Sebagaimana ingin diperlakukan memperlakukan 🌸✨
Cosimo Galluzzi

Andulka
Lint Roller? I Barely Know Her
art blog(derogatory)
todays bird
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

PR's Tumblrdome
sheepfilms
Stranger Things
dirt enthusiast

Kiana Khansmith
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Alisa U Zemlji Chuda
I'd rather be in outer space 🛸

oozey mess
hello vonnie

izzy's playlists!
One Nice Bug Per Day
RMH

@theartofmadeline
seen from United States

seen from United States
seen from Ecuador

seen from France
seen from Egypt

seen from Philippines

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Belarus

seen from United States

seen from United States
seen from Indonesia

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from United States
@ahlaa-y
Sebagaimana ingin diperlakukan memperlakukan 🌸✨
Tempat ternyaman untuk bersandar hanyalah Allah.
Apadaya manusia, manusia adalah makhluk ciptaan Nya, yang pasti bisa kapan saja mengecewakan.
Stop berharap, bersandar pada manusia, jika tak ingin jumpa dengan kecewa.
Pada akhirnya kita akan dipertemukan dengan yang Allah pilihkan, tidak selalu dengan orang yang kita inginkan. Jika keinginan Allah dan keinginan kita sama berarti itu bonus ✨
Takdir Allah itu selalu baik, terus berusaha husnudzon kepada Nya.
Semoga dengan ikhlas dan ridho dengan takdir Nya, Allah mudahkan jalan kita dari kesulitan kesulitan dunia hingga menuju Jannah Nya
Magelang, 2 Februari 2025
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
“Allahumma Inni A’udzu Bika Min Syarri Sam’i, Wa Min Syarri Bashari, Wa Min Syarri Lisani, Wa Min Syarri Qalbi, Wa Min Syarri Maniyyi”
.” (HR. Tirmidzi)
Mengagumi pilihannya.
Kita seringkali mengagumi pilihan-pilihan orang lain yang terasa lebih mudah, lalu menganggap pilihan yang telah kita pilih sedikit lebih sulit.
Tapi pertanyaannya;
Jika itu sulit, mengapa kamu mau memilihnya?
Lalu jika milik orang lain itu mudah, mengapa kamu tidak memilihnya?
Pada akhirnya, semua itu tentang kesyukuran yang beriringan dengan relativitas. Ketika kita menganggap pilihan orang lain itu mudah, bisa jadi menurut mereka pilihan tersebut sangatlah sulit. Sebaliknya, apa yang kita anggap sulit, mungkin bagi orang lain adalah tantangan yang menarik.
Mengagumi pilihan orang lain memang tidak ada batasnya, dan juga tidak ada salahnya. Namun, berusaha menyamakan persis beberapa pilihan kita dengan pilihan orang lain tampaknya sedikit keliru. Karena boleh jadi, saat kita sudah memilihnya, pilihan yang terlihat mudah tersebut tidak lagi terasa mudah.
Oleh karenanya, saat kita sudah memilih, maka cintailah pilihan itu. Saat kita sudah menenggelamkan diri dalam cita panjang untuk menaklukkan pilihan tersebut, maka berjuanglah habis-habisan. Di akhir nanti, pilihan kita akan terlihat mudah dan indah, saat sudah mencapai puncaknya.
Semangat mencintai dan menjalani pilihan yang telah dipilih, ya. :)
@faramuthiaa
Bogor, 7 Agustus 2023 || 16.08
Nasabmu Tidak Menetukan Nasipmu
Jika kita bisa memilih sebelum lahir, mungkin tidak ada yang mau lahir dari keluarga yang kurang mampu, tidak ada yang mau lahir dari keluarga yang broken home, karena itu Allah tidak memberi kita pilihan sebab Allah tahu apa yang terbaik untuk setiap hambanya. Jangan pernah menyalahkan nasab hanya karena nasib kurang baik, ingat bahwa nasab tidak bisa dipilih sedangkan nasib bisa dipilih dan bisa diperbaiki semua itu tergantung dari usaha dan do'a yang kita lakukan.
Seadainya kamu termasuk orang yang nasabnya kurang baik, aku sarankan jangan pernah merasa berkecil hati apalagi sampai menyalahkan orang tuamu sendiri , lakukan hal sebaliknya yaitu belajar dan mengaji. Manfaatkan waktumu dengan sebaik mungkin putuskan rantai yang kurang baik dalam dirimu dan buatlah rantai baru yang lebih baik untuk keluargamu kelak di masa depan. Anak-anakmu berhak mendapatkan yang lebih baik dari dirimu. Apapun itu selagi bisa diikhtiarkan dan diupayakan pasti akan ada hasil yang lebih baik yang terpenting kita yakin sama yang Maha Rahman.
Fokusmu bukan mengeluh dan menyalahkan keadaan melainkan belajar dan mencari hikmah dari apa yang sudah Allah tetapkan kepadamu, karena kamu diberi akal jadi harus digunakan dan dimamfaatkan dengan cara yang baik dan benar.
Tulisan: Pesawat
Jika kamu begitu yakinnya pada pilot yang sedang menerbangkan pesawat, padahal mengenalnya saja kamu tidak, sementara ragamu tergadaikan antara jatuh atau selamat.
Seharusnya kamu lebih bisa yakin dan menyerahkan diri pada Allah atas semua yang hari ini kamu khawatirkan. Rezeki, jodoh, keluarga dan semua gemuruh hati.
Ikhtiarkan dengan ikhtiar yang terbaik dan semaksimal mungkin, doakan dengan doa yang penuh keyakinan dan prasangka baik, kemudian pasrahkan pada-Nya dengan sepenuhnya pasarah.
Sebab Tuhanlah yang menjadikan pesawat itu bisa terbang dan landing dengan selamat, Tuhan pula yang memberikan kemampuan dan ilmu pada pilot. Tuhan kita sama meski kita berbeda tempat dan waktu.
Kadang, kita terlalu menuhankan kekuatan dan kuasa kita, padahal kita hanyalah hamba biasa, penuh kurang dan cacat.
Sebab kamu mengenal-Nya, maka Dia akan membersamai dan menolongmu.
@jndmmsyhd
Manajemen Futur
@edgarhamas
"Jadi, bagaimana caranya agar kita tidak futur?" begitulah yang teman-teman tanya dalam banyak sharing.
Alih-alih menjawab tips dan trik, saya malah selalu menjawab, "rasa futur itu pasti ada. Justru Baginda Rasul mengabarkan bahwa amal itu pasti ada masa semangat dan futurnya."
Ini menarik sekali, Rasul begitu pas menjelaskan bahwa manusia itu tak bisa selalunya on fire. Ada masa turunnya, ada saat-saat lemahnya. "Sesungguhnya segala sesuatu ada masa semangatnya. Dan setelah masa semangat itu ada saat-saat lelahnya." (HR Ahmad)
Maka seorang guru pernah menasihati, "jika kamu sedang futur, itu fitrah. Semua orang pernah merasakannya. Namun ada caranya agar ia tak terlampau lama." Beliau mengajarkan, sefutur-futurnya kita, jangan sampai memutus 100% amal yang biasa kita kerjakan.
Jika kita biasa shalat tahajud, setidaknya kita tak meninggalkan 1 rakaat witir ketika futur. Jika kita biasa baca zikir pagi-sore yang panjang, setidaknya kita tetap membacanya meskipun sebagian kecil wiridnya.
Sebab futur bukan memberhentikan amal. Lemas bukan berarti mati.
Itulah mengapa Rasul bersabda, "siapa yang futurnya tetap pada sunnahku, ia telah mendapatkan petunjuk."
Sebagian ulama berkata, "maksudnya sunnah di hadits itu adalah; meski sedang lesu beramal, hendaknya ia masih melakukannya meski kuantitas dan kualitasnya tak seperti biasa."
Wahb bin Munabbih melengkapi narasi tentang hal ini, "Siapa yang tetap mencoba untuk beribadah meski lelah; justru kekuatannya akan bertambah. Dan siapa yang memilih untuk tunduk pada kemalasan; rasa futurnya justru akan bertambah lama." (Kitab Az Zuhd, Imam Ahmad)
Dan kita tahu akhirnya, justru dengan mengilmui futur; kita tahu ia bukanlah terjunnya iman kita hingga roboh tak bersisa. Ternyata ia episode; kelak akan berakhir, kelak ia akan bergulir.
Seperti gelombang yang naik turun; nyatanya ia tetap mengalir, tak diam dan berhenti.
KESIMPULAN BAHASAN
PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM
📌 Dasar-dasar dalam Dunia Pendidikan Anak Menurut Sunnah Nabi Shallallahu 'Alahi Wasallam
1. Dasar Yang Pertama Pendidikan beliau Shallallahu 'Alahi Wasallam Berdasarkan dua Wahyu: WAHYU AL QUR'AN DAN WAHYU AS SUNNAH
2. Yang kedua dasar dalam dunia pendidikan anak menurut Sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alahi Wasallam.
📍Tujuan Pendidikan Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam:
“Bahwa pendidikan beliau Shallallahu 'Alahi Wasallam MENJADIKAN MANUSIA SEUTUHNYA. MAKNANYA MENJADIKAN MANUSIA SESUAI UNTUK APA ALLAH MENCIPTAKAN MANUSIA, YAITU UNTUK BERIBADAH”
📍 Contoh-contoh pendidikan anak dari Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam
1. Memperkenalkan perintah-perintah dan larangan Allah
2. Diajarkan tentang Haq-haq Allah. Diantara Haq Allah yang Terbesar; diibadati, disembah, ditauhidkan
3. Diajarkan untuk mengingat Allah dalam setiap keadaan; susah maupun senang
4. Diajarkan untuk meminta hanya kepada Allah (baik dalam urusan dunia atau urusan akhirat, juga dalam urusan meminta pertolongan)
5. Diajarkan untuk bertawakal kepada Allah sepenuhnya
6. Diajarkan untuk bersabar atas segala sesuatu yang ia tidak sukai
7. Perintahkan anak untuk shalat ketika umur 7 tahun, dan pukul lah kalau mereka meninggalkan shalat ketika mereka berumur 10 tahun (yakni dengan pukulan yang tidak menyakitkan, tetapi pukulan yang untuk memberikan pengajaran) Untuk memperlihatkan kekuasaan bapak atau wali
8. Diajarkan tentang adab. Adab makan, dan tanpa terkecuali adab-adab yang lain termasuk adab kepada orang tua
9. Tidak diperbolehkan membentak anak
10. Diajarkan anak itu agar jangan memakan sesuatu yang haram, jangan memakan sesuatu yang tidak halal bagi dia, jangan memakan hak orang lain.
📍 Rincian-rincian Pendidikan anak dalam islam berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah
1. Diajarkan tentang Ilmu dan kewajiban menuntut ilmu; tentang Tauhid, tentang Ibadah, tentang pengetahuan Halal dan haram, tentang Hal yang Allah perintahkan dan Allah larang, tentang adab dst.
2. Diajarkan untuk berilmu dahulu sebelum beramal dan berucap.
3. Diajarkan agar tidak berkata (dan beramal) tanpa ilmu.
4. Diajarkan untuk bertanya kepada ahli ilmu apabila ia tidak mengetahui suatu hal
5. Diajarkan tentang Tauhid (dengan bahasa yang mereka pahami)
6. Diajarkan kepada mereka tentang Sunnah Nabi (dengan bahasa yang mereka pahami)
7. Diajarkan tentang Manhaj, dan ditanamkan kecintaan dalam dirinya kepada para sahabat
8. Diajarkan tentang Ibadah
9. Diajarkan tentang amar ma'ruf nahi munkar
10. Diajarkan tentang adab dan Akhlak
Oleh Al Ustadz Al Walid Al Fadhil Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidzahullah
Sumber: https://youtu.be/pJWlsrM4rWc
Baru aja tadi pagi scrolling YouTube dan nemu topik TedX tentang berapa pentingnya conversation bagi perkembangan anak.
Siangnya langsung dihadapkan pada situasi yang menampilkan secara real betapa membuat percakapan dengan anak adalah cara yang ampuh dalam menumbuhkan trust anak pada kita.
Jadi tadi, rekan kerja saya bawa anaknya ke kantor. Dua laki-laki.
Ketika temen saya ini mau ninggalin mereka dulu sebentar, anaknya dikasih HP (like almost people nowadays do).
Bereksperimenlah saya. Ngajak mereka ngobrol. Menggali topik apa yang mereka sukai, mendengarkan cerita (fantasi) mereka.
Fokus tanpa distraksi.
Mata menatap mata, gesture tubuh menghadap mereka. Sesekali juga mengusap kepala.
Cuma kurang dari 30 menit. Mereka berhasil saya taklukkan.
Mereka manggil2 saya terus. Ngajak ngobrol terus. Sampe HP nya nggak digubris.
MasyaAllah kata saya dalam hati.
Betapa anak2 itu sebenarnya cuma butuh satu dari kita: perhatian penuh, utuh, dari kita sebagai orangtua.
***
Ini juga jadi salah satu hal penting yang patut saya syukuri dalam perjalanan parenting saya, tentunya ditengah banyak kekurangan saya sebagai orangtua. Saya nggak pernah absen ngajak anak ngobrol. Tentang apapun! Hasilnya, anak2 menjadi terikat secara emosional dengan saya, merasa butuh bercerita setiap hari yang akhirnya itu jadi media mereka dalam belajar menumbuhkan rasa percaya dirinya.
Sampai akhirnya, rasa trust itu muncul. Yang menurut saya, itu adalah capaian tertinggi yang bisa didapatkan seseorang dalam sebuah hubungan.
***
Merasa didengar,
Merasa diperhatikan,
Merasa dirinya dianggap penting dan berharga...
Bukankah, kita sebagai orang dewasapun, senang dan punya kebutuhan untuk diperlakukan seperti itu?
***
Ya Allah, semoga Engkau senantiasa memberikan kami pemahaman yang lurus.. Kekuatan dan kemampuan untuk membersamai tumbuh kembang anak-anak kami... Rabbi habli minssholihin...
BEBAN PSIKOLOGIS ANAK MONDOK USIA DINI
Dia berdiam seorang diri menatap gelapnya malam diluar bangunan asrama tepatnya di selasar menuju masjid sambil termenung. Sementara santri santri lainnya asyik bercengkrama di kamar asrama dan sebagian bersiap siap untuk tidur, karena waktu sudah menunjukkan pukul 21.45 WIB.
Aku lihat dia melihatku keliling di depan 2 asrama besar, karena kebetulan malam itu aku punya kesempatan untuk nengok keadaan santri di malam hari. Kemudian aku hampiri santri tersebut.
"Assalamualaikum kaifa hal Hanif?" tanyaku. "Bekher ustadz", jawab santri tersebut sambil malas menanggapi sapaanku, kemudiaan aku lanjutkan, berbincang dengannya, "Eich udah kabir (besar) kok nangis?", tanyaku lagi, "Iya ustadz kemaren katanya mama, mau kesini jenguk aku, tapi ga jadi jadi. Padahal janjinya hari ini ke sini" katanya dengan wajah murung.
Oh... mau telepon mama nanya jam berapa berangkat ke sininya ?" tanyaku..
Ia mengangguk dan wajahnya jadi sumringah.
Kupinjamkan HP, dan dia bercakap di depanku..
“Mama jadi kesini jam berapa?” tanyanya
Wajahnya tiba-tiba berubah, matanya berkaca-kaca.
“Oh .... iya.... iya udah gak apa-apa... tapi nanti mama jenguk aku yaa?? Kapan ma??”
Wajahnya terlihat semakin kecewa dan air matanya mulai jatuh, di serahkan hp yang masih tersambung.
“Halo.. assalamualaikum... afwan um, gimana?” tanyaku..
“Iya ustadz.. tolong kasih pengertian anak saya yaa... saya gak bisa jenguk. Sebenernya sih kita emang gak mau sering jenguk, karena kita gak mau dia terlalu manja. Dia bulak-balik minta ijin pulang, cuma takutnya kalau dibawa pulang dia gak mau balik lagi ke pondok. Biarin aja lah mau nangis terus sekarang ini, ana insya Allah percaya sama pondok, nanti juga lama-lama biasa”, kata sang bunda di ujung telepon sana.
“Keningku mengernyit mendengar ucapan sang bunda, gak dijengukin aja um, barang sesekali, soalnya tidak hanya sekali ini saya dapatin putranya nangis terus, mohon kasih pengertian putranya. Kasihan um putranya sedih.” Ku coba melobby hatinya..
“Enggak lah ustadz, biarin aja. Nanti juga lama-lama biasa”, suaranya terdengar yakin diujung telepon..
Baiklah... bukankah setiap orang tua memiliki hak memilih cara mendidik anak-anaknya.
Ku tutup telepon, kutarik nafas panjang dan menghembuskanya pelan-pelan. Kutatap mata berurai air mata tanpa isak, hanya ditemani tatapan kosong entah memandang apa.
“Mama belum bisa kesini Nif... nanti kalau mama gak repot mama mu nanti ke sini. Sementara ini biarkan ustadz yang jadi orang tua buat mu yaa... boleh?” tanyaku..
Dia mengangguk lemah, air matanya semakin banjir, kali ini pundaknya hingga terguncang-guncang menahan isak. Sesak rasanya dada ini melihatnya, tapi kucoba untuk berusaha menenangkannya.
“Yaa sudah... keluarin aja sedihnya sampai puas.. boleh kok nangis..boleh” kataku...kubiarkan dia menangis.
“Aku kayak dibuang ustadz, santri lain ditelepon, ditengok, diajak jalan ke Salatiga, Solo, Yogya, sedangkan aku enggak. Ana sedih tadz, gak ada tempat ngadu, gak ada tempat cerita, ana sendirian” ucapnya ditengah isak.
“Iyaa... sekarang kan yang nengok ustadz, kamu kan ga sendirian, ada musyrif ada wali kelas. ada teman teman kamu yang juga dari jauh mondok disini.., sudahlah nanti kamu boleh cerita ke ustadz, boleh ngadu, ga usah takut dibilang "lemes" (sering ngadu)” istilah santri di pondok. Sembari menenangkan.
Dia menganggukk.. perlahan tangis dan isaknya mereda.
Dia bercerita bagaimana dia merasa tertekan atas sikap teman-teman sekelasnya, merasa terintimidasi dengan sikap teman sekamarnya. Ia sedang merasa sedih karena merasa diperlakukan tidak adil. Aku hanya mendengarkan hingga ia selesai bercerita lalu memberi sedikit nasehat. Ia semakin terlihat tenang.
“Makanan kesenanganmu apa?” tanyaku
“Sop Iga..” jawabnya..
“Ya udah nanti minggu depan Insya Allah kita jalan ke Salatiga, tahu Joglo Bu Rini kan... disana sop iganya enak lho...”
“Beneran ustadz? soalnya ana sering denger santri lain klo diajak makan sama ortunya kesitu, katanya "Ajib stadz" tpi ana g tahu tempatnya” tanyanya...
“Insya Allah nanti ustadz ajak kamu. cuma enak apa enggaknya enggak tau, kan ustadz ga tahu kayak apa seleramu, yang penting nanti kita jalan....” kataku
Dia tersenyum....
“Ustadz gak pulang?... ini sudah malam”
“Iya bentar lagi, api kamu jangan nangis lagi yaaa...
ustadz sdh biasa kok sampai malam kayak gini, kan gak sering sering.”
Wajahnya jadi sumringah....
“Udah sana segera tidur sudah hampir jam 23.00, jangan lupa lapor musyrif nanti dighoib lho.. semangat yaa nak...”
Dia tersenyum dan kembali bersemangat.
Melihatnya berlari-lari kecil membuatku terharu...sesederhana itu saja sebenarnya menyenangkan hatimu...
Bagiku intensitas kita berkomunikasi dan menjenguk anak-anak bukan soal percaya tidak percaya pada pihak pondok. Tapi soal kewajiban orang tua memenuhi hak psikologis anak yang masih jadi kewajiban orang tua.
Anak laki-laki usia 12-13 tahun belum usia baligh dimana dalam islam dianjurkan untuk dekat dengan orang tuanya.
Dari Ubadah bin Shamit, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang memisahkan antara ibu dan anaknya.
Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” “Sampai mencapai baligh bila laki-laki dan haidh bila perempuan,” jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Al Hakim dalam Mustadroknya. Al Hakim berkata bahwa hadits tersebut sanadnya shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari-Muslim).
Hadits tersebut sebenarnya membicarakan tentang pengasuhan anak ketika terjadi suami-istri bercerai, siapakah yang berhak mengasuh anak tersebut.
Namun hadits itu juga mengandung faedah lainnya. Hadits tersebut berisi penjelasan bahwa sebaiknya anak tidak jauh dari ibu atau orang tuanya ketika usia dini. Karena usia tersebut, anak masih butuh kasih sayang orang tua, terutama ibunya.
Namun dikarenakan kondisi lingkungan dan berbagai media yang mengancam aqidah dan akhlak, maka kebanyakan orang tua yang sadar akan dampak negatif tersebut, banyak memilih memasukkan anaknya kedalam pesantren agar tertanam erat aqidah dan akhlaknya, tapi bukan berarti boleh melepaskan begitu saja hak anaknya untuk dekat dengan orang tua.
Dari Abu ‘Abdirrahman Al Hubuliy, dari Abu Ayyub, ia berkata:
Aku mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan dia dan orang yang dicintainya kelak di hari kiamat.” (HR. Tirmidzi no. 1283. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).
Maka untuk mengakomodir kewajiban orang tua menanamkan aqidah dan akhlak mulia anak dan melindungi dari lingkungan yang berpotensi merusak akhlak, sebelum usianya baligh beberapa orang tua yang memiliki dasar pemahaman sesuai hadits ini akan menjaga kualitas komunikasi dan kedekatan dengan anak.
Banyak orang tua berpikir..aah lama-lama juga terbiasa...lama-lama juga betah tanpa mempertimbangkan hak psikologis dan batin anak. Menjadi betah di pondok karena sekedar terbiasa akan berbeda hasilnya dengan menjadi betah karena merasa pondok tak ubahnya rumah yang tetap terisi aroma kasih sayang orang tua karena proses adaptasi bertahap dengan pendampingan orang tua.
Pondok yang paling cocok dengan anak-anak diusia dini bukanlah pondok yang walaupun jauh dengan memiliki asatidzah yang hebat dan fasilitas yang mantap, tapi pondok yang dekat dan tidak menjauhkan anak anak baik dari segi jarak maupun mental, agar chemistry kedekatan anak dan orang tua tetap terjaga. Dan ingat, usia 12-14 tahun adalah masa pubertas anak yang sarat dengan gejolak jiwa yang perlu kedekatan komunikasi.
Berapa banyak anak yang lulus pondok kualitas akhlak dan aqidahnya lebih buruk daripada yang tidak mondok?
Berapa banyak orang yang hafidz Alquran namun gagal mengimplementasikan makna alquran sesungguhnya.
Berapa banyak anak yang lulus dari pondok kehilangan kelembutan cinta karena merasa kurang dicintai.
Berapa banyak anak yang justru hambar hubungannya dengan orang tua dan menjalankan kewajibannya pada orang tua hanya sekedar kewajiban tanpa cinta.
Walau bagaimanapun semua tergantung anaknya dan orang tuanya. Karena ustadz / ustadzah hanyalah fasilitator dan fasilitas hanyalah pendukung. Sedang dasar akhlak dan aqidah anak anak tetaplah kewajiban kita sebagai orang tua karena kita yang akan dihisab soal itu, bukan ustad/ustadzahnya.
Banyak orang tua mampu menjadikan anak-anak yang shalih, tapi tidak semua anak shalih ingat untuk selalu ingat mendoakan orang tuanya saat ada, apalagi setelah tiada. Karena antara ada dan tiada orang tua, mereka biasa merasa orang tuanya tidak ada di masa-masa ia membutuhkannya.
Semoga kita bisa jadi orang tua yang dirindukan surga karena doa anak-anak shalih kita. In syaa Allah.
Barokallahu fiikum,
Renungan untuk kita semua yang anaknya di pondok...
Sumber : Grup wali santri MTW 7C Pesantren Islam Al-Irsyad Tengaran 2
Semoga selalu bisa menghargai diri sendiri; menghargai perjuangannya, kerja kerasnya. Semoga kita selalu mencintai diri sendiri, tidak mencaci, tidak memaki. Karena selama ini diri kita yang menemani kala sedang resah, kala sedang kalah. Semoga kita tidak berhenti untuk mencintai diri kita sendiri.
@menyapamakna1
Orang yang pandai bersyukur adalah orang yang tidak akan membandingkan nikmat yang orang lain punya dengan nikmat yang Allah berikan kepadaNya. Bagaimanapun keadaannya ia paham bahwa semuanya sudah tertakar dengan takaran yang adil menurut Allah, dan pasti tak akan pernah salah.
Hatinya akan senantiasa bersyukur, dan mengharap datangnya keberkahan. Sebab yang terpenting dari nikmat itu bukan tentang banyaknya, tapi juga tentang berkahnya. Dari keberkahan itu yang akan mendatangkan kebahagiaan di dunia juga di akhirat.
“Ya Allah berkahilah hidup kami, rezeki kami, dan keluarga kami.”
- catatan khadijah1998
#Repost @raehanul_bahraen
——
Masyaallah, semoga anak-anak kita menjadi generasi Al-Quran, terbentuk mental dan akhlak yang baik dan shalih
(Tulisan masyaallah perlu dikoreksi)
.
# Ingin Punya Anak Penghapal Al-Quran
.
“Terlihat sangat bangga orang tua yang anaknya sukses ketika wisuda, apalagi sang anak mendapatkan nilai tertinggi. Ternyata ada yang lebih membanggakan lagi, yaitu di hari kiamat, orang tua dinaikkan derajatnya dan akan dipakaikan mahkota kemuliaan dari cahaya karena anaknya menghapalkan Al-Quran”
.
Kita sangat ingin, bercita-cita dan bersungguh-sungguh menghapalkan Al-Quran. Terlalu banyak keutamaan bagi mereka yang menghapal dan mempelajari Al-Quran, derajat kita di surga dinaikkan sesuai dengan hapalan Al-Quran kita
.
Tidak hanya kita yang berusaha menghapalkan Al-Quran, kita usahakan juga anak-anak kita menghapalkan Al-Quran. Kita sangat berharap ada satu saja di antara anak kita yang menghapal Al-Quran, apabila tidak bisa semua bisa menghapalkan Al-Quran. Tentu kita berdoa dengan harapan yang tinggi yaitu agar semua anak kita bisa menghapalkan Al-Quran.
.
Keutamaan apabila anak kita menghapalkan Al-Quran adalah akan meningkatkan derajat orang tuanya di surga, kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota dari cahaya sebagai bentuk kemuliaan karena telah mendidik anak yang menghapalkan Al-Quran.
.
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,
.
“Barangsiapa yang menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan al-Abani)
.
Semoga kita bisa menghapalkan Al-Quran dan memilikianak yang menghapalkan Al-Quran. Aamiin.
BACA SELENGKAPNYA:
https://muslimafiyah.com/ingin-punya-anak-penghapal-al-quran.html
Penyusun: Raehanul Bahraen
Follow juga:
@muslimafiyahcom
#raehanulbahraen #indonesiabertauhid #muslimafiyah #alquran #menghapal #dakwah #hafidzquran
Yang berjuang belum tentu menang. Yang menyerah belum tentu kalah. Dan yang biasa saja belum tentu orang biasa. Yakin lah bahwa proses itu yang menjadi nilai mu. Hasil hanya hadiah dari Tuhan.
Maka jangan pernah meremehkan proses. Apalagi proses kita di dunia. Allah akan menilai proses kita menuju surganya. Tp surga bukanlah yang bisa kita pastikan hasilnya dengan proses kita. Maka berproses lah yang baik. Hingga Allah rido dan mau memberikan kita surgaNya
Siapa kita?
Kenapa ya mudah sekali mengulang kebiasaan-kebiasaan buruk tapi sulit sekali membentuk kebiasan-kebiasaan baik?
Kebanyakan dari kita sering kali merasa sulit mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik pada beberapa hari, meskipun dengan upaya yang tulus sekalipun. Kebiasaan seperti berolahraga, membaca, menulis, dan lain sebagainya adalah sesuatu yang sangat menyenangkan selama sehari dua hari, tapi setelah itu rasanya menjadi sesuatu yang mengganggu.
Bagaimanapun, begitu terbentuk, kebiasaan itu terkesan melekat untuk selamanya—tapi biasanya ini malah terjadi pada kebiasaan-kebiasaan yang tidak diinginkan. Meskipun kita benar-benar menginginkanya untuk hilang, kebiasaan tidak sehat seperti terlalu lama bermain ponsel, makan makanan cepat saji, menunda pekerjaan, dsb. entah mengapa rasanya malah mustahil sekali untuk dihilangkan.
Mari kita pahami kembali orientasi perubahan kita!
Banyak dari kita memulai proses pengubahan kebiasaan dengan berfokus pada apa yang ingin diraih. Hal ini mengantarkan kita ke kebiasaan berbasis hasil. Mari kita mencoba untuk memulai proses membangun kebiasaan dengan berfokus pada ingin menjadi sosok seperti apa kita. Hal ini akan mengajak kita untuk menyadarkan kita terkait identitas diri yang akan membawa kita pada runtutan aksi dalam memperoleh sasaran yang kita tuju.
Sasaran (tujuan) itu baik untuk menetapkan arah. Sistem (aksi/proses) adalah yang terbaik untuk mendapatkan kemajuan. Dan identitas adalah apa yang diyakini (pandangan tentang diri, citra diri, penilaian terhadap diri sendiri) untuk menetapkan ingin memperbaiki diri.
Kebanyakan dari kita tidak mempertimbangkan perubahan identitas ketika menetapkan ingin memperbaiki diri. Terkadang kita hanya berpikir "Saya ingin menjadi juara(hasil) dan kalau saya belajar(proses), saya akan menjadi juara" kita menetapkan sasaran/tujuan dan menentukan aksi tanpa mempertimbangkan keyakinan-keyakinan yang mendorong aksi itu. Kita tidak sadar bahwa identitas lama kita dapat menyabot rencana baru kita untuk berubah.
Perilaku yang tidak sesuai dengan diri tidak akan tahan lama. Kita mungkin ingin menjadi juara, tapi identitas kita menunjukkan bahwa kita adalah orang yang enggan mengakrabi ilmu, bukan sesosok pecinta ilmu, jadi kita akan cenderung menjalankan proses belajar tanpa pemahaman (menjadi ahli) didalamnya, atau setelah tercapai, maka akan kita tinggalkan kemudian. Mengubah kebiasaan itu akan menjadi sulit jika kita tidak mengubah keyakinan (identitas) kita yang akan mengantarkan kita kembali ke perilaku lama. Kita mempunyai tujuan baru, rencana baru, tapi kita tidak mengubah siapa kita.
Perubahan perilaku adalah perubahan identitas (keyakinan). Kita mungkin memulai suatu kebiasaan karena motivasi, tapi satu-satunya alasan kita untuk mempertahankannya adalah karena itu bagian dari identitas kita.
Kita bisa membujuk diri kita untuk berolahraga atau mengonsumsi makanan sehat sekali dua kali, tapi jika kita tidak mengubah keyakinan dibalik perilaku itu, akan sulit untuk kita pertahankan dalam jangka panjang. Perbaikan menjadi bersifat sementara, kecuali kita membuatnya menjadi bagian dari diri kita.
Sasaran kita bukanlah membaca sebuah buku, sasaran kita adalah menjadi pembaca.
Sasaran kita bukanlah menjadi juara dalam suatu lomba, tapi sasaran kita adalah menjadi orang yang mencintai ilmu.
Sasaran kita bukanlah menyelesaikan hafalan Al-Quran (dengan satuan tempo waktu tertentu), tapi sasaran kita adalah menjadikan menghafal sebagai proyek hidup, menjadi seorang penjaga petunjuk cinta Rabb kita.
Perilaku kita biasanya mencerminkan identitas kita. Hal yang kita kerjakan menunjukkan tipe pribadi yang kita yakini adalah diri kita—entah disadari atau tidak. Penelitian menunjukkan bahwa, begitu kita meyakini suatu hal tertentu dalam identitas kita, kita mungkin bertindak selaras dengan keyakinan itu.
Mari tata kembali arah pandangan kita untuk menanam kebiasaan baik dari akarnya (keyakinan/identitas). Dan tak lupa ceritakan dengan detail tiap keinginan kita saat memulai-menjalankan semua perubahan baik pada Allah juga ya! Semoga senantiasa terkarunia keberkahan didalamnya!
Sudut refleksi || 19.9.22
—semoga ada manfaat yang Allah hadirkan untuk diambil