Kalau ada hal yang kamu bisa, mereka tidak
Maka akan ada hal yang mereka bisa, dan kamu tidak
It's okay. You're enough
Kamu memang tidak tercipta untuk segala sesuatu
Hujan lagi
Xuebing Du

JVL
noise dept.
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
Cosimo Galluzzi

@theartofmadeline
NASA

#extradirty

shark vs the universe
tumblr dot com
Mike Driver

izzy's playlists!
occasionally subtle
Show & Tell
d e v o n
sheepfilms

titsay
AnasAbdin
Monterey Bay Aquarium

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Türkiye
seen from Canada
seen from India

seen from Malaysia
seen from Canada

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Syria
seen from United States

seen from United States
seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia
seen from Russia
seen from Singapore
seen from Argentina
@akarpenghujan
Kalau ada hal yang kamu bisa, mereka tidak
Maka akan ada hal yang mereka bisa, dan kamu tidak
It's okay. You're enough
Kamu memang tidak tercipta untuk segala sesuatu
Hujan lagi
Sepertinya akan lama.
tapi tak apa
Ada yang harus tersakiti lagi agar sembuh sepenuhnya
Ada yang harus berperan jahat agar ada yang tak perlu lagi menderita
Kamu sudah benar
Begini sudah benar
Aku yang salah
Maka seketika aku merasa begitu sedih, yang bisa kulakukan adalah dengan merapalkan harap kepadaMu. Sembari tangisku yag tak bisa kutahan meski aku ingin sekali menahannya. Menangis dan menangis saja. Merapal harap dan doa berkali-kali. Lalu, melarikan diriku dalam menulis.
Entah sejak kapan kata-kata memiliki perasaan. Sebab yang kutau, kutemukan keajaiban doa-doaku terwujud dalam setiap tulisan-tulisanku. Meski pada akhirnya ada amarah yang tertuang, ada kesedihan yang tak akan bisa dituliskan.
Tanpa berniat jahat saja sepertinya tetap—tetap telihat jahat, tetap terlihat seperti tidak memikirkan perasaan orang lain.
Pernah menjadi kecil, pernah menjadi besar. Pernah berkata dunia itu sia sia tapi dikejar juga.
Balada menjadi manusia
Hari ke tiga, aku mengalah. Entah pada sakit kepala yang amat sangat, atau pada lambung yang mulai koyak.
Kembali makan lagi
Kamu baik, amat.
Aku sayang kamu, sangat.
Tapi kalau dengan ku kamu tak mampu lagi percaya.
Kalau sesalku kamu anggap sandiwara, upaya ku kamu anggap percuma.
Aku melepaskan kamu untuk mencari bahagia lain.
Mungkin bahagiamu memang bukan aku.
Aku mungkin hanya segelintir karma mu dari masa lalu.
Nona yang kembali hujan
Pulang ke tempat yang kamu suka.
Tentu, tanpa perlu aku di dalam nya.
Nona yang kembali hujan
Tidak perlu pulang ke Bandung kalau bagimu Bandung hanya membawa mendung
Pulang ke tempat yang kamu suka.
Pulang kemana kamu rasa bahagia, jangan di Bandung. Disini ada aku, si penyebab mendung.
Ia hanya ingin aku menderita sepertinya, bukan belajar dari nya.
Nona yang kembali hujan
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
Sudah Oktober, kekhawatiran perempuan itu tumbuh semakin subur dikalangan perempuan. Seperti melihat bagaimana perempuan itu saling membandingkan satu sama lain, dalam berkeluarga, dalam kehamilan, dalam proses kelahiran, dalam mengasuh anak, dsb.
Saat sudah menikah, pahamilah segala sesuatunya dengan ilmu. Jangan mudah khawatir dengan “kata orang”. Perempuan harus bisa belajar abai terhadap kata dari orang lain, sebab setiap perempuan, setiap proses menuju pernikahan, setiap memulai berkeluarga, setiap kehamilan, setiap kelahiran, setiap mendidik anak, masing-masing diberikan anugerahnya. Di berikan tantangannya sendiri-sendiri :)
Belum Jua Usai
Sesekali waktu rasanya menyiksa, ada di batas yang aku sendiri bangun untuk kita. Sekali waktu rasanya menyenangkan, masih tetap bisa berada di dekat, saat yang lain yang juga serupa tak lagi bisa untuk begitu.
Sesekali waktu rasanya rindu, mendengar hela napasmu atau sekadar hening dari ujung telepon, meski masing-masing sibuk sendiri. Sekali waktu rasanya cemas, tak bisa mencari dan bertanya, karena mengerti sudah tak seharusnya seperti itu.
Sudah lama sebenarnya ingin mengaku, tentang rasa-rasa yang sekiranya hadir di antara. Namun aku masih juga terlalu ragu, bila nanti kiranya kamu tak terima dan tak bisa untuk tetap biasa.
Mungkin aku lupa, kamu terlalu pandai untuk melangkah tanpa canggung. Mungkin aku lupa, kamu terlalu hebat untuk tak menerima. Mungkin aku lupa, bahwa aku bukan yang pertama.
Kamu tahu? Aku masih terlalu takut, tapi sejujurnya ingin untuk mengaku. Setidaknya hanya untuk melegakan, setidaknya juga ingin tahu seperti apa kamu. Biarlah berlalu jika memang aku masih takut. Atau begini saja, bagaimana jika sesekali waktu kamu yang bertanya langsung?
Pada ruang di antara percakapan, pada canda di tengah bahasan, pada jarak yang sedang berdekatan. Sebab aku pastikan, saat itu aku akan terang-terangan mengaku. Namun mungkin akan sedikit malu-malu dan menyangkal. Tapi kamu kan tahu, aku tak pernah bisa berbohong padamu.
Sekarang aku percaya, ternyata benar katamu. Aku begitu pandai ya untuk menyembunyikan. Tapi aku tahu, bahwa kamu sudah tahu aku berusaha menyembunyikan. Bukan karena apa, hanya saja aku tak ingin egois untuk memaksakan bahkan memiliki.
Sudahlah, rasa-rasaku memang nampaknya belum jua usai. Tapi tak apa, kamu tahu kan aku begitu pandai untuk menyimpannya dan menjadikannya pelajaran?
Hujan Mimpi Oktober 2017
RTM : Anak dan Zaman
Setelah berkeluarga, saya dan istri seringkali berdiskusi tentang kids jaman now dan segala rupa tantangannya. Sampai-sampai, tanpa sadar saya sendiri membandingkan bagaimana dulu masa kecil saya dengan anak-anak kecil zaman sekarang. Dan kami pun cemas, bagaimana kelak di zaman anak-anak kami ketika sudah lahir ke dunia ini.
Rasanya, perbandingkan itu tidak pernah selesai. Kami merasa, zaman kecil kami jauh lebih aman di bandingkan zaman sekarang, dalam banyak hal. Saat itu, kami juga lupa kalau setiap generasi pasti akan menimbulkan tantangannya sendiri berdasarkan zamannya. Dan sebagi orang tua/calon orang tua, sudah seharusnya kita bersiap untuk itu. Membekali diri dengan pengetahuan, dengan keterampilan, dengan keimanan, ketika kelak mendidik anak agar mereka bisa tumbuh menjadi baik, mau seperti apapun zamannya.
Tugas kita, sebagai generasi yang akan melahirkan generasi berikutnya, tidaklah mudah. Dalam membangun dan membina rumah tangga, semuanya berawal dari sini.
Pertama, dari saat kita memilih pasangan hidup. Proses ini bisa dikatakan gampang-gampang susah. Dan setiap orang yang ingin menikah akan melalui fase-fase kritis tsb, fase dimana merasakan betapa sulitnya membuat pilihan. Di usia berapapun, fase tersebut datang. Sebab, salah satu hak anak adalah dipilihkan orang tua yang baik, dan hak anak kita nanti tentu saja ia berhak memiliki ayah/ibu yang baik. Dan itu adalah pilihan kita, jodoh adalah takdir yang diikhtiarkan.
Kedua, memilih lingkungan tinggal yang baik. Selepas menikah, biasanya akan memutuskan untuk tinggal. Memilih tempat tinggal pun gampang-gampang susahnya, mirip seperti mencari jodoh. Kita bisa memilih untuk tinggal di rumah yang tertutup, berpagar tinggi, di lingkungan yang antar tetangganya tidak saling kenal. Bisa juga di daerah perkampungan, di tempat-tempat urban, di apartemen, dsb. Semuanya adalah pilihan. Dan bisanya, tempat tinggal yang kita pilih menyesauikan dengan tempat dimana kita bekerja. Dan, memilih lingkungan yang baik, itu memang sulit. Adalah sebuah anugerah yang luar biasa bila kita memiliki tetangga yang baik, lingkungan yang saling menjaga dan terjaga. Jadi, memilih tempat tinggal memang tidak hanya urusan bentuk fisik rumah, tapi juga bentuk sosialnya.
Ketiga, memilihkan pendidikan yang baik. Tentu saja pendidikan pertama adalah dari orang tua, wajib bagi orang tua memiliki bekal ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Terutama pendidikan karakter. Sebagai orang islam, saya dan istri sepakat bahwa urusan tauhid harus diajarkan dan selesai sejak di rumah. Sebelum nanti anak-anak pergi merantau, pergi jauh menuju cita-cita atau impiannya. Urusan tauhid menjadi tanggungjawab kami. Karena itulah bekal yang bisa menjaga anak-anak, dimanapun ia berada, di lingkungan manapun nanti ia tumbuh di luar rumah.
Ada banyak hal lain. Dan sudah waktunya untuk bangun dan berhenti untuk khawatir. Kita tidak akan bersikap adil bila menginginkan anak-anak nanti tumbuh seperti bagaimana dulu ketika kita masih kecil. Zaman sudah berganti, sudah berkembang jauh, dan pikiran kita harus maju. Kita bersiap dan harus siap untuk menghadapi tantangan zaman untuk anak-anak kita nanti bertumbuh. Menjadi orang tua, juga gampang-gampang susah. Semoga, kita diberikan anugerah anak-anak yang baik dan berbakti dan kita dimampukan dalam menjalankan amanah sebagai orang tua yang baik.
Yogyakarta, 10 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
Kadang kita lupa, satu kata bisa melukai. Kadang kita lupa, satu kata dapat mengecewakan. Kadang kita lupa, satu kata yang terlontar itu bisa menyebabkan seseorang merasa sia-sia telah berlaku baik selama ini. Bukan hanya kadang, tapi seringkali kita demikian melupakan hal-hal sekrusial itu. Hingga kemudian kita sadar, setelah mereka yang biasanya berada di dekat menjadi berubah tak peduli.
Hujan Mimpi (via hujanmimpi)
Sastra kadang memberi hal yang tak terduga. Ia bisa merubah hati yang patah, menjadi tulisan yang indah nan merekah. Hati-hati dengan penulis. Hatinya rapuh. Setelah kamu patahkan, perbuatanmu akan hidup selamanya dalam sebuah ruang tulisan.
Arief Aumar Purwanto (via sajaksesak)
Mari, hiraukan saja celoteh mereka yang tak lebih indah dari lagu yang kau sukai. Lekas, lupakan saja ucapan mereka yang kerap melukai. Segera, abaikan saja mereka yang selalu mencari salah di tengah benar yang tak ingin terlihat. Sudahi, nyatanya pagi terlalu indah jika harus mengingat kemarin yang katanya menyesakkan.
Hujan Mimpi
(via hujanmimpi)
Tolong, sesuai tahapan saja. Jangan mengada ada.
saya hanya seorang anak kecil atau mungkin bayi tidak lebih
gigiku bahkan belum tumbuh apalagi berjalan, merangkak ayolah saya bahkan tidak bisa membalik badan hingga tengkurap
malas, orang orang mengataiku bokong besar, lagi bagiku, hanya belum waktunya
saya percaya, ada tenggat waktu untuk setiap perubahan
tapi bayi yang belum bisa apa apa ini, tidak langsung harus bisa melompat, kan? apalagi mengendarai sepeda melucu namanya
tapi dunia yang kita tinggali ini, ya begitu di satu sisi, ia ingin manusia manusia (tak terbatas usia) untuk keluar dari zona nyamannya explore mencari hal hal baru, mencobanya
pun tiap manusia harus keluar dari alam rahim untuk menyentuh dunia, fitrah
di sisi lain kita tidak boleh mendahului langkah ada tahapan tahapan dalam hidup yang harus dilalui dengan seksama, tidak bisa sembarang loncat begitu saja
mungkin, yang saya anggap keluar zona nyaman, ternyata mendahului tahapan hidup saya
iya, yang sangaat tau tentang diri kamu, hanya kamu sendiri
tapi ada kalanya, orang orang lebih bisa melihat kamu secara menyeluruh
seperti kamu yang tak bisa melihat bentuk telinga tanpa bantuan kaca
mungkin, itu sebab tulang saya remuk, panas dingin karna prosesnya terlalu saya percepat
saya hanya seorang gadis kecil atau bahkan bayi yang coba untuk terbang dari atas tempat tidurnya karna kepercayaan akan ari arinya yang di larung
lalu terluka dan kembali ke pelukan ayah bundanya. untuk di obati
lalu kemudian memulai prosesnya sendiri berani tengkurap, merangkak, berjalan,tumbuh gigi, berlari, bersepeda.... dan suatu saat mungkin terbang entah raga ataupun jiwa, kembali pada maha pencipta
-anananoica, sebab saya ngebet abroad. tapi ini bukan jalannya 0:34 200817