Kamu pernah mengulurkan tangan, namun aku tak meraihnya. Seandainya aku berani untuk meraih, tetap saja genggaman tangan kita bukanlah sesuatu yang direstui semesta.
seen from Algeria
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
seen from Yemen

seen from Germany

seen from United States

seen from Vietnam
seen from United Arab Emirates
seen from China
Kamu pernah mengulurkan tangan, namun aku tak meraihnya. Seandainya aku berani untuk meraih, tetap saja genggaman tangan kita bukanlah sesuatu yang direstui semesta.
#Dandelion2
“Dia baik nak, ibu tahu meskipun kamu tidak pernah bilang. Dia menghormati orang yang lebih tua, dan bahkan dia selalu menghargai kamu. Dia juga rajin beribadah bukan ?. Bapakmu bukan membencinya nak. Tapi, bagaimana bisa seseorang yang tidak mengenal Al-Qur’an dan menyeru Adzan mendampingimu.?. Bapakmu benar, yang baik tidak selalu cocok untuk setiap orang dan yang rajin beribadah tidak semuanya sesuai.”. IBU
Cinta dan Agama
Kata siapa saling mencintai itu kebahagiaan?
Siapa yang bilang tidak ada yang lebih sakit dari mencintai sendirian?
Kata siapa saling merindukan itu keberuntungan?
Siapa yang bilang tidak ada yang lebih sakit dari ‘merindukan tapi tidak dirindukan’?
Tanya Tuhan,
biar dia bercerita,
tentang apa saja
Karena apapun yang Dia katakan, adalah benar.
Termasuk; Cinta dan Agama?
Tak akan kuberitahu bagaimana rasanya;
saling mencintai namun berbeda tempat ibadah,
saling merindukan namun berbeda cara menyembah Tuhan.
Jangan mau tahu, ya
Lebih sakit dari yang dibayangkan.
“Hari ini kita jadi main?”
“Jadi dong! Selesai gereja jam berapa?”
“Ini udah selesai. Sekarang aja, yuk?”
“Ok! Aku sebentar lagi otw, tapi mau shalat dulu ya.”
Cinta, tapi beda.
tau apa yang menyedihkan dari cinta tapi beda?
bukan, bukan agamanya
perihal itu sudah banyak yang mengalaminya menyembah tuhan yang sama, dengan cara yang berbeda. katanya
tapi bagi saya, perbedaan agama adalah "berbeda"
bayangkan, kamu mencintai seseorang yang tidak mengimani apa yang kamu imani yang tidak mempercayai apa yang kamu percayai yang merasa tidak hidup, atas kuasa sesuatu yang besar tapi kamu hidup karenanya
dan karna sebab itu, saya dan dia saling meninggalkan
memang lucu rasanya ia berjalan ke gereja setiap sabtu dan minggu, pelayanan dan ibadah saya selalu berhenti, beribadah saat shalat 5 waktu
saat makan, saya menegadahkan tangan, berdoa dalam senyap ia menagkupkan tangan, berdialog dengan tuhannya
lucu ketika ia berkalung salib merangkul saya yang memakai turban
lucu
saya meyakini dan masih bahwa tuhan tidak mempertemukan manusia karena ketidak sengajaan ada alasan dibalik setiap momen kehidupan dibalik setiap pertemuan
agak menyayangkan, kami harus menjadi saya dan dia
tapi jika saya dan dia "egois" bukan hanya kami yang menderita karena perbedaan yang begitu kentara
yang lebih menyedihkan dari cinta tapi beda, adalah perbedaan budaya
semisal saya menado, dan dia cina
satu indonesia
satu agama
satu gereja
otomatis mengimani tuhan yang sama sepanjang hidup kami berdua
tapi kami tetap di anggap beda
meski wajah saya lebih oriental dari dia meski saya menyayangi dia dan dia menyayangi saya
kami berbeda
saya menado, dan dia cina
saya pribumi, dan dia seseorang asing yang hidup di bumi pertiwi
jika kami bersama, budaya pembatasnya
jika kami menyelesaikan semuanya, kurang menyedihkan apa?
yang lebih perih, ia ingin berhenti ketika saya baru akan mulai berjuang
seakan akan memang tidak ada yang bisa di perjuangkan lagi
iya
dia bertanggung jawab, atas budanya, atas keluarganya, atas warisan leluhurnya
tapi kami cinta
tidakkah bangsa indonesia dapat merdeka karena --konon-- bersatu dengan cinta yang membersamainya?
tidakkah ganjil bila saya dan dia harus merasa berbeda, di bumi yang menuntut kami agar di perlakukan sama?
saya pribumi, dan dia seseorang asing yang hidup di bumi pertiwi
kami saling cinta tapi ras kami berbeda
tidak adakah toleransi atas umat berbudaya?
-anananoica, sebab kata cinta selalu berbuntut beda 0:57 201817
Tahun kemarin masih ada yang chat “Selamat idul fitri dan mohon maap lahir batin”, tapi untuk sekarang ngga sama sekali karena yang nemenin puasa tahun ini adalah dia yang cara berdoanya berbeda, dia yang lebih sering berlutut ketika aku lebih sering bersujud, dia yang bersyukur untuk natal yang selalu hujan sedang aku lebih senang idul fitri yang cerah, dia yang selalu disisi namun tidak untuk dimiliki apalagi dibersamai, dia yang dekat namun tersekat, dia yang mampu melangkah bersama namun tak ada masa depan disana.
Antara rosario dan arah kiblat, kamu berlutut sedangkan aku bersujud.
:)) lemme kray
otte? -- 👩🏻💻 Kira-kira bagaimana kabarmu ya.. apa meminum anggur merah masih menjai rutinitasmu? apa setiap Jumat malam masih mengunjungi Kemang untuk melepas penatmu? Aku yakin kamu baik-baik saja, karna kamu selalu baik tanpa dan dengan aku.. Kenapa aku masih terus memikirkanmu? Aku lupa, masih ada sepasang sandal dan dua pcs tshirt mu di aku.. Aku masih ingat jelas ke khawatiranmu aku memakai wedges untuk pulang karena kamu tahu itu bukan keahlianku.. Aku masih ingat jelas kamu menginginkan aku berganti pakaian untuk sekedar makan diluar karna aku tidak nyaman dengan pakaian kerjaku yang terlalu formal.. Kamu tahu betul apa yang diinginkan wanita, memang.. itulah keahlian player.. Kamu tahu betul aku sangat berharap padamu sehingga kamu dengan mudahnya membuangku.. Aku menjadi pengemis yang merengek rindu kepadamu.. Setelah hubungan kita berakhir pun kamu masih mengkhawatirkan keadaan setengah sadarku.. Kamu masih mengirimkan chat untuk menanyai kabarku.. Kamu masih mengirimkan voice note dengan suara merdu yang ku dengar pilu.. Aku masih ingat betapa ter sia-sia kannya aku di depanmu.. Aku baru sadar betapa bodohnya aku mencintai lelaki yang memiliki banyak cinta.. Kadang aku bersumpah serapah untuk tidak berurusan lagi denganmu.. Kadang aku menangis pilu menahan rindu untuk menemuimu.. Kadang aku tersenyum untuk melihat ulang percakapan singkat kita.. Lalu aku sadar, bahwa dari awal kamu tidak benar mencintaiku.. ini hanya cinta sepihak yang aku rasakan.. aku hanya mainan yang membuatmu bahagia seketika.. bekas ku pun tidak berarti untukmu.. Terima kasih atas waktu singkatmu, lelaki dewasa.. dari anak kecil yang selalu menulis kerinduan untukmu,