Sebagai first generation di keluarga besar yang kuliah sampai S2 dan S3, juga ke luar negeri, saya menilai langkah saya tidak terlalu optimal karena minimnya referensi about do's and don'ts.
Saya ingat akhir 2016-awal 2017, saya mengirim email ke 30an dosen di luar negeri untuk memperkenalkan diri dan menanyakan apakah beliau sedang rekrut mahasiswa PhD. Waktu itu ijazah S2 saya dari The University of Manchester sudah keluar. Saya juga sudah siapkan CV.
Tapi, dari sebanyak itu hanya ±5 saja yang balas. Itupun, cuma satu yang beneran punya beasiswa/secara aktif merekrut mahasiswa, dari kampus Turki.
Saya juga pernah pakai dua pendekatan lain, yaitu daftar ke PhD vacancy yang diiklankan di website kampus dan nanya-nanya ke alumni kampus/grup riset inceran (kebetulan ada orang Indonesianya).
Pendekatan yang pertama ini mirip melamar kerja dan prosesnya cukup lama, waktu itu saya daftar untuk lowongan di kampus Swedia dan Jerman awal tahun 2017 untuk intake Sep/Okt di tahun yang sama. Sampai saya pegang offer dari dua kampus lain di bulan April, email saya lolos/nggaknya di tahap administrasi saja belum ada.
Pendekatan yang kedua itu butuh manuver tanya-tanya ke individu. Saya awalnya tanya masukan ke dosbing skripsi. Terus nemu nama orang Indonesia di salah satu paper yang saya baca. Saya juga tahu almamater S-1 saya (NTU) adalah pionir bidang halide perovskite photovoltaics (topik tesis S2 saya di Inggris). Dari korespondensi dengan dosbing dan peneliti orang Indonesia tersebut, info mengerucut untuk menghubungi dosen X (muridnya Michael Graetzel dan Anders Hagfeldt). Singkat cerita slot binaan mahasiswa PhD dosen X penuh (harus nunggu ada yang lulus baru bisa rekrut yang baru), lalu saya diminta hubungi dosen Y yang pernah postdoc di labnya Alan Heeger. Saya diterima jadi binaan dosen Y setelah wawancara dan melengkapi administrasi.
Setelah juga bekerja 2 tahun di kampus di Inggris (Newcastle University) dan membimbing indirectly dua mahasiswa lokal, belakangan saya bisa bilang bahwa:
- Umumnya beasiswa PhD itu diiklankan di portal kampus/website tertentu
- Hanya di beberapa negara saja dosen diberikan slot beasiswa untuk rekrut PhD dengan beasiswa dari kementerian pendidikannya (bukan dari funded project)
- Calon mahasiswa dengan beasiswa negara asal likely dapat warm welcome dari dosen di luar negeri layaknya an extra free team member, apalagi jika ada on going project/current interest yang overlapped dengan topik riset yang diusulkan calon mahasiswa
- Rekrutmen mahasiswa PhD berbasis project punya siklus waktunya sendiri yang bisa 6-9 bulan sehingga jangan resign dulu sambil lamar-lamar PhD, nah biasanya akhir tahun/awal tahun lagi banyak tuh lowongan diiklankan
- Sebar email saja (cold email) agak kurang efektif jika ingin nanyain ada lowongan/beasiswa nggak, tapi... respon dosennya akan berbeda kalau kita bilang kita mau lamar LPDP... karena ibaratnya bilang "I need you as PhD supervisor but I will try securing my own stipend/scholarship"
- Lowongan yang diiklankan itu mungkin sudah punya kandidat internal, jadi jangan berkecil hati kalau tidak diterima/tidak dipanggil wawancara karena proses rekrutmennya bisa jadi formalitas
- Dosen yang ngiklanin lowongan PhD bakal main aman (cari risiko paling kecil), jadi urutan prioritasnya: kandidat internal (alumni S2 kampus tersebut) > rekomendasi koleganya > alumni kampus yang dia familiar/ternama > mahasiswa dari dosen yang aktif publish di bidangnya (walaupun kampusnya kurang terkenal) > mahasiswa yang punya publikasi internasional (punya pengalaman riset dan nulis jurnal) > terakhir, mahasiswa dari kampus yang dia nggak pernah dengar dan tidak punya publikasi
- Ranking kampus seharusnya tidak jadi target utama karena ada aspek yang lebih penting membantu kita tenang dalam menyelesaikan PhD, misalnya aspek keuangan (stipend vs living cost), kultur riset (pilihan negara), karakter supervisor (senioritas dosen), resources (fasilitas dan ukuran grup riset), dan support system (bisa bawa keluarga ga, keluarga bisa nyaman ga, ada komunitas orang Indonesianya ga).
Dari catatan di atas saya melihat bahwa ada dua path yang bisa diusahakan yang mana butuh trik/langkah strategis yang berbeda:
1) beasiswa dari negara tujuan baik itu dari dana proyek/kementerian;
2) beasiswa yang dicari terpisah tapi dapat persetujuan dibimbing supervisor/LoA akan meningkatkan chance seperti LPDP, DAAD, dan beasiswa-beasiswa negara seperti di Swiss dan NZ.
Keduanya punya plus minusnya terkait pemilihan topik/supervisor/kampus/negara dan probablitas mendapatkannya tergantung starting point kita saat mendaftar.
Nah, sejak akhir 2021 saya sudah mulai membantu kawan-kawan yang tertarik lamar PhD ke luar negeri, baik yang bingung mulai darimana atau buat yang sudah melangkah banyak namun belum berbuah hasil. Awalnya, saya memberikan bantuan berupa konsultasi secara gratis sebagai bentuk syukur saya sudah diberi rezeki sekolah sejauh itu (S2 di UK, S3 di SG) sekaligus mengumpulkan jam terbang sebagai Pre-PhD Consultant.
Sekarang, saya sudah mengantongi 30+ jam/sesi konsultasi, membangun bahan/framework diskusi, dan menyiapkan banyak contoh untuk dibagi dalam sesi konsultasi "How To Make Strategic Moves in Applying for PhD" dimana saya menerima request jasa konsultasi dengan "thank you" fee, pay as you wish.
Success story sejauh ini "mengantarkan" teman-teman bisa kuliah PhD di Belgia, Australia, Jepang, dan Italia. Semoga akan ada kabar-kabar baik lainnya di tahun 2026.
Please reach out if you need some help in preparing your next move towards the PhD journey you dream about.