Catatan Ringan 7 : Surat cinta seorang rider kepada driver
Sedikit unek" kami para pengendara roda dua. Ini bukan curahatan hati ato apa,tapi ini unek" aja. Mohon maaf kalo ada salah kata.
selamat membaca.
Bapak2, ibu2 pengendara roda 4 yth,
Sebelumnya saya mohon maaf bila tulisan berikut kurang berkenan. Kami hanyalah ingin meminta maaf kepada bapak & ibu pengguna roda empat mengenai perilaku kami dijalan raya. Sungguh, kami tidak memiliki maksud untuk 'mengganggu' kenyamanan anda.
Bila kami terlihat suka nyerobot kekanan atau kekiri, itu hanyalah karena kami merasa kepanasan. Ini tentunya akibat jaket, helm, sarung tangan, masker, yang kami gunakan di siang bolong. Tentunya rasa kepanasan ini tidak anda rasakan, karena dinginnya hembusan AC yang keluar dari kisi kisi dashboard mobil anda. Sedangkan kami hanya mengandalkan kisi kisi ujung jaket, ataupun bagian bawah helm, he he he.
Bila anda melihat kami mendaki trotoar, ataupun mengambil jalur kanan yang berlawanan, itupun bukan karena kami sok jago. Tapi kami hanya mencari alternatif jalur, sebab seluruh badan jalan tertutup oleh MPV ataupun SUVbapak & ibu. Rasanya kami nggak kuat jika harus menunggu dibelakang knalpot anda, yg belum tentu bebas emisi (maaf ya). Belum lagi kami takut di PHK, hanya karena telat masuk kerja. Tentunya khusus hal ini, sebagian dari anda tidak perlu absen kan?, kalo masuk kerja? Sebab kalo sebagian besar dari kami, .. minimal dipotong uang transport, hiks!! Belum lagi, kami suka malu bila harus melewati resepsionis nan cantik yang menutup hidung kecil mereka, karena mereka mencium aroma knalpot dan 'bau matahari' dari jaket lusuh kami. Walau deodorant 5 ribuan telah kami semprot, tentu tidak sebanding dg parfum mobil anda yg 50 ribuan plus sejuknya AC mobil anda.
Hmmm, kami juga gak pernah protes kok, terhadap roda empat yang telah oleh pemerintah di-anak emaskan. Jalan tol trilyunan rupiah telah dibangun, diatas gusuran tanah dan rumah kami. Kami harus putar otak mencari tempat tinggal bagi anak dan keluarga, hanya demi bapak-ibu bisa cepat sampai tamasya ke ancol ataupun taman safari. Ngomong2 tentang tamasya. Memang sih, mungkin anda sering melihat kami berboncengan 3 atau 4 dengan putra putri kami pergi ke dufan. Tapi kami gak yakin, apakah anda melihat kami, memijit tangan, kaki dan bahu mereka yang kecil ditempat parkir. Ini karena cara duduk mereka yg sedikit berakrobat di atas motor kami. Tentunya berbeda dengan lucunya putra-putri anda yang asyik bermain game di dalam mobil, atau tidur pulas di jok belakang.
Kami juga gak keki kok, dengan senyum kecil bapak-ibu, bila melihat kami panik saat hujan turun. Dimana kami harus buru-buru, loncat dari motor, buka jok motor, copot sepatu, dan mengenakan jas hujan. Terkadang kami membayangkan, bila kami ada di posisi anda. Mau gerimis kek, mau hujan gede kek, bodo' amat, cukup putar tuas kecil disamping stir, maka wiper kaca akan bekerja lembut membersihkan air di kaca depan & belakang. Aaaah enaknyaa di mobil.
Kami juga gak protes kok, bila mungkin bapak-ibu yang terbiasa menginstruksikan lembur kepada kami. kami cukup mengerti bila anda tidak pernah membayangkan, betapa dinginnya pulang kerja di malam hari dengan motor. Kami cuma berharap, bahwa petuah orang tua, yang mengatakan, kalo kena angin malam bisa kena paru-paru basah, adalah isapan jempol semata. Amit-amiiiit. .!
Kami juga gak protes kok, bila jari jemari anda menjentikkan abu rokoknya lewat jendela, sehingga mengenai jaket kami. Ataupun celana kami harus 'menerima' sampah, yang anda buang lewat jendela. Mungkin kami dengan jaket hitamnya, tampak seperti tong sampah kali yeee. Hi hi hi. Mohon maaf juga bila, kami harus terlihat melotot di depan anda. Hmm sungguh, itu gak sengaja kok, . Sebab selama naik motor, mata kami harus dipicingkan agar tidak kena debu. Naaah begitu berhenti, secara refleks mata kami terbuka lebar, seperti melotot, he he he.Maaf ya pak-bu.
Peace !!!
Memang siiih, kami sering bikin masalah di jalan raya, tapi setidaknya,kaum kami belum pernah punya kesempatan bikin masalah buat negara ini. (Jadi gak enak nerusinnya) Memang siiih, rata rata dari kami tidak berpendidikan. Walau beberapa rekan kami masih setia berprofesi pengojek untuk mengantar kaum berpendidikan nan terhormat ke tujuan, bila mereka diburu waktu atau hampir terlambat.
Memang siih, rata-rata dari kami gak memiliki tata krama. Karena kami gak punya cukup uang untuk belajar di tempat kursus kepribadian ataupun pelatihan image development. (SD aja DO ? hiks!). Tapi setidaknya, kami cukup tau diri kok, untuk tetap menganggukan kepala kepada bapak-ibu duluan plus senyum manis, bila kami bertemu anda di koridor kantor. Ataupun menjauh dari bapak-ibu yang sedang bercengkrama di lobi menunggu lift, karena celana dan sepatu kami tampak kotor terciprat air jalanan akibat sedan mewah anda menyalip kami.
Namun kami cukup terhibur kok, bila kami dapat mendengar sayup sayup lagu kesukaan kami, saat kita bersanding manis di lampu merah. Hilang rasa penat bahu dan pinggang kami, bila dentuman sound system anda membagi lagunya lewat kisi kisi jendela. He he he, pernah gak anda melihat kami juga terkadang mengangguk-anggukan kepala mengikuti lagu anda, walo Cuma 10-20 detik. Jadi malu......
Namun kami cukup terhibur kok, dengan sigapnya pak presiden menaiki motor roda dua untuk meresmikan balapan mobil, hiks. Walau kami tau persis, itu hanya gara-gara terlalu banyak roda empat yang membuat jalan tol menjadi padat. Sehingga pihak protokoler takut pak Presiden datang telat. Padahal mesin dan knalpot mobil balap dari negara asing, udah gak sabar buat melesat, hanya untuk bisa dibilang sebagai yang tercepat, dan rebutan trophy segede knalpot motor untuk mereka angkat. What an ironic.....
Namun, kami cukup terhibur juga kok, dengan iklan di TV. Dimana banyak artis nan ganteng dan cantik, artis senior maupun junior, politikus, budayawan, berebut mengiklankan motor untuk kami. Walau kami tau persis, gak mungkin mereka pergi shooting atau menghadiri gala dinner dengan motor. Sebab kami tau persis, mereka gak pernah direpotkan oleh naik dan turun dari mobil, karena supir nan setia, membukakan pintu belakang bagi mereka.
Yaahhh, kami gak bermaksud membela diri siih. Kami cuma mau sharing aja kok, kepada anda pengendara mobil roda empat, bahwa rasa sebel, muak, benci anda terhadap kami, sudah kami bayar kok dengan kondisi di atas. Tuhan Maha Adil kan?
salam jabat erat...
Penulis adalah seorang driver yang menyukai riding. Biar nggak salah paham aja. :)
Selasa, 21 Mei 2013. 09.15 Baruga A. Pettarani, Unhas
Ternyata masih sama.. Budaya yang payah. Jadwal acara mulai pukul 7. Dikabari panitia pukul 9, dan realitanya setengah jam kemudian.. Jelas bukan budaya yang membanggakan..
Terbesit pertanyaan, kapan ini semua bisa lepas? Apa masih ada harapan? Entahlah.
Aku berandai-andai. Andai kiamat bukanlah hal ghaib, setidaknya bagi penguasa, tentu kata-kata 'harapan-itu-masih-ada' adalah benar-benar ada. Bukan sekedar slogan musim pilkada lagi.
Jika memang kiamat terjadi 3 hari lagi, para petinggi-yang-entah-siapa-saya-juga-baru-tahu-kemaren pasti akan berlomba memberikan kabar baik bagi masyarakat, kita, dan anak-anak Indonesia bahwa 3 hari kemudian Indonesia akan bebas dari itu semua.
"Program 3 hari kami. Jangankan ngaret. Korupsi, suap, ketidakadilan, penggusuran, pungli. Kita akan bebas dari itu semua. 3 hari!!", teriaknya di mic itu. Berbusa-busa. Meyakinkan.
Kami semua bersorak gembira, mengelu-elukan mereka. Harapan itu ternyata memang masih ada.
3 hari lagi...
--- ditulis saat kesal nungguin acara yang tak kunjung dimulai. Padahal udah dibela-belain ijin kantor.. Sigh.
Antara Kasihan dan Ingin Tertawa (Kisah dibalik Foto)
Antara kasihan dan ingin tertawa aku melihat dua pemuda itu. Semakin ia semangat berteriak memandu acara supaya baik jalannya, semakin semangat pula peserta berhamburan mengerubuti sang pembicara tamu. Kacau.
Mereka kalah dari orang itu. Kalah populer, kalah aura, kalah daya tarik. Satu-satunya kemenangan mereka mungkin hanya jumlah. Mereka berdua, sedangkan dia hanya seorang. Seorang kecil, kurus. Pembicara tamu siang itu memang penuh pesona. Ia seorang penulis terkenal. Karyanya menjamur dimana-mana. Ia menyihir banyak orang dinegeri ini dengan ukiran tinta penanya. Muda-mudi? Ah, itu pertanyaan bodoh. Kalian lihat sendiri kan, mereka mengerubutinya. Apa bukti siang ini masih belum cukup?
Aku yang duduk di pojok, diam. Antara kasihan dan ingin tertawa. Kali ini melihat sang penulis terkenal itu tenggelam dilautan manusia yang mengerubutinya.
Aku juga ingin berfoto. Jujur. Lagipula siapa sih yang tidak ingin? Penulis terkenal gitu loh. Karyanya menjamur dimana-mana. Ia menyihir banyak orang dinegeri ini dengan ukiran tinta penanya. Muda-mudi? Yah, aku juga muda. Seenggaknya lebih muda dari sang penulis. Hahaha.
Ah, sampai dimana tadi? Foto, yaa, foto..
Aku ingin berfoto. Tapi aku tidak mau yang seperti mereka. Aku terlalu malas untuk berebutan. Aku terlalu malas untuk berdesak-desakan. Aku maunya foto berdua. Ekslusif! Gimana bisa? Kerumunan itu seperti tiada habis. Ah, pokoknya harus bisa, pikirku. Aku keras kepala. Egois.
Aku bersabar, sabar, saaaaabaaaar.
Sabar. Menunggu. Menunggu. Sabar. Dalam diam, mengatur stretegi. Dalam sabar, menunggu eksekusi. Dan kesabaran itu berbuah manis.
"Bang, maaf menunda istirahatnya sebentar. Saya mau foto sama bang Tere. Bisakah?"
"Oh, oke sini kita foto".
Satu jepretan selesai, lalu ia buru-buru kabur masuk ke mobil. Sebelum ia tenggelam dalam lautan manusia part 2. Mungkin aku satu-satunya orang yang berhasil berfoto berdua siang itu. Mungkin. Masa bodoh. Yang penting dapet fotonya. Ekslusif bukan?
Antara kasihan dan ingin tertawa. Kali ini kepada kerumunan muda-mudi tadi. Aku pulang penuh kemenangan. Sabar selalu berbuah manis bukan?
Menunggu itu ada 2 macam, menunggu aktif dan menunggu pasif. Kamu menunggu yang mana?
nb: Ko kakiku keliatan kecil timpang gitu ya? Ah, lupakan..
Tertunduk lesu, lemas ia seperti ingin mati saja. Ah, rupanya ia habis menyaksikan pertandingan bola dini hari tadi. Oo, sudah jelas, timnya berada dalam kondisi kalah, tidak lolos lebih tepatnya. Ia tidak sendiri. Dia bersama puluhan disini, dan mungkin ribuan di luar, pendukung yang merasakan suram hati yang sama. Jersey bola kebanggaan yang mereka kenakan mahal-mahal itu rupanya tak cukup membawa petuah pagi itu.
Hilang sudah semangat mereka, jelas terukir diraut wajahnya. Suram. Sedih karena benar2 kalah atau hanya karena kalah taruhan, entahlah, tidak jelas juga bedanya. Yang jelas, keinginan mereka seperti kompak, ingin segera menghilang dulu.. Jadi kepikiran, jangan-jangan pak Susno Duaji juga menghilang bukan karena politik, tapi timnya kalah! Ah, apa pula ini?
Aku bertanya-tanya, sekuat itukah pengaruh sebuah klub kesayangan? Penggemar fanatik, begitu dalih mereka. Ah, aku tidak puas sama sekali. Jersey mahal yang mereka beli, waktu yang mereka luangkan, chant yang mereka selalu kumandangkan, hanya berbalas status menang, juara, atau malah kalah. Tak ada serupiah atau sedetik pun ganti dari apa yang mereka elu-elukan. Jangankan untuk keluarga, diri mereka sendiri saja tidak.
"Inilah definisi cinta, maan.", kata mereka lagi. Sama seperti orang tua yang tidak mengharapkan apa-apa. Hmm, sepintas memang sama, tapi aku merasa tidak cukup pantas untuk disepadankan. Sekali lagi, aku tidak puas.
Ironis memang, saat menyukai sesuatu, atau fanatisme (dalam konteks bahasa yang lebih ekstrim), diagungkan. Di lain pihak, terhadap agama malah dianggap sesat dan mengancam perdamaian. Padahal fanatik terhadap agama tak seseram itu. Dan hey, sepertinya itu bukan sebuah ke-fanatik-an. Bukankah agama sudah jelas dari awal batas-batasnya?
Aku ini masih normal kah?? Aku juga bingung dilanda seribu tanya.
---------------
Aku juga tertunduk lesu. Timku tidak lolos. Tapi aku tidak bersama puluhan disini bahkan ribuan orang lesu di luar sana. Hangat mentari pagi ini tak pernah lemah untuk membuatku menyambut hari dengan senyum penuh semangat..
1 May 2013. Beberapa saat setelah peluit berakhirnya 90 menit di Santiago Bernabeu.
*Tenang, ini nggak ada hubungannya dengan band-nya Andika.*
"It's funny how people say they miss you, but don't even make an effort to even see you.." [Quote entah darimana]
Tiba-tiba saja ratusan retweet. Saya cengo, bengong, makkitajonga. Ini apa benernya sih?? Ah, saya ga setuju. Saya mao lanjutin : "Yeah, and it's funnier when the person who missed don't even make an effort"
Kalau mau dipikir-pikir, kenapa sih bukan orang-yang-dikangenin (selanjutnya disebut pihak kedua) itu aja yang mendatangi orang yang lagi kangen? Kenapa bukan pihak kedua aja yang buat effort untuk menemuinya. Kan pihak kedua juga kangen, berarti quote ini juga berlaku dong untuknya. Padahal mungkin saja si pihak kedua punya waktu luang lebih banyak dibanding orang yang lagi kangen itu. *Masang muka ala Philosoraptor*
Ah, sudahlah. cinta memang kadang egois. Parahnya, nggak ada yang merasa dirugikan. Cinta,, cinta,, cintaaaa.
---------
nb 1 : Analisa nggak berlaku bagi yang kangennya cuma satu pihak.
nb 2 : cinta yang saya maksud bukan cinta anaknya Uya Kuya. Sumpah! Saya tidak bohong. Kalau bohong, saya siap digantung di Monas
Menurut Drs. Feri Yusuf Sanusi (dalam buku Indonesia berpacu dalam melodi; 1975) Di negeri ini, hidup adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan kuis. Orang miskin menjawab kuis makan apa kita hari ini, sedangkan orang kaya berkutat dengan pertanyaan siapa yang akan kita makan hari ini.
Saya banyak mengikuti kuis di negeriku, mulai dari kuis oow siapa dia (udah betul belom?) yang bertanya siapa yang akan menjadi anggota dewan sampai presiden. Serta kuis apakah janji kampanye itu pasti ada suatu hari nanti?
“insya Allah nak” kata tetangga saya yang kebetulan juga ikut kuis.
Dulu (ga tau sekarang) sempat seru-serunya masyarakat Indonesia terbius kuis “who want’s to be a prisoner”. Pesertanya konon kabarnya terbatas. Cuma untuk kalangan reptil. Baik yang kecil, sekecil upil sampai sebesar T-Rex. Menurut A.Bustanimudding,BA (dalam “analisis komprehensif-paradox-progressif-konseptual-determinan untuk pemula; 2009). Kita baiknya wait and see, menonton dan mencermati kuis ini untuk melihat siapa yang bohong sebenernya. Atau paling anteng “join” pada wadah yang sangat massif dan ultra-revolusioner, yaitu: “Seluruh Penduduk Bumi Mendukung Godzilla”. (apami ini, ndak mengertika juga)
Kalau kurang sreg, tinggal gabung di tetangga sebelah saja: “Seluruh Penduduk Bumi Beserta Bapakmu Mendukung Jurassic Park”
Di tempat lain, orang-orang ramai pada ikut kuis siapa berani. Tapi konon kabarnya pertanyaan terhenti pada titik 2 juta rupiah, karena pertanyaannya pelik amir. Pertanyaan misterius itu adalah “siapa yang berani memberantas korupsi di Indonesia”? maka peserta tampak sangat gelisah mencai jawaban yang tepat dan akhirnya memilih mundur dan membawa uang 2 juta rupiah.
Di Wikipedia pun saya yakin belum masuk databasenya. Pembuat kuisnya jangan-jangan sengaja untuk menanyakan hal yang tidak-tidak.
Tapi Rusdiyanto Jaffar (bukan nama sebenarnya) tidak kesulitan menjawab pertanyaan dari kuis siapa berani pada bagian: Kapankah PLN tidak rugi lagi dan Indonesia terbebas dari pemadaman bergilr?
Jawabannya pun sangat lugas: Sampe nenek lu jadi dirut pak……
1 juta rupiah untuk Rusdiyanto
***
Sementara yang elit-elit membuat dan mengikuti kuis yang elit-elit pula. Rakyat kecil masih berkutat pada pertanyaan-pertanyaan dasar. Mahal atau nyicil, makan atau sepiring berduabelas, mengemis atau ngamen, buruh atau kuli, puskesmas atau dukun, koran bekas atau kardus, miskin atau melarat, mati atau dibunuh, digusur atau digilas. Tak terlalu banyak pilihan memang bagi sebagian orang di negeri ini. Kesejahteraan itu ada di spanduk dan baliho, iklan visit indonesia year, iklan KFC, dan acara apartemennya Fenny Rose.
Ibunya anak-anak (bukan anak-anak saya) mengeluh semakin mahalnya ongkos untuk hidup di Indonesia. Kata saya mahal bisa berarti berbeda, mahalnya konglomerat berarti harga apartemen mewah, parfum impor, perluasan lapangan golf (tidak ada hubungannya dengan Rani & Antasari Azhar). Tapi kata teman saya (inisial: BCL- bukan bunga citra lestari) yang keberatan namanya dipublikasikan di sini, mahal bagi dia adalah sekolah bagi anak-anaknya, harga buku, harga minyak tanah, mahal juga berarti tidak sengaja menyerempet mobil dengan stiker “keluarga besar polisi militer", mengeritik orang (ingat kalimat: Kau akan membayar mahal atas semua ini!) atau datang berobat ke rumah sakit dengan wajah seperti penulis catatan ini... (maksudmu??!!)
Sebaiknya tulisan ini segera diakhiri karena semakin tidak ilmiah.
Wassalam.
catatan lama seorang teman.
ditulis saat pagi cerah sambil menanti kejelasan jadwal futsal yang kian tak jelas
Gak peduli seseorang itu melankolis atau seorang keras sekalipun.
Gak peduli seseorang itu siap atau tidak.
Gak peduli seseorang itu lagi senang atau sedih.
Dia tidak peduli.
Maka berhentilah mengeluh. Berdiri diatas kakimu sendiri.
Face it!
Super sekali!!
Dahsyat!!
Luar biasa!!
Nggak familiar dengan kata-kata itu? Woy, bangun woy.. Tidur mulu. Kemane aje man? Ini lagi tren sekarang-sekarang ini. Jutaan penonton menanti tayangannya, menghadiri seminarnya. Buku, kaset, radio-radio menjamur. Mungkin kamu sering ngikutin, rutin malah?
Saya? Oke, dulu iya. Buku-buku pun banyak. Tapi itu dulu maan. Sekarang sudah cenderung nggak. Nggak suka. Anti.. Terkesan skeptic?
Oke, motivasi itu perlu.
Oke, motivasi itu tidak ada salahnya ko. *dapet 100 berarti pas ujian*
Saya bukanlah tipe orang yang senang dengan kata-kata memabukkan. Saya anggap saja begitu.
Bisa dibilang, saya benci motivasi. Meskipun jika seseorang datang dengan tiga ratus tiga belas masalah dan keluhannya, saya dengan senang hati membantu. Mendengar, menenangkan, dan menyemangatinya. Tentu saja dengan segala bentuk kata-kata motivasi. Lah, ini sih namanya guru kencing berdiri, murid kencing salto. Eh, salah ya? Nelen ludah sendiri! (nelen ato jilat sih?).
Kalo kamu suka facebook-an, coba deh cari page yg bernama ‘hidup tak semudah cocote Mario Teguh’. Yak, saya sendiri setuju dengan kata-kata page itu. Meskipun ngga setuju-setuju juga sih. Heheh. Tapi bener, hidup itu nggak semudah kata-kata motivasi! Perlu diingat kawan,
“Mendengar motivasi itu memang menenangkan. Memang membuat kita sejenak melupakan masalah. Tapi, setelah itu selesai, masalah itu tetap ada dan selalu ada.”
Lalu bagaimana? Itu tergantung lagi dengan keteguhan hatimu kawan. Saya sendiri sih merupakan sosok penuh masalah. Hobi banget bikin masalah sama orang laen. Adaa aja. Magnet masalah. Terkesan berlebihan, tapi ya emang nyatanya gitu sih. Salah satu dari sisi gelap seorang ali khaidhir. Saking penuh masalahnya, akan menjadi masalah jika sampe g ada masalah. Uniknya, sasaran masalahnya paling sering ama cewek! Dan parahnya, itu cewek sedang jadi sumber keindahan dan mood booster di pikiran. Bukaaan, bukan cewek yg suka ngasih duit jajan yang kebetulan suka lukis. You know what I mean laaah.. Hatiku sedang berbunga-bunga untuknya, halah..
Hei, hei, hei.. Kenapa malah belok kesini topiknya? Kembali ke superkomputer! Yeah, laptop udah terlalu mainstream boss! Hehehe. Yang topic devil sideku dengan orang-orang, ehm, makhluk sumber keindahan dan mood booster itu kita akan bahas di lain post.
Oke, saya menghadapi masalah itu sendiri. Saya lebih suka menyendiri sambil memikirkan jalan keluar. Teman? Bisa, tapi saya nggak terlalu sering curhat dan kalau sama temen, tentu nggak semua rahasia dong. Curhatnya ama yang di Atas man. Lebih afdhol, dan tentu saja tidak terlihat lemah dimata manusia. Well, mungkin itu sebabnya sampe sekarang saya tetep aja kurus. Yeah, padahal keberadaan cacing yg sudah ber-mutasi jadi uler dalam perut juga merupakan sebab yang sudah tidak bias disanggah.
“Hidup itu keras bang!” begitu kata temen kosanku yang saya curigai selama ini dia makannya batu gunung. Kalo yang ini, saya setuju. Karena hidup butuh perjuangan. Dan dimana ada perjuangan, disitu ada tantangan yang harus dihadapi. Sikap menghadapinya? Tiap orang menghadapinya berbeda-beda. Kalo dari pengalaman pribadi, saya menghadapinya dengan keras pula. Nggak lantas beli semen trus ngerasin diri gitu, bukan.. Maksudnya, jiwa kita juga harus keras. Jangan lembek. Teguhkan hati, hadapi, dan jangan lari. Karena mau lari ke ujung dunia pun, masalah akan tetap ada.
Ini ada beberapa dalih seseorang jika sedang tertimpa masalah. Kita review satu-satu.
“Aku nggak sanggup. Beban ini terlalu berat untukku”. Emang apaan? Yaa, kalo lagi dorong truk 10 roda mogok yang berisi gajah di tanjakan, wajar bos kalo nggak sanggup. Emang berat banget itu, sumpah! Bukan masalah kamu sanggup atau nggak. Tapi kamu belum mempersiapkan diri menyambutnya. Mempersiapkan diri? Wat de kamsud? Emang ada gitu orang yang dengan senang hati menyambut masalah? Bukan gitu mak lampirrr. Maksudnya, jangan terlalu euphoria (istilah apa lagi tuh) jika sedang senang. Bikin lupa, cuy! Kalo katanya lagu dangdut, yang sedang-sedang saja lah. Cukup senyum. Kalo seneng banget, yaa sesekali deh boleh salto, roll kedepan, roll kebelakang, handstand, sikap lilin, ato apalah. Tapi tau sikon juga. Misal : Jangan jingkrak-jingkrak di acara orang lagi layatan. Bisa-bisa ente yang ikutan dilayat juga. Ato ngelakuin roll kedepan kebelakang di ruangan dosen. Pliss. Jangan sampe deh.
Ingat juga sob, masalah itu tidak dibebankan jika diluar kemampuannya [QS Al Baqarah:286]. Itu Allah yg ngomong lo ya. Jadi jangan bilang memvonis diri nggak sanggup.
“Tapi kenapa cuma aku yang mengalaminya? “Hidup ini tidak adil”. Sabar sob. Kali saja orang di luar sana juga mengatakan yang sama baik untuk sebab yang sama atau berbeda. Dan kamu tidak tau. Selalu ada probabilitas untuk itu kawan. Dan patut diingat juga,
Jika setiap orang di dunia mengatakan hidup ini tidak adil. Bukankah itu artinya hidup ini sudah adil? Maka keadilan yang seperti apa lagi yang kamu inginkan?