"Selamat tahun baru 2024, selamat sudah bangun dari koma, pelan-pelan saja, asalkan tetap hidup dan tidak pernah menyerah lagi"

JVL
he wasn't even looking at me and he found me

No title available

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
art blog(derogatory)
No title available

Origami Around
occasionally subtle

@theartofmadeline
will byers stan first human second
No title available
Stranger Things
Alisa U Zemlji Chuda

if i look back, i am lost
Jules of Nature

Discoholic 🪩
No title available
Today's Document

tannertan36

seen from United States
seen from Japan

seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from India

seen from Ireland
seen from Australia

seen from Italy

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Ireland

seen from Malaysia
seen from Switzerland
seen from United Kingdom

seen from Ireland

seen from Germany
seen from United Kingdom
@dewie-sudarsh
"Selamat tahun baru 2024, selamat sudah bangun dari koma, pelan-pelan saja, asalkan tetap hidup dan tidak pernah menyerah lagi"
10 postingan!
Paviliun Kamboja
“Hallo teman-teman, perkenalkan saya Ken Surya Abbas. Biasa dipanggil Ken. Saya pindahan dari SMA Bintara―”
“Kenapa pindah sekolah ke sini, apa udah miskin?” celetuk salah satu murid sebelum Ken melanjutkan perkenalannya. Ken sudah menduga akan terjadi seperti ini.
“Sttt, tenang anak-anak. Tidak usah ikut campur urusan pribadi orang. Menjadi kaya atau miskin itu bukan kesalahan. Yang salah itu di mana pun kalian sekolah tetapi tidak bisa belajar dengan baik dan tidak bisa menghargai. Paham.” Wali kelas 12 IPA 1 benar-benar galak. Seketika murid langsung saja terdiam.
“Ken, ibu sudah lihat laporan dari sekolah kamu sebelumnya dan hasilnya cukup bagus. Semoga kamu juga bisa ngikuti pelajaran di sini ya. Silahkan kamu duduk di situ. Di samping Ara, dia adalah ketua kelas IPA 1.” Wali kelas Ken menunjukan bangku kosong yang hanya ada di samping Ara.
Ken segera duduk dan memperhatikan Ara secara detail. Dari postur tubuh tidak jauh beda dengan Ana, wajahnya pun sama. Hanya saja Ara mengurai rambutnya dan menjepitnya dengan kupu-kupu berwarna biru. Ken menjadi sedikit geli melihat penampilan Ara yang masih saja dianggap itu adalah Ana.
Ara yang merasa diperhatikan oleh Ken, segera mengalihkan wajahnya untuk menatap Ken. Seketika itu juga Ken jadi terkejut dan salah tingkah.
“Kenapa kamu lihatin aku kaya gitu?” tanya Ara. Ken mengernyitkan keningnya. Gaya bicaranya pun juga berubah batin Ken.
“Heh, gadis licik. Lo pikir dengan berubah gaya rambut, berubah sok manis dan menjadi sok polos gue bakal terpesona gitu sama lo. Gak bakal.” Ken masih belum percaya kalau Ara dan Ana itu adalah dua orang yang berbeda.
“Kamu belum kenal sama aku udah berani bilang seperti itu sama aku, sakit jiwa ya?” tanya Ara lagi.
“Udah deh, lo gak usah pura-pura sama gue. Gue tahu bokap lo sultan, dia bisa lakuin apa aja―”
“Buk, maaf apa saya boleh pindah tempat duduk.” Tiba-tiba saja Ara mengangkat tangan dan mengadu pada Guru.
“Kenapa Ara?”
“Anak baru ini berisik Bu,” kata Ara. Ken melihat Ara dengan tatapan sinis. Benar kan dugaan Ken kalau gadis ini akan membuatnya menderita lagi.
“Tidak Bu, saya hanya bertanya buku apa saja yang akan di pakai Bu,” bantah Ken.
“Ara, sebagai teman dan ketua kelas kamu bantuin dong Ken. Jangan seperti itu.” Wali kelas Ara justru membela Ken dan itu yang membuat Ken memberi wajah ejakan pada Ara.
Hari itu rasanya Ara sangat kesal karena terus di ganggu oleh Ken. Dan apapun yang dibicarakan oleh Ken sama sekali tidak bisa dimengerti oleh Ara. Begitu sebaliknya, apapun yang dilakukan Ken untuk memancing Ara mengakui bahwa itu Ana sama sekali tidak berhasil.
Sampai jam pelajaran telah selesai, Ken tidak henti-hentinya menggagu Ara, itu karena rasa benci Ken terhadap Ana sudah mendarah daging di tubuh Ken.
“Ara,” panggil Felicia.
“Hai Fel,” jawab Ara dengan nada lembut. Sementara Ken masih berjalan di belakang Ara sembari memperhatikan tingkah Ara dan tidak peduli dengan Felicia yang mengacungkan tinju kepadanya.
“Lo hari ini jadi ikut gue jalan?”
“Maaf Fel, hari ini Papa aku ada di rumah. Kamu tahu sendiri, Papaku gak ngizinin aku kemana pun.” Ara bicara dengan nada sedih, Ken terus menyimak kata-kata Ara.
“Yah, aneh banget sing bokap lo. Masa udah gede gini masih aja gak dibolehin pergi-pergi.”
“Maaf ya Fel, lain kali deh.”
“Emangnya lain kali boleh? Gak yakin gue. Apa gue aja yang izin ke bokap lo. Mungkin bokap lo itu khawatir kalau lo itu kenapa-kenapa? secara anaknya cantik gini.”
“Jangan, kamu gak tahu Papa aku itu seperti apa. Kalau dia udah bilang A ya gak akan berubah B, kecuali Mamaku yang bilang.”
“Ahhhh boleh tuh, pokoknya lo harus bilang sama nyokap lo. Kan nyokap lo juga udah kenal sama gue.”
“Iya, pasti. Aku pulang duluan ya.”
“Kabari ya Ra.”
Ara hanya menganguk dan membalas lambaian tangan Felicia. Ara segera naik mobil jemputan. Rasanya hanya hari pulang dan berangkat sekolah lah yang membuat Ara bahagia, naik bis ala-ala korea dan mendengarkan musik favoritnya.
Sementara di sekolah, Felicia tengah menatap Ken yang tidak henti menatap Ara.
“Lo kenapa sih Ken, lo naksir sama Ara?” tanya Felicia.
“Apa! jijik gue naksir ama dia.”
“Bangkai, lo kalau ngomong dijaga ya. Gue gak terima lo bersikap seperti itu sama Ara meskipun lo sepupu gue. Punya masalah apa sih lo?” tanya Felicia emosi.
“Bapaknya gadis itu yang udah buat nyokap gue ninggalin rumah.”
“Gak waras lo, gue udah sering main ke rumah Ara. Dan nyokapnya bukan nyokap lo. Sadar Ken, di dunia ini banyak orang mirip. Jangan sampai lo salah orang, lo bakal nyakiti orang yang gak tahu apa-apa. Mendingan lo pastiin dulu, dia beneran gadis yang lo maksud bukan? Setahu gue jam sekolah lo lebih lambat kan pulangnya. Ayo gue antar ke sekolah lo. Gue jadi penasaran semirip apa gadis itu sama Ara. Sampai lo jadi kaya orang gila gini.” Felicia melangkah masuk mobil dan diikuti oleh Ken. Felicia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar sampai di sekolah Ken dengan segera. Sekolah Ken berakhir satu jam lebih lambat dari pada sekolah Felicia. Di dalam mobil Ken merasa gelisah, dia berharap Ara bukanlah Ana. Tetapi, Ken juga ingin membalas semua yang dilakukan Ana padanya.
Hanya 30 menit yang dibutuhkan Felicia untuk sampai di depan sekolah Ken.
“Lima menit lagi,” ucap Felicia sembari melirik jam di tangannya. Ken tidak menjawab, wajahnya terus menatap gerbang sekolah.
“Cewek yang ganggu lo itu bawa mobil apa bagaimana Ken? Kalau kita di sini kita bisa lihat gak sih?” tanya Felicia sembari celingukan. Felicia sengaja mencari parkir yang tidak jauh dari gerbang sekolah.
Beberapa detik kemudian ada mobil yang parkir di depan mobil Felicia dan keluar seorang ibu paruh baya yang cantik dan fashionable.
“Ken, itu nyokap lo? Ngapain dia di sini?” tanya Felicia. Felicia semakin tidak percaya ketika melihat Ana datang menghampiri mamanya Ken. Parahnya, Ana yang merasa tidak semangat sekolah karena tidak ada Ken kini bernampilan menjadi biasa saja. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja. Felicia menutup mulutnya tidak percaya. Benar – benar sama persis dengan Ara. Felicia segera keluar mobil dan memanggil Ana dengan Ara.
“Ara,” panggil Felicia. Melihat Felicia memanggil Ana dengan sebutan Ara. Ken segera keluar.
“Siapa ya?” tanya Ana.
“Ken? Kamu di sini?” tanya Mama Ken begitu melihat Ken keluar dari mobil Felicia.
“Oh, Ken? Wuah ternyata lo gak bisa lupain gue ya. Lo masih kangen sama gue?” tanya Ana dengan nada centilnya. Felicia tidak percaya dengan apa yang dilihat di depannya saat ini.
“Ayo masuk mobil,” ajak Ken pada Felicia. Tetapi, Felicia masih saja memperhatikan Ana dari ujung rambut sampai ujung kaki. Melihat Felicia yang shock Ken langsung menarik Felicia untuk masuk ke mobil. Sebelum Ken masuk ke mobil untuk menggantikan Felicia mengemudi. Mata Ken bertatapan dengan mamanya. Namun keduanya saling diam.
Ken masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobilnya. Diliriknya Felicia yang masih terdiam tidak percaya.
“Sekarang lo percaya kan kalau―” Ken menghentikan ucapanya ketika tangan Felicia menutup mulutnya. Felicia segera mengambil ponselnya dan vidio call Ara.
“Hai Fel, ada apa?” tanya Ara dari balik ponsel Felicia. Di sana terlihat jelas Ara masih di dalam bis sekolah.
“Emmm enggak gue salah pencet, sorry lo di mana?” tanya Felicia gugup.
“Oh, ini masih di bis. Bentar lagi sampai.”
“Oh ya udah hati-hati ya Ra, by...by....” Ara menutup ponselnya dan memandang Ken.
“Kenapa? lo masih mau bilang gue gila?” tanya Ken.
“SUMPAH. MEREKA SAMA BANGET. KEMBAR IDENTIK!”
“Gak usah ngegas.” Ken menutup telinganya.
“Kok Ara gak pernah cerita kalau punya kembaran, dan kenapa mereka sekolahnya terpisah? dan kenapa juga bokapnya Ara nikah sama nyokap lo?” tanya Felicia.
Keduanya terdiam sejenak kemudian mereka saling bertatapan dan mengucapkan kalimat yang sama dengan bersamaan.
“Bokapnya punya dua istri.”
“Enggak, lo tahu bokapnya Ana gak?” tanya Felicia yang masih belum bisa percaya dan Ken menganguk. Felicia segera membuka galerinya waktu itu dia pernah mengambil foto keluarga Ara yang ada di rumahnya.
“Ini bukan?” tanya Felicia sembari memperlihatkan foto di ponselnya.
“Iya, Bagaskara Putra Thomas. Lelaki keturunan Jawa-Belanda presiden direktur Putra Jaya Thomas Grup.” Kata-kata Ken membuat Felicia terbelalak tidak percaya.
“Kenapa lo?”
“Sumpah, bokap mereka sama. Dan di foto ini hanya ada satu orang. Jadi mereka itu satu orang apa beda orang?. Tapi, gak mungkin dalam satu hari mereka sekolah di tempat yang sama. Kalau mereka kembar kenapa mereka terpisahkan dan kenapa Ara gak pernah cerita apa-apa sama gue dan di rumahnya tidak ada satupun foto mereka, berdua gitu?” Felicia terus mengoceh. Karma rasanya datang dengan cepat, belum ada 24 jam dia bilang Ken tidak waras. Sekarang dia juga merasakan apa yang dirasakan Ken.
“Ken, gue yakin. Ara sama Ana adalah kembar tetapi mereka tidak kenal satu sama lain. Gue gak tahu apa masalahnya, Cuma yang pasti kita harus cari tahu.”
“Ngapain? Bikin repot hidup aja.”
“Ya biar lo gak salah orang. Pokoknya besok lo jaga sikap, gue akan bantuin lo cari tahu siapa Ana dan Ara. Mereka saling kenal atau gak.” Felicia menepuk bahu Ken.
Ken memijit pelipisnya sejenak. Dia sedikit lega bahwa yang ada di sekolah barunya bukan Ana. Itu artinya Ken akan merasa tenang dan juga Ken akan bebas balas dendam dengan Ara. Ken tidak peduli walaupun Ara tidak tahu apa-apa dengan apa yang dilakukan Ana. Yang jelas Ken tahu, bahwa papa Ara adalah Bagaskara Putra Thomas dan itu sudah cukup untuk Ken punya alasan balas dendam.
Paviliun Kamboja
Ini adalah hari senin pertama tahun ajaran baru, di mana pasti semua murid sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah. Tapi, tidak berlaku untuk Eliana karena tidak ada Ken lagi di sekolah. Begitu juga dengan Ken, pergi ke sekolah baru ketika kelas 12 baginya sangat sulit. Terlebih dia pindahan dari sekolah Bintara sekolahnya para anak sultan.
Pagi itu banyak wajah yang suram di tengah cuaca yang cerah. Felicia juga keluar dari rumah kontrakan dengan wajah yang sedih. Dalam hatinya terus bertanya apakah Ken jadi pindah ke sekolahnya?.
Di Paviliun Kamboja juga terjadi hal yang sama, tidak ada keceriaan sama sekali. Pagi itu Eliara tampak tidak semangat setelah aksi mengurung dirinya di kamar. Ara tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia merasa akhir-akhir sangat bosan dengan kehadiran Papanya. Ara sangat rindu kebebasan, rasanya Ara muak selama 17 tahun terkurung di dalam istananya sendiri.
“Ara, kamu kenapa? sakit?” tanya Pak Thomas. Ara hanya menggeleng.
“Kenapa dari kemarin kamu cemberut terus, tidak keluar kamar sama sekali. Kamu marah sama Papa?” tanya Pak Thomas dan Ara masih saja menggeleng.
“Papa punya salah sama kamu, atau Papa lupa janji?” tanya Pak Thomas lagi dan Ara masih saja diam.
“ARA!”
Ara terkejut ketika Papanya mulai bersuara tinggi kepadanya.
“Papa itu ngomong sama kamu ya Ra”.
“Dan Ara juga dengarin Papa,” bantah Ara.
“Terus kenapa kamu gak jawab?”
“Memangnnya Papa gak paham artinya angukan dan gelengan kepala.” Ara yang akhir-akhir ini sangat sensitif untuk pertama kalinya berani melawan Papanya.
“Ara, kamu ini kenapa sih? Papa itu tanya baik-baik lho sama kamu. Kemarin Papa juga ajak liburan kamu gak mau. Papa itu udah jarang pulang Ra, jangan gitu dong.” Bu Elnara menasihati putrinya.
“Maafin Ara Pa. Ara lagi gak mood aja. Ara berangkat sekolah dulu, udah terlambat.” Ara berdiri dan segera mencium tangan kedua orang tuanya dan berangkat ke sekolah. Pak Thomas menghela napas berat.
“Namanya juga anak cewek udah memasuki usia puber, kita gak bisa berlaku sebagai orang tua lagi. Kita harus berlaku sebagai sahabatnya. Seusia Ara itu waktunya menikmati masa remajanya. Pergi bersama teman-teman, jalan dan lainnya. Dia bukan anak kecil lagi yang harus kita jaga terus-terusan.” Bu Elnara memberi penjelasan pada suaminya.
Pak Thomas menghela napas. Benar juga yang dikatakan istrinya, bahwa dia tidak mungkin mengurung Eliara terus menerus. Dia semakin dewasa dan ingin juga menikmati dunia luar. Tetapi, bagaimana kalau Eliara dan Eliana bertemu. Padahal Pak Thomas sudah ada rencana untuk mengirim salah satu putrinya kuliah ke luar negeri agar mereka tidak bisa bertemu satu sama lain.
“Memangnya kenapa sih Thom, kalau Eliara itu kita bebasin aja. Aku yakin sama anakku kalau dia itu bisa jaga diri.”
“Kamu kan tahu kondisi Ara itu lemah, dia gak bisa kecapekan dikit aja. Belum lagi masalah lututnya. Nanti kalau terjadi apa-apa bagaimana?” tanya Pak Thomas kepada istrinya. Bu Elnara tampak diam sejenak. Ara mempunyai fisik yang lemah. Dia mempunyai kelainan pada tulang lututnya, hingga dia tidak bisa berdiri terlalu lama, kecapekan ataupun berlari. Ara butuh waktu sedikit lebih lama dari anak kebanyakan untuk bisa berjalan. Hal itu juga yang membuat Pak Thomas akhirnya memilih Ara untuk tetap hidup di kehidupan Elnara. Dan memilih Eliana hidup di kehidupannya. Ketika mendengar dari dokter kalau salah satu putrinya mempunyai tulang lutut yang kecil dengan kemungkinan tidak bisa berjalan. Maka Thomas memutuskan untuk memilih Ara sebagai anak yang akan tinggal di Paviliun Kamboja bersama Elnara.
“Bagaimana kabar kedua anak kita Thom?” tanya Elnara waktu itu ketika baru saja sadarkan diri dari proses operasi kedua anak kembarnya.
“Maafkan aku Nara, anak kita hanya satu yang selamat dan itu juga dia ada sedikit kekurangan.” Pak Thomas memulai kebohongan terbesar di dalam hidupnya. Dan Elnara begitu terpuruk mendengar kabar itu. Tetapi, cinta kasihnya lah yang akhirnya membuat Ara bisa tumbuh dewasa dan sehat. Meskipun berkali-kali tejatuh namun Ara terlihat lebih kuat dari keadaan yang sebenarnya.
“Aku yang akan bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada Ara.” Jawaban istrinya akhirnya membuyarkan semua bayangan masa lalu Pak Thomas. Tetapi, yang dikhawatirkan adalah jika kedua anak yang sengaja dipisahkan itu akan bertemu di luar sana. Dan yang paling membuat Pak Thomas khawatir adalah, dia sangat takut ketika Elnara mengetahui bahwa anaknya satu lagi masih hidup.
“Thomas.”
“Emm, iya. Baiklah, mulai sekarang soal Ara ku serahin sama kamu saja.”
Pak Thomas segera menyelesaikan sarapannya dan segera bergegas untuk pergi lagi. Sementara istrinya melayaninya dengan sepenuh hati. Senyum Bu Elnara terlihat berbeda pagi ini, dia tidak sabar untuk memberikan kabar baik pada putri kesayangannya.
***
Eliara terlihat sangat sibuk, sebagai ketua kelas dia sibuk membantu wali kelasnya menyiapkan buku-buku yang akan dipakai di kelas nanti. Ara yang dari pagi sudah badmood menjadi lebih buruk ketika bertemu cowok aneh yang tiba-tiba saja marah dengannya.
Siapa sih dia berani banget marahin aku kaya gitu, pakai bilang aku ngikuti dia segala lagi. Ih, ketemu juga baru sekali batin Ara sembari melihat cowok aneh yang baru saja menabraknya sebelum akhirnya masuk ke ruang guru.
Sementara cowok aneh yang dimaksud Ara itu masih berdiri di tempat ketika mereka bertengkar beberapa menit yang lalu.
“Hai Ken, lo jadi pindah ke sini juga hahaha.” Felicia menghampiri Ken.
“Parah gak sih tuh cewek. Geli gue, dia sampai ngikuti gue pindah sekolah di sini tahu gak?”
“Hah, serius? yang mana sih. Penasaran gue?”
“Itu.” Felicia sampai menjauhkan wajahnya ketika tangan Ken yang kekar secepat kilat menunjuk gadis cantik yang menuju ruang guru.
“Ara, ya gak mungkin lah Ken dia itu cewek yang gangguin lo di sekolah. Ara itu sejak awal udah sekolah di sini. Dia juga sahabat gue dari kelas 10. Sepertinya emang bener lo yang gila deh. Lagian masa cuma risih ama cewek aja lo sampai pindah sekolah.”
“Ara? Bukan Ana?”
“Iya Ara, cewek itu tadi kan? dia itu Ara.”
Ken mendadak seperti orang linglung. Bagaimana bisa wajah Ara sama persis dengan wajah Ana. Cewek yang bukan saja menggagunya di sekolah. Tetapi juga menghancurkan kehidupannya. Ken menatap Felicia sekali lagi untuk memastikan kebenaran. Felicia meyakinkan ucapannya dengan ekspresi wajah yang aneh. Ken terdiam, dia bukan lelaki pengecut yang pindah sekolah hanya karena cewek. Tetapi, memang gadis yang berwajah sama persis dengan yang dia lihat barusan lah yang membuat dia harus keluar dari sekolah.
Apa mereka kembar? Jika iya, maka ini adalah kesempatan aku untuk membalas dendam batin Ken.
“Kenapa lo?” tanya Felicia lagi ketika melihat Ken bersikap aneh.
“Enggak, gue gak salah dia tu Ana, cewek yang udah buat hidup gue gak tenang di sekolah Bintara.”
“Ken, dia itu Ara. Eliara Zhivania Thomas. Dia dari awal sudah sekolah di sini. Jadi gak mungkin dia sekolah di Bintara juga,” ucap Felicia sembari menepuk bahu Ken. Dan menariknya sedikit agar lebih mendekat ke wajahnya. “ Dan dia itu sahabat gue yang tinggal di Paviliun Kamboja,” bisik Felicia.
Ken terkejut, jelas mereka bukanlah orang yang sama. Karena Eliana tinggal di perumahan Paviliun Ester. Ken mengacak rambutnya, dia ingin menjalani kehidupan yang baru dengan menjauhi Ana, kini malah dia harus berhadapan dengan bayang-bayang Ana yang ada di dalam diri gadis bernama Ara.
Paviliun Kamboja
Felicia tidak henti menatap sepupunya yang berenang seperti orang kesurupan. Dengan segelas juz dan roti bakar Felicia memperhatikan polah Ken yang berenang tidak beraturan, beberapa kali terlihat dia memukul air yang sama sekali tidak bermanfaat apapun di dalam dunia renang. Felicia tertawa melihat Ken yang akhir-akhir ini hanya uring-uringan.
“Kenapa lo senyum-senyum?” tanya Ken jutek.
“Yaelah baper amat, lagi PMS?” tanya Felicia sembari menggigit roti dan mengejek Ken.
“Ini adalah hari terakhir kita berenang, karena besok kita akan pindah dari rumah ini.” Ken membuka air mineral dan meminumnya. Felicia melihat kesedihan yang ada di wajah Ken, rumah yang menyimpan banyak kenangan ini akhirnya terjual sudah.
“Semua akan baik-baik saja Ken, gue yang kehilangan kedua orang tua gue aja masih baik-baik aja. Apalagi Cuma kehilangan rumah yang ada kolam renangnya. Nanti di apartement lo kan juga ada fasilitas kolam renang.”
Ken menatap Felicia, bagaimana bisa gadis ini selalu santai pada setiap keadaan.
“Bukan kolam renangnya yang bikin gue sedih, emang gue anak kecil. Tapi, kenangan yang ada di dalam rumah ini.”
“Kenangan tidak ada di rumah ini Ken, tapi ada di dalam diri lo sendiri. Kemana pun lo pergi dan kapan pun lo mau membuka kenangan itu, lo pasti bisa melihat kenangan itu tanpa lo harus datang ke sini.”
“Fel, lo kok bisa bijak banget sih sekarang? Padahal dulu lo manja banget.”
“Karena gue udah yatim piatu kali.”
“Bisa gak, lo gak usah nyebut yatim piatu dengan nada biasa gitu. Kesannya kaya lo seneng banget jadi yatim piatu.”
“Hiks, mungkin karena gue udah yatim piatu kali, hiks....hiks,” ucap Felicia dengan nada sedih dan berusaha menangis. Ken mengernyitkan dahinya.
“Sudahlah, lo emang gak pantas sedih.” Sekali lagi Ken meneguk air mineral dan berdiri untuk pergi.
“Ken,” panggil Felicia.
“Apa?” Ken menghentikan langkahnya dan melihat Felicia.
“Sebenarnya gue mau ngomong sama lo, tapi ya udahlah nanti aja. Gue juga mau berenang dulu, hari terakhir kan.”
“Apaan sih lo, kebiasaan gak jelas tahu gak!”
Ken pergi meninggalkan Felicia yang masih menatapnya dengan keraguan. Felicia sebenarnya ingin bilang jika dia tidak mau ikut keluarga Ken pindah ke Apartement, Felicia tahu Apartement keluarga Ken kecil. Tabungan Felicia sudah cukup untuk hidup mandiri mencari kos-kosan. Felicia masih mencari cara untuk menyampaikan ini agar Ken tidak bertambah sedih.
Felicia menggelengkan kepala, kehidupan seseorang memang tidak ada yang pernah tahu. dulu Felicia merasa kehilangan dunia dan selalu berpikir apa dia bisa hidup tanpa kedua orang tuanya. Beruntung keluarga Ken bisa membuatnya bangkit, dan sekarang giliran Ken yang terhantam badai. Kedua orang tuanya memang masih hidup. Tetapi, diantara mereka terpisahkan oleh kebencian.
Sekali lagi Ken menoleh ke belakanga ketika Felicia menceburkan diri ke kolam renang.
“Gue tahu lo mau ngomong apa Fel,” ucap Ken dalam hati. Kerena kemarin ketika Felicia pergi, Ken banyak iklan kontrakan rumah di koran yang di lingkari oleh Felicia. Ken tahu mungkin Felicia tidak mau menambah beban keluarganya lagi.
“Ken,” panggil Pak Abbas.
“Iya Pa.”
“Barang-barang kamu sudah siap? Kita masih ada waktu satu hari lagi kok. Papa sudah bilang sama pembeli kalau minta waktu dua hari untuk persiapan pindah.”
“Sudah kok pa, kemarin Ken sudah beresin semua. Yah mungkin hari ini bisa kita cicil ke Apartement kali ya pa.”
“Boleh, oh iya Ken. Papa sudah urus surat pindah sekolah kamu. Dan sekolah yang lama juga menghapus catatan hitamnya. Jadi Papa harap jangan sia-siakan kesempatan yang telah diberikan oleh sekolah ini. Kamu harus mulai dengan semangat baru.”
“Pa, Ken gak melakukan apa-apa. Ken itu dijebak Pa.”
“Papa percaya sama kamu Ken, tapi masalahnya banyak saksi dan korban juga bilang kalau kamu kurang ajar sama dia.”
“Itu karena satu sekolah semua tunduk sama Ana Pa. Dia kan anak sultan gampanglah cari orang untuk jadi saksi.”
Papa Ken hanya terdiam, dia tahu betul masalah yang terjadi antara Ana dan Ken.
“Ya sudah, lusa kamu sudah bisa masuk sekolah yang baru. Felicia sudah tahu kalau kamu mau satu sekolah dengannya?”
“Ken udah bilang sih Pa, Cuma kelihatannya dia gak percaya aja.”
Papa Ken hanya tersenyum dan menepuk bahu Ken. Terlihat sekali banyak tekanan di wajah Pak Abbas. Memulai kembali usaha dari nol tidak mudah, ditambah lagi dengan rekan-rekan yang mulai tidak percaya lagi. Untuk satu-satunya cara untuk mengembalikan perekonomian keluarga, Pak Abbas harus menjual rumah satu-satunya. Rumah yang dulu punya banyak kenangan indah. Ken berjanji dalam hati, suatu saat nanti Ken akan mengambil rumah ini kembali. Rumah hasil kerja keras Papanya. Ken masih ingat dengan jelas bagaimana Papanya memberinya kejutan bahagia ini.
“Wuah, ini rumah siapa Pa, ada kolam renangnya lagi,” ucap Ken waktu itu ketika masih berusia 8 tahun.”
“Ini rumah kita sayang, jadi mulai sekarang kita tidak tinggal di Apartement lagi. Dan Ken kalau mau berenang tidak perlu naik turun dan berjalan jauh lagi. Ini udah ada.”
“Wuah makasih ya pa, terus Apartement kita bagaimana?”
“Kita masih bisa datang ke sana juga.”
Bayangan itu membuat Ken berkaca-kaca.
“Di sini bengong di sana bengong, di mana-mana dirimu bengong.” Felicia yang tiba-tiba datang menyanyikan lagu untuk menyindir Ken.
“Bentar banget lo renang?”
“Dingiiiinnnnn,” jawab Felicia sembari lari ke kamar. Ken hanya menggeleng dan segera menuju kamarnya untuk bersiap.
***
Eliara Zhivania Thomas, gadis cantik yang anggun, lemah lembut dan tentunya anak Sultan. Tinggal di perumahan Elite nomor satu tidak membuat Ara merasa bahagia sepenuhnya. Justru dia merasa sangat terkekang. Orang tuanya sama sekali tidak memberinya kebebasan. Ara tidak diizinkan pergi kemana pun dan juga berteman dengan siapa pun. Bahkan Ara juga tidak bisa sekolah di antara anak-anak Sultan yang lain. Ara merasa orang tuanya tidak ingin keberadaan Ara diketahui oleh dunia luar. Ara menatap area perkebunan milik orang tuanya dari jendela kamarnya. Rasanya Ara seperti Rapunzel yang tengah dikurung di sebuah menara. Beruntung Ara mempunyai Mama yang sangat pengertian, saat Ara meminta izin untuk membawa sahabatnya ke rumah, Mamanya lah yang berusaha agar dapat izin dari Papanya.
“Pa, Ara boleh minta kartu tamu untuk sahabat Ara?” tanya Ara waktu itu ketika sahabatnya Felicia dan Intan akan main ke rumahnya.
“Kan Papa sudah bilang Ara, kamu gak perlu bawa teman kamu ke rumah. Nanti kalau teman kamu tahu kamu tinggal di―”
“Mereka sudah tahu Pa, mereka mengikuti Ara saat pulang sekolah. Dan sekarang mereka ingin main ke rumah Ara.”
“Tuh kan Papa bilang apa, teman macam apa berani kepo seperti itu. Sekarang mereka tahu kamu tinggal di sini ngelunjak kan?”
“Mereka gak ngelunjak Pa, wajar kan mereka ingin tahu rumah Ara. Ara juga butuh sahabat.” Mamanya saat itu ikut membantu. Saat itu Pak Thomas hanya terdiam.
“Tidak akan terjadi apa-apa, aku juga ada di rumah terus. Aku tahu anakku bisa mencari teman yang baik-baik.” Bu Elnara siap bertanggung jawab jika terjadi apa-apa. Dan saat itu juga Pak Thomas mengeluarkan satu kartu tamu yang berwarna emas dan memberikan kepada Ara.
“Teman Ara ada dua pa, jadi satu lagi ya.” Ara merengek. Pak Thomas akhirnya mengalah dan menambah satu kartu tamu lagi.
“Ingat ya Ara, kamu harus tetap hati-hati jangan pergi kemanapun tanpa seizin Papa.”
Ara menganguk, bagi Ara Papanya mengizinkan dua sahabatnya datang ke rumah pun itu sudah cukup.
Tok...tok...tok
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Ara. Ara segera menutup tirai kamarnya dan bergegas membuka pintu.
“Non Ara, Tuan sudah datang. Non Ara diminta untuk turun menemui Tuan.” Salah satu asisten rumah tangga memberitahukan kalau Papanya sudah datang. Papanya sering kali pergi ke luar kota karena urusan pekerjaan.
“Iya, sebentar lagi saya turun.”
Asisten rumah tangga segera menunduk hormat dan meninggalkan Ara. Entah kenapa kepulangan Papanya sama sekali tidak membuat Ara bahagia. Mungkin karena Papanya sering pergi dan Ara tidak bisa lagi membedakan antara rindu dan butuh seorang Papa di hari-harinya yang sepi.
Ara segera turun ke ruang keluarga tempat Papanya menunggu. Ara melihat Mamanya sudah ada di sana dan menuangkan teh untuk suaminya yang entah berapa hari dalam sebulan ada di rumah.
“Ara, kamu baru bangun?” tanya Papa.
“Gak Pa, Ara itu selalu bangun pagi subuh hanya saja dia tidak pernah keluar kamar karena nurut sama perintah Papanya.” Bu Elnara menjawab pertanyaan Pak Thomas sekaligus sedikit menyindir suaminya yang selalu membatasi dunia Ara.
“Bagaimana sekolah kamu Ara?” tanya pak Thomas lagi sembari melihat anak perempuan yang dengan sengaja dia pisahkan dari saudara kembarnya sejak baru lahir.
“Baik Pa,” jawab Ara begitu lembut. Pak Thomas menatap Ara dalam-dalam, rambutnya yang panjang selalu dibiarkan tergerai, beda sekali dengan Ana yang selalu mengikat rambutnya dengan bermacam-macam aksesori rambut. Ara yang di besarkan di istana menjelma seorang putri yang sederhana, penurut dan sangat lemah lembut. Sementara Ana yang di besarkan di tempat biasa justru menjelma menjadi gadis yang manja dan sangat keras kepala. Pak Thomas menatap istrinya, andai saja dia juga ikut membesarkan Ana, mungkin sikap Ana tidak akan buruk.
“Kenapa pa?” tanya istrinya.
“Emm enggak, Cuma rindu aja sama kalian lama tidak bertemu.”
“Papa mau berapa lama di rumah. Bagaimana kalau kita liburan?” tanya Bu Elnara.
“Oke, mumpung besok Ara juga masih libur. Besok kita liburan, Ara mau kemana? Lombok, Bali atau ke luar negeri?” tanya Papanya. Ara sudah bosan liburan dengan naik pesawat dalam sehari pulang pergi. Ingin rasanya Ara liburan naik mobil dan camping di hutan. Ara menghela napas panjang.
“Ara agak gak enak badan Ma, Pa. Ara mau istirahat aja.” Ara berdiri dan kembali ke kamarnya. Pak Thomas dan Bu Elnara saling pandang. Baru pertama kalinya Ara bersikap dingin dengan Papanya. Tidak ada antusias sama sekali ketika diajak liburan.
“Kenapa dia?”
“Ya gak tahu, mumgkin saja sudah bosan.” Bu Elnara berdiri untuk menyusul putrinya. Pak Thomas memijat kepalanya, sekarang dia baru merasakan betapa rumitnya menjalani kehidupan yang telah dia pecah sendiri.
Paviliun Kamboja
Eliana membanting pintu mobil dengan keras. Dia tidak percaya kalau Ken sama sekali tidak menyesal telah dikeluarkan dari sekolah. Padahal Ana tahu betul kalau Ken satu-satunya murid yang menjadi kebanggaan sekolah, dan hal itu Ken pertahankan selama ini demi papanya. Ana pikir Ken akan memohon-mohon pada Ana untuk mencabut laporan palsunya bahwa Ken telah melakukan pelecehan terhadap teman sekolahnya. Semua itu jebakan Ana sendiri yang membuat Ken bersama salah satu siswa di kamar mandi. Ana ingin menyiksa Ken lebih lama lagi. Sekarang Ana menyesal Ken keluar dari sekolah.
“Argggg,” teriak Ana dan membanting tas sekolah di kasur.
“Ana, kamu kenapa kok teriak-teriak?” tanya Mama sambungnya Yuni.
“Tante, bisa minta tolong keluar dari kamar Ana.”
“An, sekarang tante sudah jadi Mama kamu lho.”
“Tante Yuni, bagi Ana tante itu hanya menjadi istri papa bukan menjadi Mama Ana.”
“Ana, tante ini sudah tinggalin keluarga tante demi kamu lho.”
“Aku gak minta tante, suami dan anak kandung tante sendiri aja bisa tante tinggalin. Apa lagi aku yang bukan siapa-siapa. Coba aja kalau papaku bukan konglomerat, emangnya tante mau nikah sama Papa hah.”
“ANA!” Pak Thomas tiba-tiba datang dan membentak Ana.
“Jaga bicara kamu, dulu kamu sendiri yang bilang kamu kesepian ingin juga punya Mama seperti teman kamu yang lain. Sekarang ada tante Yuni kamu malah bersikap seperti itu, gak ngerti Papa sama kamu An,” ucap Pak Thomas dengan bibir gemetar. Sementara istri barunya yang dulu adalah Mama Ken berlari keluar dengan berlinang air mata.
“Pa, memang aku ingin Mama. Karena dari kecil aku tidak pernah tahu siapa Mama aku. Tapi bukan berarti tante Yuni juga Pa. Dia itu Mama dari cowok yang aku cintai, dan gara-gara itu dia jadi benci banget sama aku.” Ana mulai menangis.
“Memangnya papa bisa memilih wanita yang Papa cintai itu bukan mamanya cowok yang kamu cintai HAH. Dan kalau emang dari awal kamu tahu tante Yuni itu Mamanya cowok yang kamu suka, kenapa kamu gak bilang dari awal.”
Eliana terdiam sejenak, dia teringat kembali saat dia setuju Papanya menikahi Tante Yuni. Saat itu Ana sangat sakit hati karena Ken menolak cintanya dan membuatnya malu di depan teman-temannya. Apapun yang Ana lakukan dulu sekarang menyisakan penyesalan baginya.
“Kenapa kamu diam An, benar yang Papa bilang kan? besok Papa akan pergi ke luar kota lagi. Papa harap kamu bisa berdamai dengan Tante Yuni.” Pak Thomas lalu pergi meninggalkan Eliana yang terdiam menyesali dengan apa yang telah dia perbuat selama ini.
Ana, lo bego banget sih. Kenapa lo jadi orang gampang banget baper. Sekarang lo nyesel kan kehilangan Ken batin Ana terus berperang saling menyalahkan.
Kringgg
Ponsel Ana berdering berkali-kali dari Jesica sahabatnya. “Ada apa sih Jes, gue lagi gak mau diganggu,” ucap Ana ketika mengangkat telepon dari sahabatnya yang cerewet.
“Ya ampun ada apa sih tuan putri, masih kesel karena Ken sekarang jadi pindah beneran,” suara Jesica terdengar menyebalkan.
“Diem lo.”
“Hahahaha ya udah gue ke rumah lo ya sama Bella, gue akan hibur lo.”
“Gak usah gue lagi badmood.”
“Gak mau tahu, gue akan sampai dalam waktu 15 menit lagi.”
“15 menit lo udah perjalanan ke sini ya. Gila lo.”
“Hahaha, by.” Jesica dan Bella mengakhiri telepon dengan suara tawa puas. Sementara Eliana langsung membanting ponselnya. Disaat dia kesal dan butuh perhatian pasti hanya Jesica dan Bella yang ada. Sementara Papanya selalu sibuk dengan kerjaan.
Eliana pergi ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya. Di bawah air yang mengalir dari shower Ana tumpahkan air matanya. Ana merindukan seseorang tapi dia sendiri tidak tahu itu siapa.Ana merasa seperti seekor burung dalam sangkar emas. Semua fasilitas memang ada. Tapi Ana merasa sendiri dan kesepian.
“Anaaaaaaaaaa, Im coming,” suara dari sahabatnya yang telah datang menggagu ritual mandi lulur Ana di kamar mandi. Takut sahabatnya semakin mengacaukan isi kamarnya, Ana segera mengambil handuk baju untuk menutupi tubuhnya.
“Kalian itu punya rumah kan? kenapa sih pada suka banget main ke rumah orang.”
“Yaelah, kan kita ini sama-sama AKKS.” Jesica menaikan kedua alisnya.
“AKKS apa ya?” tanya Bella yang sedikit lemot.
“Anak Kurang Kasih Sayang.” Jesica dan Ana bersamaan menyebut.
“Emanya iya ya?” tanya Bella lagi.
“Hadeh, ngomong sama Bella itu rasanya pingin gantung diri tahu gak,” kata Ana sembari menuju teras kamarnya diikuti oleh Jesica dan Bella.
“Huaaa gue tuh kalau ke rumah lo paling seneng tuh di sini. Di teras kamar lo.” Jesica mengambil teropong dan mulai melihat sesuatu dengan teropong mahalnya.
“Halah itu mah alasan lo doang. Bilang aja kalau lo itu seneng numpang makan di rumah gue.” Ana mengunyah salad buah dan melirik sahabatnya yang setiap kali datang ke rumahnya selalu meneropong. Rumah Ana tampak seperti rumah biasa dari luar. Tetapi, di belakang rumahnya terdapat tanah yang sangat luas. Bahkan orang tuanya membuat danau dan langsung terhubung dengan kebun jeruk yang Ana sendiri tidak tahu luasnya sampai ke mana.
“An, lo pernah gak sih jalan-jalan ke kebun jeruk lo itu?”
“Ngapain gue harus jalan-jalan ke kebun jeruk. Emangnya gue kurang kerjaan kaya lo,” ucap Ana menyindir sahabatnya yang kini mendekat dan menyomot buah di meja.
“Setiap gue lihat pakai teropong ini. Gue melihat perbukitan dari pulau surga dan terlihat satu rumah di sana. Mungkin gak sih kalau kita jalan ke kebun jeruk ini nanti bisa tembus ke sana.”
“Lo ngomong apa sih?” tanya Ana tidak paham.
“Sini lo lihat pakai teropong gue.” Jesica menarik tangan Ana dan menyuruhnya untuk melihat kebun jeruk melalui teropong dan mengarahkan ke arah tertentu.
“Lo lihat apa? rumah kan?” tanya Jesica.
“Itu rumah di Paviliun Kamboja bukan sih?” tanya Ana balik namun belum melepas teropong mahal Jesica.
“Iya itu tadi aku bilang, Paviliun Kamboja itu sama dengan pulau Surga.”
“Namanya juga lihat pakai teropong, apalagi Paviliun Kamboja itu dataran tinggi. Pasti bisa dilihat dengan mudahlah.” Ana memberikan teropong ke tangan Jesica kembali.
“Lo tahu kan kalau teropong gue ini teropong mahal. Hasilnya ini akurat, kalau terlihat dari teropong ini tempat itu gak sampai 50 meter jauhnya. Bagaimana kalau kita coba masuk ke kebun jeruk kamu. Pasti dari ujung kebun jeruk akan terlihat perumahan Paviliun Kamboja.”
Ana dan Bella sama-sama melihat Jesica dengan wajah heran. Entah kenapa Jesica selalu terobsesi dengan perumahan elite itu.
“Jujur aja deh Jes, lo itu sebenarnya mau apa?” tanya Ana.
“Ih, gue tuh Cuma penasaran tahu. Kan di sana itu gak bisa sembarangan orang masuk, hampir di bilang pulau pribadi. Gue pernah lihat foto Aunty gue foto berlatar belakang patung singa. Gue kira itu di Singapura eh ternyata itu ada di dalam Perumahan Paviliun Kamboja. Keren gak sih. Kalau aja gue bisa masuk ke sana, terus gue bisa foto-foto nanti follower instagram gue bisa naik.” Jesica menceritakan keinginannya diikuti gaya sok imud yang menjengkelkan.
“Jadi Cuma itu tujuan lo. Ya kenapa gak masuk sama Aunty lo aja.”
“Aunty gue udah tinggal di Austaralia.”
Semuanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Selama 16 tahun Ana baru menyadari kalau dari kebun jeruk miliknya bisa melihat Paviliun Kamboja. Ana jadi teringat sesuatu ketika dulu pergi ke ruang kerja papanya. Ana melihat foto dirinya bersama Papanya dan seorang perempuan.
“Pa, ini foto Ana sama Papa sama Mama ya? Kapan ini fotonya kok Ana tidak ingat?” tanya Ana yang jelas-jelas melihat dirinya di foto itu sekitar berusia 5 tahun. Harusnya Ana sudah bisa mengingat moment itu meskipun sedikit.
“Iya itu foto Ana dan Mama. Sini Papa simpan.”
“Tapi ini bukan rumah kita ya pa, ini di mana?” tanya Ana lagi.
“Itu di rumah opa sama oma. Ana mulai sekarang jangan masuk ruang kerja Papa lagi ya. Ayo sana pergi ke kamar.”
Sejak saat itu Ana tidak pernah lagi masuk ke ruang kerja Papanya karena selalu terkunci. Dan melihat rumah yang terlihat kecil lewat teropong Jesica itu, ingatan Ana kembali pada rumah yang pernah Ana lihat di dalam foto.
“An, lo mikirin apa?” tanya Bella. Ana segera tersadar dari lamunannya.
“Pasti lo mikirin ide gue kan untuk masuk ke dalam kebun jeruk itu.”
“Apaan sih Jes, gak mungkin lah kebun jeruk gue itu tembus perumahan Paviliun Kamboja. Jangan mimpi. Kalaupun tembus, gue yakin itu ada hutan lagi yang memisahkan atau mungkin jurang atau apalah. Gak mungkin sedeket itu sama rumah gue. Lo tahu kan pintu masuknya Paviliun Kamboja itu di mana?”
“Iya gue tahu, tapi kata orang dari jalan utama itu masih jauh banget masuk ke perumahanya. Sekitar satu jam lagi dari jalan utama bayangin. Bukan gak mungkin arah jalannya itu mendekat sama rumah lo ini.”
“Ngaco. Udah ah, mending gue nontong Oppa kesayangan gue aja daripada pusing mikirin ide lo yang gak jelas.” Ana kembali masuk ke kamar, mengganti baju dan memutar film korea. Malam itu mereka bertiga tertawa bersama hinggal larut malam. Dan seperti biasa Jesica dan Bella akan tidur di rumah Ana jika orang tuanya pergi ke luar negeri.
Melihat kedua sahabatnya terlelap. Pikiran Ana kembali terusik dengan apa yang dia lihat dibalik teropong milik Jesica. Jika benar Paviliun Kamboja itu dekat dengan rumahnya dan bisa di jangkau dengan melewati kebun jeruk milih keluarga besarnya, maka Ana juga akan pergi ke sana. Siapa tahu di sana ada lelaki tampan yang melebih Ken. Dan sudah pasti mereka tajir melintir. Rasa penasaran yang dimiliki Jesica seketika berpindah ke jiwa Ana saat itu.
Bersambung....
Paviliun Kamboja
Eliana tersenyum puas ketika melihat lelaki yang menolak cintanya itu harus keluar dari sekolah. Ken, cowok tampan yang sangat Ana suka sejak awal masuk sekolah. Ana hampir saja mendapatkan hati Ken. Namun sayangnya orang tua mereka terlibat cinta juga. Hingga akhirnya Ana dan Ken menjadi musuh bebuyutan.
“Ini perbuatan lo kan?” tanya Ken ketika keluar dari ruang kepala sekolah.
“Menurut lo?” Ana menaikan kedua alisnya dengan iringan senyum penuh kepuasan.
“Ya kalau emang bener itu lo, gue gak nyangka aja. Gue pikir cuma orang tua lo aja yang gak punya hati. Ternyata benar ya kata orang kalau buah jatuh itu gak jauh dari pohonnya.”
“Apa maksud lo ngomong kaya gitu. Denger ya Ken, andai saja lo mau pacaran sama gue. Lo pasti masih bisa bertemu sama nyokap lo.”
“Hahahaha, apa? pacaran? Lo pikir gue mau pacaran sama lo cuma karena ingin bertemu orang yang udah ninggalin anak dan suaminya demi lelaki lain. Iya? Gak bakal.”
“Ken, wajarlah nyokap lo ninggalin bokap lo yang udah bangkrut itu.”
“Dan kebangkrutan bokap gue juga karena bokap lo kan?”
Ana terdiam mendengar pertanyaan Ken yang memang benar. Papanya telah membuat perusahaan Papa Ken jatuh. Bukan hanya itu, papanya juga merebut Mama Ken. Sebenarnya Ana tidak menyukai perbuatan papanya. Tapi Ken sudah terburu-buru menuduhnya dengan hal-hal buruk. Satu tahun lamanya Ana masih berusaha untuk mendapatkan cinta Ken. Tapi kebencian Ken dengan orang tua Ana membuat Ken terus lari. Hingga Ken benar-benar membuat Ana sakit hati dengan ucapan yang tidak pernah Ana sangka akan keluar dari bibir lelaki tampan yang kini akan segera pergi dari sekolah.
“Kenapa diam. Sekarang lo tahu kan kenapa gue bisa benci banget sama lo. Gue juga gak betah satu sekolah sama lo. Tanpa lo fitnah gue dengan gosip murahan itu GUE JUGA AKAN PERGI DARI SEKOLAH INI!” bentak Ken.
Ana terkejut, terlihat jelas bagaimana kecewanya Ken terhadapnya. Ana memandang langkah Ken yang semakin menjauh. Ana menghempaskan napas kuat, sebenarnya bukan itu juga yang Ana mau. Tetapi, Ken sudah membuat kesalahan besar ketika membuat sakit hati seorang Eliana Zahralia Thomas.
***
Sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di depan cowok berseragam SMA Bintara. Terlihat gadis tomboy yang cantik membuka kaca mobil dan memanggil cowok tampan yang berdiri dengan wajah kesal.
“Woy, cowok. Ayo masuk.” Felicia, sepupu Ken yang siang itu menjemputnya di sekolah.
“Lo ganti mobil lagi?” tanya Ken.
“Biasalah kan mobil gue banyak.” Felicia berusaha menyombong padahal mobil yang selalu di pakainya adalah mobil kantor.
“Lo masih kerja?” tanya Ken. Dilirik sepupunya yang selama ini tinggal bersamanya. Orang tua Felicia meninggal kecelakaan ketika melakukan perjalanan bisnis ketika Felicia baru saja duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Karena tidak mau merepotkan orang tua Ken terus menerus, Felicia memutuskan untuk mencari pekerjaan dan bersekolah di tempat sekolah biasa. Wajah Felicia yang cantik dan keahliannya dalam tata rias wajah membuat Felicia di rekrut oleh perusahaan majalah kecantikan setelah dia memenangkan kontes merias wajah model. Ken sedikit tersenyum ketika melihat sepupunya yang tomboy ini adalah seorang make up artist dan beauty Flogger.
“Iyalah gue masih kerja, apa yang buat bayar ujian gue kalau gue gak kerja Ken, lo tahu sendiri gue ini yatim piatu.” Felicia berhenti di antara lampu merah. Ken menatap ketegaran Felicia saat itu. Bagaimana bisa dia menyebut sebagai anak yatim piatu tanpa beban.
“Gue keluar dari SMA Bintara.”
“Hah, kenapa?” tanya Felicia terkejut. Karena tidak mungkin seorang Ken yang pintar dikeluarkan dari sekolah.
“Gue mau pindah sekolah.”
“Kemana, luar negeri?” tanya Felicia serius sembari melanjutkan perjalanan.
“Lo ngejek gue, gue mau pindah ke SMA Tunas Bangsa.”
“Lah, sekolah gue. Bercanda lo, harusnya lo itu pindah ke Sekolah Citra Galaksi.” Felicia menyebutkan nama sekolah yang lebih bagus dari SMA Bintara.
“Lo tahu pasti kenapa gue pindah sekolah.” Ken merebahkan kepalanya. Felicia melirik Ken yang tampak sedih. Satu tahun yang lalu adalah masa-masa sulit yang dialami Ken. Mamanya pergi meninggalkan rumah dengan lelaki lain ketika perusahaan papanya bangkrut. Tetapi, Papa Ken adalah orang yang pekerja keras. Jatuhnya perusahaan tidak membuatnya menyerah terlebih Ken adalah anak tunggal yang sangat dibanggakan. Mungkin Ken adalah salah satu alasan Pak Abbas tetap bertahan meskipun perusahaannya jatuh dan dia juga harus rela melepas istrinya pergi ke pelukan lelaki lain yang lebih kaya.
“Tapi Ken, om Abbas kan sekarang juga mulai stabil dengan bisnis yang baru. Memangnya Om Abbas gak keberatan kalau lo pindah ke sekolah gue. Sekolah gue bukan sekolah mahal.”
“Iya sih, tapi ya udahlah. Gue juga udah muak sama gadis gila yang terus menerus mengejar gue itu.”
“Astaga Ken, parah banget sih lo. Wajar lah lo dikejar-kejar cewek. Lo ganteng, pinter, tajir pula, gue aja nih kalau bukan sepupu lo pasti bisa ngejar lo juga. Bukan gak mungkin di sekolah gue nanti lo juga bakal dikejar-kejar cewek.”
“Kalau ceweknya psikopat ya gue pindah sekolah lagi.”
“Jangan-jangan lo gak normal ya.”
“Maksud lo?”
“Ya itu, emm bentar-bentar,” ucap Felicia ketika mendengar ponselnya bunyi.
Hallo, iya beb kenapa? oh iya okey nanti setelah ini gue langsung ke rumah lo ya. By. Felicia menutup telepon dan segera menambah kecepatan laju mobilnya.
“Janjian ama siapa lo, pacar?”
“Ih kepo. Itu tadi sahabat cewek gue.”
“Oh, lagian mana ada cowok yang naksir lo ya kan.”
“Sembarangan lo, Felicia sang make up artis termuda di Indonesia.”
“Lo bisa dandanin orang kok lo gak bisa dandan sih?”
“Ih lo cowok kok mulutnya nyebelin banget sih Ken. Mau gue turunin di sini?”
“Ampun mbak jago.”
Felicia hanya memonyongkan bibirnya. Keduanya kini saling diam. Felicia melirik sebuah bukit yang indah tempat tinggal salah satu sahabatnya.
“Lo tahu gak Ken tempat itu,” ucap Felicia sembari menunjuk sebuah perumahan dengan bukit hijau yang indah.
“Ya tahu lah kan gue asli orang sini. Emangnya lo, kenapa? lo mau kesana. Gak sembarangan orang bisa masuk ke sana. Itu perumahan paling elite―”
“Perumahan dengan fasilitas super lengkap, di dalamnya hanya ada tujuh rumah saja yang berjarak berjauhan antara satu dengan yang lainnya Paviliun Kamboja. Meskipun namanya terdengar sedikit horor tapi banyak orang menyebutnya sebagai Perumahan di pulau Surga. Salah satu sahabat gue tinggal di sana.” Felicia mengambil alih penjelasan Ken tentang perumahan para eksekutif yang konon harganya sangat mahal.
“Bercanda lo keterlaluan, kalau memang dia tinggal di sana. Kenapa sekolah di Tunas Bangsa. Dia bisa sekolah di luar negeri.”
“Ya awalnya gue juga gak percaya. Bayangin dia aja ke sekolah gak bawa mobil. Dia ikut bis sekolah. Dulu dia gak mau banget kita main ke rumahnya. Lalu gue sama teman-temen yang lain sepakat buat ikutin dia kemana pulang sekolah, kita penasaran banget karena dia sering traktir kita. Jiwa kepo gue gak bisa ditahan Ken. Pas kita ikuti diam-diam, baru deh kita tahu kalau dia tinggal di sana.”
“Serius? kok aku merasa aneh.”
“Pikiran lo aja negatif. Ya itu artinya dia gak mau menyombongkan diri. Dia gak mau teman-teman kaya gue ini minder temenan ama dia.”
“Emm, lalu sekarang bagaimana?”
“Ini.” Felicia menunjukan sebuat kartu warna gold.
“Apa itu?” tanya Ken.
“Ini adalah kartu tamu untuk masuk ke Paviliun Kamboja. Jadi setiap orang yang tinggal di sana punya kartu khusus untuk tamu. Sekarang lo percaya kan?” Felicia mengejek.
“Ah, gak percaya gue. Pasti ini palsu.” Ken merebut kartu berwarna emas mengkilat dengan simbol bunga kamboja yang menonjol. Di sana tertera nama seseorang yang sangat tidak asing bagi Ken. Thomas Family, membaca tulisan yang ada di kartu tamu mewah itu Ken teringat kembali dengan lelaki yang merebut mamanya. Dia juga bernama Thomas, ini tidak mungkin lelaki yang sama. Pikiran Ken saat ini hanya dipenuhi dengan kemarahan atas keputusan mamanya yang meninggalkan keluarga dan juga tuduhan Ana yang membuat dia di keluarkan dari sekolah.
“Sini, tar ilang gue gak dapat lagi. Kartu tamu mereka terbatas.” Felicia mengambil kembali kartu tamu yang ada di tangan Ken. Felicia memutar kemudia memasuki halaman rumah yang mereka tempati.
“Udah sampai rumah, turun. Bengong aja.”
“Iya-iya yang mau masuk ke perumahan pulau surga. Oh iya, ngomong-ngomong sahabat lo cewek atau cowok?”
“Kenapa?”
“Kalau cewek biar gue pacarin, kalau cowok lo pacarin aja.”
“Ken, gue tahu saat ini ekonomi lo sulit. Tapi jangan putus asa seperti itu, sedih gue dengernya. Udah sana lo turun.” Felicia mendorong sepupunya untuk keluar.
Dalam perjalanan Felicia tersenyum sembari berkata dalam hati
Ketika lo nanti bertemu dengan Eliara, lo gak akan pacari dia karena dia tinggal di Paviliun Kamboja Ken, karena lo akan terpesona dengan kecantikannya. Gue gak sabar pingin lihat lo normal atau enggak sebagai cowok.
Felicia menambah kecepatan mobil dan segera menuju rumah sahabatnya, Eliara Zhivania Thomas.
***
Terima Kasih sudah membaca, like and coment ya.
Sampai jumpa di part 2
Paviliun Kamboja
Prolog
Brakk
“Sorry...sorry gue gak sengaja. Gue murid baru dan―” Ken terbelalak melihat gadis yang sangat dia benci ada di depan matanya.
“Lo! belum puas lo ganggu hidup gue sampai lo ngikuti gue pindah sekolah hah!”
“Maaf, kamu ngomong apa ya?”
“Halah, udah deh gak usah sok polos lo. Awas ya kalau di sekolah ini lo ganggu gue lagi, gue gak akan tinggal diam.”
“Mas, maaf ya. Saya ini baru lihat mas sekali ini. Bagaimana bisa saya ganggu hidup mas. Sepertinya mas salah datang ke sekolah. Seharusnya mas datang ke rumah sakit. Maaf ya saya sibuk. Minggir!” Ara meninggalkan lelaki aneh yang baru saja dia lihat.
“Hai Ken, lo jadi pindah ke sini juga hahaha.” Sepupu Ken yang tomboy tiba-tiba merangkul Ken dari belakang.
“Parah gak sih tuh cewek. Geli gue, dia sampai ngikuti gue pindah sekolah di sini tahu gak?”
“Hah, serius? yang mana sih. Penasaran gue?”
“Itu.” Felicia sampai menjauhkan wajahnya ketika tangan Ken yang kekar secepat kilat menunjuk gadis cantik yang menuju ruang guru.
“Ara, ya gak mungkin lah Ken dia itu cewek yang gangguin lo di sekolah. Ara itu sejak awal udah sekolah di sini. Dia juga sahabat gue dari kelas 10. Sepertinya emang bener lo yang gila deh. Lagian masa cuma risih ama cewek aja lo sampai pindah sekolah.”
“Ara? Bukan Ana?”
“Iya Ara, cewek itu tadi kan? dia itu Ara.”
Ken mendadak seperti orang linglung. Bagaimana bisa wajah Ara sama persis dengan wajah Ana. Cewek yang bukan saja menggagunya di sekolah. Tetapi juga menghancurkan kehidupannya. Ken menatap Felicia sekali lagi untuk memastikan kebenaran. Felicia meyakinkan ucapannya dengan ekspresi wajah yang aneh. Ken terdiam, dia bukan lelaki pengecut yang pindah sekolah hanya karena cewek. Tetapi, memang gadis yang berwajah sama persis dengan yang dia lihat barusan lah yang membuat dia harus keluar dari sekolah.
Apa mereka kembar? Jika iya, maka ini adalah kesempatan aku untuk membalas dendam batin Ken.