why the hell is there a cs called war paint demons... that sounds like something thatd get culturally insensitive very quickly
not capable of giving insight to the name but it was brought up previously for being just a shitty species in general

seen from France

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from T1
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia

seen from France
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Australia
seen from Türkiye

seen from Canada
seen from Kenya
why the hell is there a cs called war paint demons... that sounds like something thatd get culturally insensitive very quickly
not capable of giving insight to the name but it was brought up previously for being just a shitty species in general
Pannacota Three Ways 💸Rp22,500++ . . Sebenernya belom pernah nyobain. Jadi ini jepretan pesenannya temen 😂 Wk. . . #warungpasta #pasta #pastalovers #ilovepasta #dessert #pannacota #foodies #photography #foodie #foodlovers #foodphotography #rainbow #colorful #foodporn #foodstagram #instafood #strawberry #mint #pudding #warpas #foodblogger #blogger #photo #blog #food #ilovefood #lunch #dinner #breakfast #hungry (at Warung Pasta)
Udah lama ga #irrajajan kali ini keluar dengan menu Indopasta-nya Warpas level 5 dengan topping sausage dan jamur enoki. Enak! Pedes-pedes mantap. Rasanya pas dalam menemani makan siang yang panas benderang ini. Gambar dimenunya sih dimirip-miripin sama logo Indomie, tapi rasanya beda jauh. Gurih khasnya 'mie instan' jadi hal pertama yang terasa di lidah, tapi kalau dibandingin sama Indomie? Gurihnya bedaa... Mungkin MSG-nya kurang kali ya? Soalnya taglinenya aja "Lebih sehat" 😅 Mie-nya diganti spagheti ukuran mini. Tipis-tipis dan pendek. Mirip mie pada umumnya, tapi spagheti! Gimana tuh? 😆 Harganya murceu banget, seporsi ukuran single cuma 15rb++, tambah topping tambah 5-7rb/topping. P.S: selain ukuran single, bagi kalian yang suka baperan, eh laperan. Bisa pesen menu dengan porsi double. 😱 harganya cuma 19rb++. Selain kuah, bisa dibikin jadi pasta goreng atau pizza pasta. Hmm... 😋🍜 #warpas #warungpasta #pasta #indopasta #kulinerbandung (at Warung Pasta)
Ketika pasta dan mie instan-non-mecin jadi satu... mantap souls 👍👍👍 . . INDOPASTA by WARUNG PASTA Single: Rp15rb++ Double: Rp19rb++ . . Choose your own: 🍝🍕 Style -- Pasta Goreng, Pasta Kuah, Pizza 💥 Spicy Level -- 1 to 5 Topping -- 🍳, 🍗,🍖, and many more . (P.S.: only available at WP Bandung, WP Malang, WP Bulungan) #indopasta #warungpasta #warpas #delicious #newmenu #foodies #food #foodporn #foody (at Warung Pasta Bulungan)
The way thay I need If you're pasta, I love you ! . . . . . #pasta #foodlover #foodie #fusilli #smokey #warpas #foodporn #vsco (at Warung Pasta Bulungan)
Sore-sore enaknya apa? Enaknya nyemilin pasta! This is new menu from @warungpasta Bandung! Namanya? Balinesse Pasta, cuma kalo ini dibaked. Bumbunya pake sambel matah, pedes seger gitu, dilengkapi oleh fish crips, gatau sih dikasihnya ikan apa. Rasanya enak lumayan, tapi aku ga suka sama bawangnya, masih belum matang jadi sehabis makan meninggalkan bau bawang yang cukup tajam. Hmm.. Coba kalo dibikin lebih matang lagi, pasti endes ulala banget. Sebenernya aku salah pesan, Baliness ini askur (asa kurang) kalo dibaked, jadi terlalu kering, harusnya ya apa adanya aja biar enak. Maybe next time nyobain Baliness yang apa adanya.. Kalo penasaran, bisa langsung cus dateng ke Warpas Dago. Nyaaaamm.. #irrajajan #warpas #pasta #baliness #balinessepasta (at Warung Pasta)
Logical Fallacy dalam Berpikir
Kemarin sore, tepatnya di warung pasta yang yummy homey dan mahaly bangety, adalah diskusi hangat yang bikin ketagihan. Evi (psikologi unisba ‘12) dengan ayat-ayat yang sering dibawakannya, Novia (pend.luar biasa upi ‘11) dengan bacaan dan pengalaman yang diceritakannya, mampu membawa diskusi kami mengalir jernih dan bermanfaat bagai aliran sungai di taman surga. *naon.
Logical Fallacy atau kesalahan logika merupakan bentuk dari kesalahan konstruksi berpikir yang cukup berbahaya. Di satu sisi, orang yang demikian membenarkan sesuatu namun di sisi lain, untuk hal yang sama, ia menyalahkannya. Salahsatu bentuk dari logical fallacy yang umum dijumpai ialah dikotomi pemikiran, yakni membanding-bandingkan dua hal yang tidak sesuai sehingga menghasilkan pemikiran baru yang aneh dan tidak logis (logical fallacy). Contoh sederhananya ialah pemikiran mengenai ‘Lebih baik tidak berjilbab namun berperilaku baik, daripada berjilbab namun berperilaku kurang baik’. Jika ditelaah secara variabel matematis pun bukankah semestinya yang dibandingkan ialah antara berjilbab dengan tak berjilbab, serta berperilaku baik dengan berperilaku kurang baik? Sehingga secara logis seharusnya lebih baik berjilbab dan berperilaku baik daripada tidak berjilbab dan tidak berperilaku baik.
Pemikiran dikotomi seperti ini juga sering terjadi dalam kasus yang lebih filosofis, misalkan lebih baik menjadi religius (ibadah) atau spiritualis (akhlak)? Padahal kedua hal ini tak bisa dipisahkan, yang mana spiritual banyak berbicara soal pencarian Tuhan ke dalam diri dan lingkungan yang diterjemahkan dalam akhlak, dan religius yang berbicara soal peribadatan-peribadatan seperti puasa, sholat, zakat dan sebagainya. Bukankah keduanya harus berjalan beriringan?
Jika kita berkaca pada tokoh-tokoh muslim zaman dulu, semisal Ibnu Sina, dan tokoh-tokoh lain yang memahami beberapa bidang keilmuwan sekaligus seperti kimia, astronomi, matematika, kedokteran dan sebagainya, sesungguhnya adalah bentuk dari penggabungan spiritualitas dan religi. Hal ini dikarenakan mereka menggunakan beberapa cabang ilmu pengetahuan sebagai ajang untuk mencari Tuhan, bukan sekadar agar menemukan rumus atau penemuan yang melegenda. Selain itu, mereka juga tetap melaksanakan kegiatan peribadatan sebagaimana yang diperintahkan kepada umat muslim. Namun sekarang, tak sedikit dari pemuda yang hanya fokus di satu bidang keilmuwan dan menganggapnya hanya sebagai ilmu duniawi yang bahkan tak ada kaitannya samasekali dengan ketuhanan. Bukankah ilmu pengetahuan itu datangnya dari Allah? Bukankah ini bentuk dari logical fallacy?
Lebih dalam lagi mengenai ketuhanan yang Maha Esa, rupanya hal ini harus dibagi menjadi dua. Yakni yang dianggap Tuhan dan yang dituhankan. Sebelum itu, perlu dipahami bahwa seseorang menganggap Tuhan adalah sesuatu yang mendominasi hidup kita, sesuatu yang kita tak ingin lepas darinya, sesuatu yang sangat kita butuhkan. Pertanyaannya, apakah Allah sudah benar-benar mendominasi dan menjadi dzat yang kita tak ingin lepas dari-Nya? Coba lihat bagaimana kita beribadah, berakhlak, bergadget, berharta, bergaul dan sebagainya. Jangan-jangan kita memang menganggap Allah yang Maha Esa adalah Tuhan namun sebenarnya kita menuhankan yang lain. Masya Allah!
Ghandi pernah berkata bahwa pemikiran akan mempengaruhi ucapan dan perilaku, yang semua itu akan membentuk kebiasaan dan menjadi karakter dalam diri kita. Pemikiran adalah awal dari segalanya. Maka dari itu, konstruksi berpikir yang kurang baik tentu akan berdampak pada ucapan, perilaku, kebiasaan hingga karakter yang kurang baik. Logical Fallacy, sebagai bentuk dari kesalahan konstruksi berpikir memang virus berbahaya yang seringkali tak kita sadari. Masih berbicara soal ketuhanan, tentu tak lepas dari aktivitas berdakwah yang seharusnya dilakukan oleh umat muslim sedunia. Dan tentu akan sangat berbahaya jika kita berdakwah ketika pemikiran kita masih terjangkit logical fallacy. Hal ini tentu berdampak bagaimana kita berdakwah dan respon oranglain yang menjadi objek dakwah kita. Bukannya menjadi rahmat bagi semesta alam, namun membuat kita semakin terpecah-belah.
Beberapa contoh dari hal ini sudah banyak terjadi, terutama disuburkan dengan viralnya media sosial belakangan ini seperti Line, WA, Facebook dan sebagainya. Di sebuah media sosial yang mengecap dirinya sebagai media dakwah Islam, malah mengingatkan suatu kesalahan yang dilakukan oleh sesamanya dengan bahasa satir. Misalkan saja, kalimat seperti ‘Masih nggak mau pakai jilbab? Nggak apa-apa, neraka masih muat kok!’, atau kalimat senada seperti, ‘Sholat jarang, sedekah kalo inget, ngaji apalagi, trus maunya masuk surga. emang situ punya kenalan orang dalem?’. Bukankah kalimat satir seperti ini sangat berpotensi untuk membuat seseorang semakin anti terhadap ajakan itu sendiri? Bukankah zaman dulu, Rasulullah sibuk menyempurnakan akhlak, mengajak umat manusia masuk Islam serta bersama masuk surga-Nya namun kenapa kita sekarang sibuk mengkafirkan dan me-neraka-kan saudara kita sendiri yang sesama muslim dan non-muslim? Bukankah Allah adalah Tuhan bagi alam semesta, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Tuhan bagi umat kristen, yahudi, budha, hindu, kong hu chu dan sebagainya? Mengapa kita menjadi demikian tidak logisnya dalam berdakwah?
Oleh karena itu agar terhindar dari logical fallacy yang bisa menjerumuskan diri kita dan sekitar kita pada arah yang tidak baik, maka harus dimulai dari memperbaiki konstruksi berpikir. Beragam cara bisa ditempuh dalam upaya perbaikan ini yakni memperbanyak diskusi, membaca beragam buku dengan topik yang berbeda, berpikir terbuka, bertindak dengan penuh pertimbangan dan tidak berhenti belajar. Sehingga pemikiran kita akan terasah, konstruksinya terbangun dengan baik, jendela ilmu kita pun semakin terbuka untuk menyerap berbagai hal sehingga menjadikan kita mampu berpikir komprehensif, kritis dan logis.
Terima kasih banyak hari ngumpulnya. Lama tak bersua dengan dua orang ini, karena akunya yg sok sibuk 😁 Alkhamdulillah kemarin 6 November 2015 kita bisa ngumpul lagi dengan proses produksi yang lumayan. 😃😍😘 #perpuspusat #warpas #bertiga #seneng