Mimpi
"Radit, akhirnya kau datang," Renata menatap & tersenyum.
"Hai, sudah lama? Maaf agak terlambat. Ada apa kau memanggilku?" Sahut raxit sembari melambaikan tangannya.
Sambil tersenyum Renata pun berkata "Tak ada apa-apa, hanya saja aku ingin melihatmu lebih dekat".
Mereka pun saling berbincang, bercanda & tertawa di keramaian kedai kopi. Tatapan mata Renata yang berbinar penuh kebahagiàan membuat Radit tersenyum lega.
"Dit, aku ingin kita lanjutkan hubungan kita. Mmmmmm, maksud aku maukah kau menjadi kekasihku?" Dengan nada pelan & malu-malu Renata mengungkap isi hatinya.
Dengan tatapan terkejut, Radit tiba-tiba berubah. Dia diam terpaku, sambil menyeduh kopi yang ada di depannya.
"Bagaima Dit? Apa kau sudah tak menyukaiku?" tanya Renata.
Masih dengan muka kebingungan, Radit terus diam, dan pada akhirnya.
"Maafkan aku Ren, bukan karena aku tak menyukaimu, tapi aku hanya menyukaimu sebagai temab, aku tahu sejak kecil kita selalu bersama, aku sudah memganggapmu swpwrti adikku sendiri & kaupun tahu kalau aku sudah dengan yang lain, dan kami sebentar lagi alan menikah?"
"Radit, akuuuuu......." gubrakkkkkk...!!! Terbangun dan tersadar Renata jatuh dari tempat tidurnya.
"Ahhh sinyalll, mimpi apa aku tadi...gilaaa..."
Hanphone berdering "Ah iya halo, iya Dit ini aku baru mau siap-siap, tunggu aku di halte saja, ok? Bye"
Renata pun begegas, mandi & bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Dalam kejauhan, Renata menatap halte dengan perasaan yang canggung. Dia tahu bahwa tak hanya Radit yang disana tetapi juga istri Radit, yang tak lain adalah teman sekantornya, Sekar.
~end~











