Konsekuensi
Tentang ini, pernah menjadi bahasan diskusi saya dengan suami. Lumayan seru. Bahwa, segala sesuatu pilihan dalam hidup pasti ada konsekuensinya. Harus ada pemahman dan kesiapan, tentang sesuatu yang harus kita tanggung dan hadapi tesebab dari pilihan yang sudah kita yakini.
Kamu tidak bisa egois hanya ingin "enaknya sendiri" mendapatkan apa yang kamu mau, tapi membuang jauh - jauh apa yang kamu tidak sukai, padahal itu semua sudah sepaket. Tidak bisa begitu, karena hidup itu berpasangan, selang-seling, bergantian tidak bisa mulus, halus, sempurna.
Contoh:
- Kamu ingin sekali naik gunung. Tapi kamu tidak ingin capek, tidak ingin kepanasan, tidak mau kehujanan, tidak mau bawa beban berat.
- Kamu ingin jadi artis terkenal. Tapi kamu tidak mau repot - repot dikepoin wartawan, tidak mau hidupnya jadi sorotan, tidak mau diajak selfi desak - desakan.
- Kamu sering membagikan aktifitas kamu, keadaan kamu, keluarga kamu, anak - anak kamu. Tapi kamu tidak suka kalau netizen ada yang mengomentari macam - macam, tidak siap menerima saran - saran yang tanpa diminta.
Termasuk pilihan - pilihan lainnya; berwirausaha, ibu bekerja, ibu di rumah, melanjutkan sekolah, pendidikan anak dan lain - lainnya.
Oleh karena itu, ketika kita hendak memutuskan sesuatu pikirkanlah terlebih dahulu apa kita sanggup menerima konsekuensi yang akan kita tanggung? Juga mari mengukur diri, apa kita kuat menerima resiko dari apa yang kita lakukan?
Jika siap, lanjutkan dengan awalan niat yang baik. Saat di persimpangan atau pertengahan jangan menyesali, jangan mengeluh. Jangan runtuh sebab omongan orang yang ingin membuat jatuh. Jangan kalah dengan nyinyiran orang yang rasanya ingin membuat kita marah.
Jika tidak, tahanlah. Jangan setengah - setengah. Diam memang kadang membuat kita menjadi lebih tentram.
Tidak ada yang salah selagi kamu tahu, paham dan mengerti apa - apa yang kamu lakukan dan apa - apa saja yang jadi efek sampingnya dan kamu siap menerima segalanya.
Tidak ada dan tidak boleh ada yang memaksa, karena yang paling berhak menentukannya adalah kamu sendiri yang menjalani, kamu yang menghadapi dan kamu yang mempertanggungjawabkan.
Lakukan apa yang kamu mau, asal kamu bisa mempertanggugjawabkannya. Utamanya, dihadapan Allah. Sekarang ataupun nanti.
Depok, 13 September 2019
@mayliaptr








