Yang ditanya nanti bukan matinya, melainkan selama hidup ngapain aja, yang ditanya nanti bukan seberapa sedih kehilangan orang yang disayang, tapi ketika Allah cabut nikmat tidak lagi hidup bersama orang yang disayang, kita ngapain.
Semudah itu Allah cabut kenikmatan dari hidup kita, nikmat sehat, nikmat ini dan nikmat itu, semudah itu, malam tersenyum subuh menangis. I've been there before, malam ketawa-ketawa sama temen, pagi duduk termenung menatap langit kaki rasanya melayang mendengar kabar ibunda tersayang telah tiada.
Semudah itu Allah mengambil nikmat yang Dia berikan, dari kehilangan saya belajar, hidup ini harus rajin-rajin dipupuk mengingat mati, harus rajin-rajin dipupuk untuk menyadari bahwa semua nikmat milik Allah, semua didunia ini milik Allah, Allah mau ambil kapan aja terserah pada Allah.
Bahkan diri kita ini milik Allah. Dan Allah tidak pernah memberi ujian/musibah dsj diluar batas kemampuan kita. Ada yang orangtuanya meninggal disaat dia sudah menikah, kenapa Allah nikahkan dia? karena Allah tahu kalau dikasih cobaan itu saat masih sendiri tidak akan sanggup menghadapinya seorang diri.
Ada yang dikasih cobaan bertubi-tubi saat masih sendiri, kenapa? karena Allah tahu dia bisa menghadapi itu. Ada yang pasangannya diambil saat anaknya masih kecil, ada anak yang diuji diambil kedua orangtuanya, yaps cobaan tiap orang beda-beda.
Jangan fokus di Qadha yang tidak bisa kita ubah, jangan fokus pada wilayah yang kita sama sekali tidak memiliki kuasa untuk merubahnya. Ikhlas-lah menerima kenyataan, menerima Qadha Allah, dan benahi kehidupan yang bisa kita ubah, Allah beri kita wilayah hidup dimana kita diberi kebebasan untuk memilih perilaku, ketika mendapatkan hal yang tidak kita suka, apakah kita akan berperilaku sesuai syariat, atau tidak.
Karena urusan Takdir bukan pada soalan ini kehendak siapa itu kehendak siapa, tapi pada persoalan Pahala & Dosa sebab ada pertanggung jawaban yang akan ditanyai atas setiap tindakan yang kita ambil. Dan kita semua belajar untuk ini.