Jude (6)
Suatu hari yang cerah di semester 7, teman kami Geri sedang dibuat terharu oleh kebaikan Jude. Kemarin saat Geri sedang tugas lapangan, tas berisi laptop, hape, dan beberapa barang lainnya lenyap ditilep kriminil yang entah seperti apa rupa dan tampaknya. Padahal tasnya baru ditinggal 2 menitan saja. Dan besok hari tugas harus di-presentasi.
Lalu tiba-tiba Jude meminjamkan seperangkat laptop dan hape buat Geri. “Santai, ini barang ngga kepake dirumah gue,” cengir Jude seperti biasa.
Saat kami ber-”wo wow woow” dan Jude cengangas-cengenges, Geri malah setengah melongo setengah mau nangis. “Jud, kenapa sih lo hobi banget nolong orang?”
Jude tampak menatap nanar laptop & hp yang ada di meja Geri. Beberapa tahun lalu, Jude pernah harus pulang jam 3 dini hari setelah mabit di kampus. Ada urusan yang perlu dikerjakan dirumah. Tapi tiba-tiba ditengah perjalanan, ban motornya bocor. Jude terpaksa minggir. Tiada sesiapa apalagi tukang tambal ban yang buka.
“Dek, bannya bocor ya?”
Jude yang masih ngantuk terkaget-kaget sampe melek saat ada bapak-bapak paruh baya, memakai koko hijau muda dan peci putih muncul di belakangnya.
“Eh, iya, pak,” Jude agak gelagapan. “Kayaknya barusan saya nginjek paku.”
“Sini, saya bawa dulu ke rumah adik saya. Adik saya punya usaha tambal. Ada di depan tuh rumahnya,” kata si bapak tersenyum. Jude seperti dihipnotis mengiyakan dan menyerahkan motornya pada si bapak. Jude menunggu di pinggir jalan karna tak tahu persis dimana rumah yang si bapak itu maksud. Maklum, remang-remang.
Jude menguap dan hampir ketiduran di tepi jalan saat 10 menit kemudian si bapak muncul lagi di depannya dengan mengendarai motor Jude. Bannya sudah tidak bocor lagi. Jude tampak bahagia, “wah makasih banyak lho pak. Berapa ini tambalnya pak?”
Si bapak hanya tersenyum saja. “Tidak usah nak, simpan saja uangnya.” Sembari bersiap meninggalkan Jude. Jude tampak tidak enak dan membuka tasnya, mencari uang sepuluh ribuan.
“Pak, ini ambil aj….”
Jude menengok kesana kemari. Sepi. ‘Lah, si bapak mana?’ Jude bingung, padahal barusan saja dia masih melihat sosok si bapak di sebelahnya. Seperti mimpi, Jude menepuk-nepuk pipi dan tidak menemukan si bapak lagi. Merasa sedikit ngeri, Jude cepat-cepat menyalakan motornya dan bergegas melanjutkan perjalanan. Tapi selama perjalanan tak henti-hentinya Jude berdoa untuk kebaikan si bapak tadi. Kalau tidak ada bapak itu entah gimana Jude pulang kerumah sementara ia sedang diburu-buru waktu.
“Jud, ini gimana gue bales ke elo? Gue bayar dulu apa?” Geri tampak salah tingkah.
Jude buyar, ia tersenyum seperti senyum bapak yang pernah menolongnya dulu. “Pay it forward, Ger. Kalo ada orang yang butuh pinjeman laptop, giliran lo yang minjemin ke orang itu. Bayar ke gue nanti aja kalo lo udah punya gaji dua digit.” Jude menepuk pundak Geri lalu ngeloyor keluar kelas. Kami tertawa kecil dan menghibur Geri.
Pay it forward. Benar juga. Hari ini temu kangen di sebuah rumah makan lesehan setelah setahun kami wisuda. Hari ini, aku meminjam laptop Geri yang dulu dipinjamkan Jude. Benar-benar pay forward xD
Depok, 25 Desember 2016
Tidak ada salju di Depok.















