Logical Fallacy dalam Berpikir
Kemarin sore, tepatnya di warung pasta yang yummy homey dan mahaly bangety, adalah diskusi hangat yang bikin ketagihan. Evi (psikologi unisba ‘12) dengan ayat-ayat yang sering dibawakannya, Novia (pend.luar biasa upi ‘11) dengan bacaan dan pengalaman yang diceritakannya, mampu membawa diskusi kami mengalir jernih dan bermanfaat bagai aliran sungai di taman surga. *naon.
Logical Fallacy atau kesalahan logika merupakan bentuk dari kesalahan konstruksi berpikir yang cukup berbahaya. Di satu sisi, orang yang demikian membenarkan sesuatu namun di sisi lain, untuk hal yang sama, ia menyalahkannya. Salahsatu bentuk dari logical fallacy yang umum dijumpai ialah dikotomi pemikiran, yakni membanding-bandingkan dua hal yang tidak sesuai sehingga menghasilkan pemikiran baru yang aneh dan tidak logis (logical fallacy). Contoh sederhananya ialah pemikiran mengenai ‘Lebih baik tidak berjilbab namun berperilaku baik, daripada berjilbab namun berperilaku kurang baik’. Jika ditelaah secara variabel matematis pun bukankah semestinya yang dibandingkan ialah antara berjilbab dengan tak berjilbab, serta berperilaku baik dengan berperilaku kurang baik? Sehingga secara logis seharusnya lebih baik berjilbab dan berperilaku baik daripada tidak berjilbab dan tidak berperilaku baik.
Pemikiran dikotomi seperti ini juga sering terjadi dalam kasus yang lebih filosofis, misalkan lebih baik menjadi religius (ibadah) atau spiritualis (akhlak)? Padahal kedua hal ini tak bisa dipisahkan, yang mana spiritual banyak berbicara soal pencarian Tuhan ke dalam diri dan lingkungan yang diterjemahkan dalam akhlak, dan religius yang berbicara soal peribadatan-peribadatan seperti puasa, sholat, zakat dan sebagainya. Bukankah keduanya harus berjalan beriringan?
Jika kita berkaca pada tokoh-tokoh muslim zaman dulu, semisal Ibnu Sina, dan tokoh-tokoh lain yang memahami beberapa bidang keilmuwan sekaligus seperti kimia, astronomi, matematika, kedokteran dan sebagainya, sesungguhnya adalah bentuk dari penggabungan spiritualitas dan religi. Hal ini dikarenakan mereka menggunakan beberapa cabang ilmu pengetahuan sebagai ajang untuk mencari Tuhan, bukan sekadar agar menemukan rumus atau penemuan yang melegenda. Selain itu, mereka juga tetap melaksanakan kegiatan peribadatan sebagaimana yang diperintahkan kepada umat muslim. Namun sekarang, tak sedikit dari pemuda yang hanya fokus di satu bidang keilmuwan dan menganggapnya hanya sebagai ilmu duniawi yang bahkan tak ada kaitannya samasekali dengan ketuhanan. Bukankah ilmu pengetahuan itu datangnya dari Allah? Bukankah ini bentuk dari logical fallacy?
Lebih dalam lagi mengenai ketuhanan yang Maha Esa, rupanya hal ini harus dibagi menjadi dua. Yakni yang dianggap Tuhan dan yang dituhankan. Sebelum itu, perlu dipahami bahwa seseorang menganggap Tuhan adalah sesuatu yang mendominasi hidup kita, sesuatu yang kita tak ingin lepas darinya, sesuatu yang sangat kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah Allah sudah benar-benar mendominasi dan menjadi dzat yang kita tak ingin lepas dari-Nya? Coba lihat bagaimana kita beribadah, berakhlak, bergadget, berharta, bergaul dan sebagainya. Jangan-jangan kita memang menganggap Allah yang Maha Esa adalah Tuhan namun sebenarnya kita menuhankan yang lain. Masya Allah!
Ghandi pernah berkata bahwa pemikiran akan mempengaruhi ucapan dan perilaku, yang semua itu akan membentuk kebiasaan dan menjadi karakter dalam diri kita. Pemikiran adalah awal dari segalanya. Maka dari itu, konstruksi berpikir yang kurang baik tentu akan berdampak pada ucapan, perilaku, kebiasaan hingga karakter yang kurang baik. Logical Fallacy, sebagai bentuk dari kesalahan konstruksi berpikir memang virus berbahaya yang seringkali tak kita sadari. Masih berbicara soal ketuhanan, tentu tak lepas dari aktivitas berdakwah yang seharusnya dilakukan oleh umat muslim sedunia. Dan tentu akan sangat berbahaya jika kita berdakwah ketika pemikiran kita masih terjangkit logical fallacy. Hal ini tentu berdampak bagaimana kita berdakwah dan respon oranglain yang menjadi objek dakwah kita. Bukannya menjadi rahmat bagi semesta alam, namun membuat kita semakin terpecah-belah.
Beberapa contoh dari hal ini sudah banyak terjadi, terutama disuburkan dengan viralnya media sosial belakangan ini seperti Line, WA, Facebook dan sebagainya. Di sebuah media sosial yang mengecap dirinya sebagai media dakwah Islam, malah mengingatkan suatu kesalahan yang dilakukan oleh sesamanya dengan bahasa satir. Misalkan saja, kalimat seperti ‘Masih nggak mau pakai jilbab? Nggak apa-apa, neraka masih muat kok!’, atau kalimat senada seperti, ‘Sholat jarang, sedekah kalo inget, ngaji apalagi, trus maunya masuk surga. emang situ punya kenalan orang dalem?’. Bukankah kalimat satir seperti ini sangat berpotensi untuk membuat seseorang semakin anti terhadap ajakan itu sendiri? Bukankah zaman dulu, Rasulullah sibuk menyempurnakan akhlak, mengajak umat manusia masuk Islam serta bersama masuk surga-Nya namun kenapa kita sekarang sibuk mengkafirkan dan me-neraka-kan saudara kita sendiri yang sesama muslim dan non-muslim? Bukankah Allah adalah Tuhan bagi alam semesta, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Tuhan bagi umat kristen, yahudi, budha, hindu, kong hu chu dan sebagainya? Mengapa kita menjadi demikian tidak logisnya dalam berdakwah?
Oleh karena itu agar terhindar dari logical fallacy yang bisa menjerumuskan diri kita dan sekitar kita pada arah yang tidak baik, maka harus dimulai dari memperbaiki konstruksi berpikir. Beragam cara bisa ditempuh dalam upaya perbaikan ini yakni memperbanyak diskusi, membaca beragam buku dengan topik yang berbeda, berpikir terbuka, bertindak dengan penuh pertimbangan dan tidak berhenti belajar. Sehingga pemikiran kita akan terasah, konstruksinya terbangun dengan baik, jendela ilmu kita pun semakin terbuka untuk menyerap berbagai hal sehingga menjadikan kita mampu berpikir komprehensif, kritis dan logis.






