Refleksi Tahun 2023: Kehilangan dan Palestina
Tahun ini adalah tahun yang sungguh luar biasa. Rasanya nano-nano. Semua hal yang telah terjadi benar-benar campur aduk jadi satu.
Memiliki kehilangan. Merasa hilang, adalah salah satu bentuk emosi. Emosi adalah salah satu kepemilikan, kepemilikan itu bisa datang dan bisa pergi. Kehilangan, sejatinya adalah perginya segala sesuatu yang kita miliki. Sejatinya juga, hal yang kita miliki sifatnya sementara. Termasuk orang-orang yang dikasihi, suatu saat Allah akan mengambilnya. Ketika itu terjadi, sudah seharusnya hati dan raga kita siap menerima dan melepasnya. Namun, karena kita hanyalah manusia biasa, sudah tentu kita akan menangis sejadi-jadinya, menyesali apa yang belum kita lakukan bersama orang itu, bahkan terkadang kita akan menyalahi diri sendiri. Pada saat itu, emosi susah dikontrol, kecuali dengan akal dan hati kita sendiri. Saya yakin, tiap orang punya caranya tersendiri untuk keluar dari kondisi ini.
Mengganti rasa kehilangan itu dengan syukur dan sabar. Jujur, pada awalnya sangat berat untuk melakukan hal ini. Bayangkan, kepergian orang yang kita cintai secara tiba-tiba, orang yang menjadi panutan seumur hidup kita, adalah tamparan keras bagi kita yang mengalaminya. Setelah itu, keadaan sangat bisa berubah 180 derajat. Bisa jadi, kita jadi orang yang betul-betul sendiri, walau kita sedang di tengah-tengah keramaian. Kita bisa jadi orang yang berbeda dari sebelumnya, misalnya dulu kita adalah orang yang semangat dan optimis, semenjak kehilangan kita bisa jadi orang yang gampang menyerah, pendiam, tidak mau melakukan aktivitas apapun. Seketika itu, kita harus bisa mengontrol diri agar tidak sedih berlarut-larut, lalu mulai menata hidup kembali, mendobrak ketakutan dan kebimbangan, dan melangkah lagi.
Dalam proses menjalani ini, lelah itu pasti ada. Tiba-tiba bisa marah sendiri, kesal sendiri, cemas sendiri, dan itu semua mungkin kita lakukan sendirian tanpa-Nya. Ada nasehat uni guru, bahwa “Kamu boleh kehilangan apapun, tapi kalau kamu kehilangan Alloh, gak bermanfaat apapun yang kamu punya. Izinkan dirimu untuk mengalami yang dialami. Sabar, jalani, hadapi, syukuri”. Kehilangan, sampai kapanpun akan terus terasa. Menerima, merasakan, melepaskan, mendoakan, dan bertawakal, adalah cara untuk perlahan mengganti kesedihan, kehampaan itu. Ketika rasa sedih dan hilang itu datang lagi, menangislah, keluarkan semuanya, lalu lakukan hal ini lagi – menerima, merasakan, dst. Menangis bukan berarti kita lemah. Bagi sebagian orang, menangis adalah cara agar tetap bisa waras atau tidak stres. Jika kita perlu melakukannya agar dada tak terasa sesak, maka lakukan saja, jangan ditahan.
Menghargai setiap hal yang diberi, setiap momen yang dilalui. Kehilangan, perlahan membuat kita paham bahwa kita perlu punya sikap menghargai. Belajar menghargai makna hidup itu sendiri. Menghargai nafas yang Allah anugerahkan ke kita. Menghargai izinnya Allah untuk kita hidup di dunia ini. Mengambil hikmah dari semua hal yang terjadi, dan menjadikannya pelajaran. Belajar untuk tidak mudah menghukumi, belajar untuk tidak mudah lengah. Menyimpan segala kenangan dalam memori, mematrinya di hati dalam-dalam. “Jangan pernah menyesali satu hari pun dalam hidupmu: hari baik memberi kebahagiaan, hari buruk memberi pengalaman, hari terburuk memberi pelajaran, dan hari terbaik memberi kenangan”. Sebab waktu tak akan pernah kembali lagi, maka kita akan menggunakan waktu sebaik mungkin, berupaya untuk melakukan hal baik, membahagiakan orang-orang yang kita cintai, membersamai orang-orang yang ada bersama kita, mensyukuri apa-apa yang Allah kasih kepada kita, dan menyabari ujian yang hadir dalam hidup kita.
Hari demi hari dilalui, dengan kondisi yang telah berbeda, naik turun seperti roller coaster. Memang luka itu belum pulih seutuhnya, namun in sha Allah pelan-pelan sudah mulai bisa menerima dan melepaskan dengan sepenuh hati. Tanpa bimbingan-Nya, tak terbayang bagaimanakah diri ini sekarang. Semoga tak pernah putus asa dari rahmat-Nya, semoga dimampukan selalu untuk memikul beban di pundak ini, berdiri tegak di atas kaki sendiri. Kadang, masih ada rasa iri terhadap mereka yang masih punya keluarga utuh, masih bisa bercengkerama, saling mengisi, menguatkan, berdiri berdampingan. Tetapi, ingatlah wahai diri, tetap harus bersyukur. Setiap orang sudah ada garis takdir-Nya sendiri. Mereka yang telah pergi, mereka hanya berpindah alam, pergi sementara, masuk ke dimensi berbeda. Sejatinya, mereka tetap hidup dalam memori kita, dalam kenangan kita. Dengan kenangan itulah, jadi kekuatan tersendiri untuk terus hidup.
Mengambil hikmah dari kisah Palestina. Tiga bulan menjelang akhir tahun, di”bangunkan dari tidur panjang”, atas segala peristiwa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Palestina. Hampir 76 tahun rakyat Palestina harus hidup di bawah pendudukan Zionis. Ketabahan dan kekuatan mereka menghadapi serangan bertubi-tubi dari penjajah, berhasil membuka mata dan batin seluruh orang di dunia ini, untuk membela kebenaran dan memerangi kebathilan. Satu persatu kebohongan demi kebohongan kaum penjajah terus terungkap. Bagaimanapun penjajah itu ingin menguasai, tak pernah bisa mengalahkan ketegaran warga Gaza, Tepi Barat, Palestina. Sedikitpun mereka tak mau beranjak dari negeri mereka. Tak pernah luput lisan mereka dari kalimat tauhid, di tengah porak porandanya kondisi mereka. Apa yang sedang dialami oleh kita saat ini, mungkin tak lebih berat dari perjuangan dan pengorbanan mereka. Allah sudah titipkan Palestina, menjadi negeri pilihan-Nya, negeri yang diberkahi. Belajar dari Gaza, belajar dari Palestina. Saatnya kembali ke sejarah, menyuarakan keberpihakan kita kepadanya, terus lakukan hal yang bisa kita lakukan (doa, boikot, donasi, dan sebagainya). Sudah sepatutnya kita terus mendukung Palestina, stop genosida, penjajah harus angkat kaki dari bumi Palestina. In sha Allah, janji Allah itu pasti. Palestina akan merdeka seutuhnya. Niatkan, Al Aqsha akan bebas, sebentar lagi kita akan shalat di dalamnya. Aamiin..
Hai 2023, terima kasih. Terima kasih untuk Allah atas kasih sayang-Nya. Terima kasih untuk Rasulullah atas suri tauladannya. Terima kasih untuk segala hal yang sudah hadir. Terima kasih untuk semua yang masih menyapa, menguatkan, mengingatkan. Maafkan atas ketidaksempurnaan diri ini, juga tulisan ini.
Tak kalah hebat dari ini semua adalah terima kasih Gaza, terima kasih Palestina. Darimu kami belajar arti hidup sesungguhnya, bagaimana kebebasan untuk hidup itu harus diperjuangkan sampai titik darah penghabisan, sampai pada garis finish, yaitu kemerdekaan yang sejati.
Hai 2023, selamat tinggal. Hai 2024, terima kasih sudah menyambut. Semoga 2024 dalam keadaan yang lebih baik lagi. Semoga berlimpah ruah keberkahan, sehat, bahagia. Kemarin, kini, dan nanti.