Review #35
The Double
Penulis : Fyodor Dostoevsky
Goodreads Rating : 3.69/5
Buku ketiga dari Fyodor Dostoevsky yang aku baca, setelah Notes from the Underground, dan The Gambler. Sejujurnya aku telah berniat menulis review sejak buku pertamanya yang aku baca, namun rasanya sungguh berat. Berat dari isi bukunya, juga dari keinginanku untuk menggerakkan jari-jariku. Mengingat kembali bahwa Dostoevsky adalah salah satu penulis sastra klasik termahsyur di dunia sepanjang masa, rasanya di buku ketiga ini aku harus memaksa jari-jariku untuk sedikit menuliskan pengalaman membaca karya penulis asal Rusia ini.
Ditulis pada tahun 1846. Menceritakan tentang Yakov Petrovich Goliadkin, seorang anggota dewan perwakilan (titular councillor?), yang digambarkan memiliki kepribadian yang sinis dan sentimental. Pada suatu hari, ia bertemu dengan seorang yang memiliki penampilan dan nama yang sama persis dengannya, namun dengan sifat bertolak belakang. Kehadiran si kembaran ini kemudian menimbulkan pergolakan psikologis dalam dirinya, seiring satu sama lain berusaha saling menjatuhkan.
Sejujurnya menurutku konflik antar kedua tokoh dan dengan tokoh lainnya dalam cerita ini tidak terlalu ‘wah’, namun ada konflik yang jauh lebih menarik yang disajikan Dostoevsky: konflik antara tokoh dengan pikirannya sendiri. Buku ini dipenuhi pergolakan batin dan pikiran Goliadkin. Mulai dari ia memikirkan suatu rencana, kemudian menimbang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi setelahnya, lantas terjadi kebimbangan atas rencananya sendiri, akhirnya dengan ‘terpaksa’ mengambil suatu keputusan apa yang ia harus lakukan, dan diakhiri (sebagian besar) dengan penyesalan atas keputusan yang diambilnya tersebut, ya semacam itu.
Hal semacam di atas semua dinarasikan Dostoevsky dalam suatu kalimat panjang tanpa jeda paragraf. Di satu sisi, hal ini sungguh menarik, bagaimana kompleksitas pikiran manusia dituliskan dengan runut, tetapi di sisi lainnya ini dapat menjadi hal yang membosankan. Bayangkan hampir tiap pikiran tokoh dituliskan dengan sebegitu detailnya, sampai sering kali aku merasa bahwa ada yang salah dengan tokoh kita ini. Tetapi tidak juga, dipikir kembali memang begitulah isi pikiran manusia: “semrawut”. Tipikal penulisan ini sejujurnya tidak membuatku terkejut lagi, mengingat di dua buku Dosktevsky sebelumnya yang kubaca menggunakan gaya penulisan yang kurang lebih sama, ya memang seperti itulah ciri khasnya.
Kompeksitas pikiran Goliadkin juga membuatku berpikir: jangan jangan semua ini hanya ada di pikiran Goliadkin saja, jangan jangan ia hanya mengada-ada, berhalusinasi. Semakin aku membaca, rasanya semakin aku menjadi pengidap Schizophrenia. Tapi rasanya semua itu tidak penting lagi disimpulkan. Seolah memang begitulah dunia tempat kita hidup: ganda. Kebohongan, kebenaran, ilusi, fakta, sudah menyatu dan tidak jelas batasnya, semua terasa nyata.
Kehadiran kembaran ini juga boleh jadi adalah alegori, menggambarkan bagaimana seseorang (dalam hal ini Goliadkin) tidak puas dengan dirinya sendiri dan kesulitannya beradaptasi di masyarakat. Akhirnya ia menciptakan kepribadian lain yang bertolak belakang, yang banyak disukai banyak orang. Dalam pikirannya ia merasa marah karena sebagaimana pun ia mencoba, ia tetap tak bisa merubah dirinya. Semakin berandai bagaimana jika ia adalah dirinya yang lain, semakin ia membenci dirinya dan kehidupannya.
Hal yang mengangguku selama membaca buku ini adalah sebagaimana yang telah kutuliskan sebelumnya, ceritanya padat sehalaman dengan sedikit (atau bahkan tidak ada) jeda paragraf dan baris, dialog antartokoh juga minim sekali, semua ini membuatku terkadang pusing kehilangan fokus terhadap bagian yang dibaca. Membaca labirin isi pikiran yang dituliskan dengan detail kadang membuatku juga ikut berpikir, kemudian menjadi tersesat, memikirkan kembali sebenarnya apa yang sedang kubaca. Kepala ikut terasa berat.
Kompleksitas pikiran tokoh utama dalam buku seperti ini memang menjadi ciri khas tulisan Dostoevsky. Bukan buku yang mudah dibaca, boleh jadi belum tentu juga dapat langsung memahami apa yang sedang dibaca pada saat itu atau pun seselesainya. Namun iya, buku dengan cerita dan penulisan semacam ini adalah tipikal buku yang tepat sekali dijadikan bahan untuk diskusi. Bahkan, dirimu bisa takjub dengan banyaknya pembahasan kritis dari pembaca pembaca lainnya yang sama sekali tak terpikirkan olehmu. Ya, itulah yang terjadi padaku.
Depok, 27 Februari 2023, 7.11 PM














