Harmoni gitar, bass, drum dan keyboard mulai terdengar dari arah panggung. Kayla dan Baskara masih saling tatap. Mereka sudah lama menanti hari ini : hari dimana mereka bisa bertemu lagi tanpa skenario drama yang diciptakan oleh teman-teman mereka, tanpa harapan berlebihan untuk kembali bersama.
“Aku nanti mau bawain lagu kesukaan kamu. Boleh ya, Kay?” tanya Baskara, memecah sunyi di antara mereka.
“Aku udah gak suka lagu itu lagi.”
“Hmmm… banyak. Tau Falling Slowly-nya Glen Hansard sama Marketa Irglova?“
“Tau… OST-nya Once kan? Kamu nonton juga?”
“Iya…” jawab Kayla pelan. Selera Kayla dan selera Baskara ternyata masih sama. Kayla dan Baskara kembali saling tatap, sunyi kembali hadir.
“Aku gak ditanya sisan ta, Bas?” ujar Friska guna memotong scene saling tatap di antara dua temannya.
“Oalah… lali aku ono Friska. Awakmu sek seneng K-Pop ta, Fris? Sopo iku? Siwon Oppa?”
“Loh... ngenyek. Maklum seh aku… reunian ketemu mantan yo ngene“ jawab Friska asal disusul dengan sikutan lengan dari Kayla.
“Lah iku ngerti. Ono sing aku kate sampekno nang dokter Kayla. Awakmu gak kate mlayu ta?“
“Aku… Ono sing kate tak sampekno sisan nang Bapak Baskara”
Baskara tersenyum. Dia lalu meminta 20 menit waktu Kayla untuk digunakan berkeliling di area sekolah bersamanya. Kayla dengan senang hati mengiyakan.
Setelah mendapat restu dari Friska, Kayla segera menempatkan dirinya di samping kiri Baskara. Dia memastikan langkahnya seirama dengan langkah Baskara. Hari ini mungkin tidak akan terjadi lagi, kan? Kayla hanya ingin menikmatinya selagi dia bisa.
“Pohon DPR. Ambil time capsule”
Delapan tahun lalu, Kayla dan Baskara mengubur sebuah toples kaca tepat di depan pohon mereka. Sebuah toples kaca yang berisi gulungan harapan kepada diri mereka di masa depan. Mereka berjanji untuk membuka toples kaca itu satu windu kemudian.
“Kira-kira masih ada gak ya?”
“Mestinya sih masih. Tadi kata Pak Mur, penjaga sekolah, di sekitar pohon kita tanahnya gak pernah diapa-apain. Ambil cangkul yuk di bagasi mobilku.”
“Hah? Kamu bawa cangkul ta, Bas?”
“Dulu kata kamu, aku manusia paling gak bisa ditebak di dunia. Aku masih berusaha mempertahankan gelar itu. “
“Gak harus gitu juga… Dulu kata kamu, aku cewek paling pemimpi yang pernah kamu temuin. Sekarang… aku gak berani mimpi lagi.”
Baskara terhenyak. Terlambat dia sadari… terlalu banyak kata negatif yang pernah dia ucapkan kepada Kayla. Kata-kata yang seharusnya tidak pernah dia ucapkan, yang seandainya bisa dia telan bulat-bulat kembali – entah bagaimana caranya – pasti akan dia lakukan. Namun, semua kata-kata itu sudah dia ucapkan, sudah Kayla dengarkan, sudah Kayla simpan dalam memorinya.
“Gapapa kok, Bas. Kenyataan, kok. Aku dulu pemimpi banget… terlalu percaya sama fairy tale, happily ever after, ngirain semua orang itu baik… naïf banget ya? “
“Gak, Kay. Itu kan hak masing-masing orang mau percaya apa, punya prinsip apa… Maaf ya… Gak seharusnya juga aku ngomong kalo…“
“Kamu inget gak… dulu kamu pernah bilang kalo aku gak menghargai perjuangan Ibu Kartini dan banyak wanita hebat lainnya karena aku pengen jadi Ibu Rumah Tangga?”
“Kamu... Kamu yang selalu jadi bagian dari rencana masa depan aku, selalu aku jadiin tujuan… selalu aku jadiin pegangan, semangat, semuanya… Terus tiba-tiba kamu bilang gitu… rasanya aku gak punya harapan hidup lagi, Bas. Aku juga malu… malu banget sama diri aku sendiri.“
Pipi Kayla perlahan mulai basah, tangisnya pecah. Detik itu, Baskara sungguh ingin merangkul Kayla, menepuk-nepuk pelan pundaknya atau bahkan membenamkan wajah Kayla ke dalam dekapannya. Namun dia sadar, dia tidak boleh melakukannya. Akhirnya - seperti yang biasa dia lakukan - dia hanya berdiri mematung saat Kayla mulai menangis.
Lima menit berlalu. Perlahan, Kayla mengangkat wajahnya yang sebelumnya dia tundukkan. Dua telapak tangan yang sebelumnya dia gunakan untuk menutup wajah pun mulai dia gunakan untuk menyeka air matanya.
“Maaf ya, Kay. Aku selalu bikin kamu nangis dari dulu. Papa kamu bener… kamu jauh lebih bahagia tanpa aku.”