Felicia tidak henti menatap sepupunya yang berenang seperti orang kesurupan. Dengan segelas juz dan roti bakar Felicia memperhatikan polah Ken yang berenang tidak beraturan, beberapa kali terlihat dia memukul air yang sama sekali tidak bermanfaat apapun di dalam dunia renang. Felicia tertawa melihat Ken yang akhir-akhir ini hanya uring-uringan.
“Kenapa lo senyum-senyum?” tanya Ken jutek.
“Yaelah baper amat, lagi PMS?” tanya Felicia sembari menggigit roti dan mengejek Ken.
“Ini adalah hari terakhir kita berenang, karena besok kita akan pindah dari rumah ini.” Ken membuka air mineral dan meminumnya. Felicia melihat kesedihan yang ada di wajah Ken, rumah yang menyimpan banyak kenangan ini akhirnya terjual sudah.
“Semua akan baik-baik saja Ken, gue yang kehilangan kedua orang tua gue aja masih baik-baik aja. Apalagi Cuma kehilangan rumah yang ada kolam renangnya. Nanti di apartement lo kan juga ada fasilitas kolam renang.”
Ken menatap Felicia, bagaimana bisa gadis ini selalu santai pada setiap keadaan.
“Bukan kolam renangnya yang bikin gue sedih, emang gue anak kecil. Tapi, kenangan yang ada di dalam rumah ini.”
“Kenangan tidak ada di rumah ini Ken, tapi ada di dalam diri lo sendiri. Kemana pun lo pergi dan kapan pun lo mau membuka kenangan itu, lo pasti bisa melihat kenangan itu tanpa lo harus datang ke sini.”
“Fel, lo kok bisa bijak banget sih sekarang? Padahal dulu lo manja banget.”
“Karena gue udah yatim piatu kali.”
“Bisa gak, lo gak usah nyebut yatim piatu dengan nada biasa gitu. Kesannya kaya lo seneng banget jadi yatim piatu.”
“Hiks, mungkin karena gue udah yatim piatu kali, hiks....hiks,” ucap Felicia dengan nada sedih dan berusaha menangis. Ken mengernyitkan dahinya.
“Sudahlah, lo emang gak pantas sedih.” Sekali lagi Ken meneguk air mineral dan berdiri untuk pergi.
“Apa?” Ken menghentikan langkahnya dan melihat Felicia.
“Sebenarnya gue mau ngomong sama lo, tapi ya udahlah nanti aja. Gue juga mau berenang dulu, hari terakhir kan.”
“Apaan sih lo, kebiasaan gak jelas tahu gak!”
Ken pergi meninggalkan Felicia yang masih menatapnya dengan keraguan. Felicia sebenarnya ingin bilang jika dia tidak mau ikut keluarga Ken pindah ke Apartement, Felicia tahu Apartement keluarga Ken kecil. Tabungan Felicia sudah cukup untuk hidup mandiri mencari kos-kosan. Felicia masih mencari cara untuk menyampaikan ini agar Ken tidak bertambah sedih.
Felicia menggelengkan kepala, kehidupan seseorang memang tidak ada yang pernah tahu. dulu Felicia merasa kehilangan dunia dan selalu berpikir apa dia bisa hidup tanpa kedua orang tuanya. Beruntung keluarga Ken bisa membuatnya bangkit, dan sekarang giliran Ken yang terhantam badai. Kedua orang tuanya memang masih hidup. Tetapi, diantara mereka terpisahkan oleh kebencian.
Sekali lagi Ken menoleh ke belakanga ketika Felicia menceburkan diri ke kolam renang.
“Gue tahu lo mau ngomong apa Fel,” ucap Ken dalam hati. Kerena kemarin ketika Felicia pergi, Ken banyak iklan kontrakan rumah di koran yang di lingkari oleh Felicia. Ken tahu mungkin Felicia tidak mau menambah beban keluarganya lagi.
“Ken,” panggil Pak Abbas.
“Barang-barang kamu sudah siap? Kita masih ada waktu satu hari lagi kok. Papa sudah bilang sama pembeli kalau minta waktu dua hari untuk persiapan pindah.”
“Sudah kok pa, kemarin Ken sudah beresin semua. Yah mungkin hari ini bisa kita cicil ke Apartement kali ya pa.”
“Boleh, oh iya Ken. Papa sudah urus surat pindah sekolah kamu. Dan sekolah yang lama juga menghapus catatan hitamnya. Jadi Papa harap jangan sia-siakan kesempatan yang telah diberikan oleh sekolah ini. Kamu harus mulai dengan semangat baru.”
“Pa, Ken gak melakukan apa-apa. Ken itu dijebak Pa.”
“Papa percaya sama kamu Ken, tapi masalahnya banyak saksi dan korban juga bilang kalau kamu kurang ajar sama dia.”
“Itu karena satu sekolah semua tunduk sama Ana Pa. Dia kan anak sultan gampanglah cari orang untuk jadi saksi.”
Papa Ken hanya terdiam, dia tahu betul masalah yang terjadi antara Ana dan Ken.
“Ya sudah, lusa kamu sudah bisa masuk sekolah yang baru. Felicia sudah tahu kalau kamu mau satu sekolah dengannya?”
“Ken udah bilang sih Pa, Cuma kelihatannya dia gak percaya aja.”
Papa Ken hanya tersenyum dan menepuk bahu Ken. Terlihat sekali banyak tekanan di wajah Pak Abbas. Memulai kembali usaha dari nol tidak mudah, ditambah lagi dengan rekan-rekan yang mulai tidak percaya lagi. Untuk satu-satunya cara untuk mengembalikan perekonomian keluarga, Pak Abbas harus menjual rumah satu-satunya. Rumah yang dulu punya banyak kenangan indah. Ken berjanji dalam hati, suatu saat nanti Ken akan mengambil rumah ini kembali. Rumah hasil kerja keras Papanya. Ken masih ingat dengan jelas bagaimana Papanya memberinya kejutan bahagia ini.
“Wuah, ini rumah siapa Pa, ada kolam renangnya lagi,” ucap Ken waktu itu ketika masih berusia 8 tahun.”
“Ini rumah kita sayang, jadi mulai sekarang kita tidak tinggal di Apartement lagi. Dan Ken kalau mau berenang tidak perlu naik turun dan berjalan jauh lagi. Ini udah ada.”
“Wuah makasih ya pa, terus Apartement kita bagaimana?”
“Kita masih bisa datang ke sana juga.”
Bayangan itu membuat Ken berkaca-kaca.
“Di sini bengong di sana bengong, di mana-mana dirimu bengong.” Felicia yang tiba-tiba datang menyanyikan lagu untuk menyindir Ken.
“Bentar banget lo renang?”
“Dingiiiinnnnn,” jawab Felicia sembari lari ke kamar. Ken hanya menggeleng dan segera menuju kamarnya untuk bersiap.
Eliara Zhivania Thomas, gadis cantik yang anggun, lemah lembut dan tentunya anak Sultan. Tinggal di perumahan Elite nomor satu tidak membuat Ara merasa bahagia sepenuhnya. Justru dia merasa sangat terkekang. Orang tuanya sama sekali tidak memberinya kebebasan. Ara tidak diizinkan pergi kemana pun dan juga berteman dengan siapa pun. Bahkan Ara juga tidak bisa sekolah di antara anak-anak Sultan yang lain. Ara merasa orang tuanya tidak ingin keberadaan Ara diketahui oleh dunia luar. Ara menatap area perkebunan milik orang tuanya dari jendela kamarnya. Rasanya Ara seperti Rapunzel yang tengah dikurung di sebuah menara. Beruntung Ara mempunyai Mama yang sangat pengertian, saat Ara meminta izin untuk membawa sahabatnya ke rumah, Mamanya lah yang berusaha agar dapat izin dari Papanya.
“Pa, Ara boleh minta kartu tamu untuk sahabat Ara?” tanya Ara waktu itu ketika sahabatnya Felicia dan Intan akan main ke rumahnya.
“Kan Papa sudah bilang Ara, kamu gak perlu bawa teman kamu ke rumah. Nanti kalau teman kamu tahu kamu tinggal di―”
“Mereka sudah tahu Pa, mereka mengikuti Ara saat pulang sekolah. Dan sekarang mereka ingin main ke rumah Ara.”
“Tuh kan Papa bilang apa, teman macam apa berani kepo seperti itu. Sekarang mereka tahu kamu tinggal di sini ngelunjak kan?”
“Mereka gak ngelunjak Pa, wajar kan mereka ingin tahu rumah Ara. Ara juga butuh sahabat.” Mamanya saat itu ikut membantu. Saat itu Pak Thomas hanya terdiam.
“Tidak akan terjadi apa-apa, aku juga ada di rumah terus. Aku tahu anakku bisa mencari teman yang baik-baik.” Bu Elnara siap bertanggung jawab jika terjadi apa-apa. Dan saat itu juga Pak Thomas mengeluarkan satu kartu tamu yang berwarna emas dan memberikan kepada Ara.
“Teman Ara ada dua pa, jadi satu lagi ya.” Ara merengek. Pak Thomas akhirnya mengalah dan menambah satu kartu tamu lagi.
“Ingat ya Ara, kamu harus tetap hati-hati jangan pergi kemanapun tanpa seizin Papa.”
Ara menganguk, bagi Ara Papanya mengizinkan dua sahabatnya datang ke rumah pun itu sudah cukup.
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Ara. Ara segera menutup tirai kamarnya dan bergegas membuka pintu.
“Non Ara, Tuan sudah datang. Non Ara diminta untuk turun menemui Tuan.” Salah satu asisten rumah tangga memberitahukan kalau Papanya sudah datang. Papanya sering kali pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan.
“Iya, sebentar lagi saya turun.”
Asisten rumah tangga segera menunduk hormat dan meninggalkan Ara. Entah kenapa kepulangan Papanya sama sekali tidak membuat Ara bahagia. Mungkin karena Papanya sering pergi dan Ara tidak bisa lagi membedakan antara rindu dan butuh seorang Papa di hari-harinya yang sepi.
Ara segera turun ke ruang keluarga tempat Papanya menunggu. Ara melihat Mamanya sudah ada di sana dan menuangkan teh untuk suaminya yang entah berapa hari dalam sebulan ada di rumah.
“Ara, kamu baru bangun?” tanya Papa.
“Gak Pa, Ara itu selalu bangun pagi subuh hanya saja dia tidak pernah keluar kamar karena nurut sama perintah Papanya.” Bu Elnara menjawab pertanyaan Pak Thomas sekaligus sedikit menyindir suaminya yang selalu membatasi dunia Ara.
“Bagaimana sekolah kamu Ara?” tanya pak Thomas lagi sembari melihat anak perempuan yang dengan sengaja dia pisahkan dari saudara kembarnya sejak baru lahir.
“Baik Pa,” jawab Ara begitu lembut. Pak Thomas menatap Ara dalam-dalam, rambutnya yang panjang selalu dibiarkan tergerai, beda sekali dengan Ana yang selalu mengikat rambutnya dengan bermacam-macam aksesori rambut. Ara yang di besarkan di istana menjelma seorang putri yang sederhana, penurut dan sangat lemah lembut. Sementara Ana yang di besarkan di tempat biasa justru menjelma menjadi gadis yang manja dan sangat keras kepala. Pak Thomas menatap istrinya, andai saja dia juga ikut membesarkan Ana, mungkin sikap Ana tidak akan buruk.
“Kenapa pa?” tanya istrinya.
“Emm enggak, Cuma rindu aja sama kalian lama tidak bertemu.”
“Papa mau berapa lama di rumah. Bagaimana kalau kita liburan?” tanya Bu Elnara.
“Oke, mumpung besok Ara juga masih libur. Besok kita liburan, Ara mau kemana? Lombok, Bali atau ke luar negeri?” tanya Papanya. Ara sudah bosan liburan dengan naik pesawat dalam sehari pulang pergi. Ingin rasanya Ara liburan naik mobil dan camping di hutan. Ara menghela napas panjang.
“Ara agak gak enak badan Ma, Pa. Ara mau istirahat aja.” Ara berdiri dan kembali ke kamarnya. Pak Thomas dan Bu Elnara saling pandang. Baru pertama kalinya Ara bersikap dingin dengan Papanya. Tidak ada antusias sama sekali ketika diajak liburan.
“Ya gak tahu, mumgkin saja sudah bosan.” Bu Elnara berdiri untuk menyusul putrinya. Pak Thomas memijat kepalanya, sekarang dia baru merasakan betapa rumitnya menjalani kehidupan yang telah dia pecah sendiri.