja guru.
Dan aku diapresiasi oleh guru kelas tapi tidak dengan teman-temanku. Ya begitulah, karena temanku cuma satu, namanya Nurul. Itupun tak begitu dekat. Entahlah.
Huft, aku saja masih lupa bagaimana pertama kali aku masuk sekolah.
kemarin tidak sempat menulis catatan karena kesibukan (ellaaahh :D)