Rindu
Artinya dua sisi : menginginkan atau menerima
Artinya dua opsi : tak beranjak atau siap melangkah
Artinya dua penyelesaian : mundur dengan banyak kemungkinan di depan dan maju dengan kerelaan meleburkan masa lalu bersama diri
seen from China
seen from United States

seen from Peru

seen from United States

seen from Germany

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Finland
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Peru

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
Rindu
Artinya dua sisi : menginginkan atau menerima
Artinya dua opsi : tak beranjak atau siap melangkah
Artinya dua penyelesaian : mundur dengan banyak kemungkinan di depan dan maju dengan kerelaan meleburkan masa lalu bersama diri
Surat Kepada Bapak
Kutulis ini sebagai pelipur resah yang tak kunjung usai. Assalamualaikum, Bapak. Apa kabar? Semoga sehat selalu. Barangkali ini satu-satunya caraku untuk berbicara denganmu, meski tulisan ini tidak akan pernah sampai padamu. Sebelum semuanya buncah dengan sendirinya, sebelum aku semakin tergerus resah dan pedih yang kian hari kian merisaki seluruh kepalaku. Kau tahu, Pak? Setiap kali aku merindukanmu, setiap detik itu pula aku ingin membencimu. Jadi aku menyangkalnya tiap rindu itu datang. Terus-terusan, karena aku ingin tetap merindukanmu dengan baik-baik saja. Lucu, ya? Kemungkinan aku membencimu semakin besar, seiring membesarnya rinduku padamu. Aku sudah mencoba berdamai dengan keadaan. Menerima bahwa kali ini kau benar-benar sulit kugapai. Bahwa seluruh kita hanyalah tinggal kenangan yang kupunya, yang kian samar seiring bertambahnya waktu. Tapi itu semua susah. Kau tinggalkan tanda tanya besar yang tidak pernah terjawab. Kau melemahkan aku telak. Maka, mengingatmu sama seperti mengaktifkan rasa-rasa tak bersyukurku, juga seluruh kebencianku pada takdir dan manusia-manusia yang membuat kita berpisah. Ini tanggal 22. Satu bulan dari hari ini, aku akan menikah. Tidak peduli apakah kau ada atau tidak. Pun tidak mau tahu kau masih hidup atau mati. Aku lelah menunggumu, kau tahu? Perasaanku kacau sejak beberapa hari terakhir. Sialnya, aku masih berharap kau meneleponku. Sekadar mengatakan bahwa kau merestui pernikahanku. Itu saja harapanku saat ini. Sungguh. Dan itu yang membuatku kacau tak karuan. Aku tidak ingin pesta meriah, gaun bagus, tamu banyak. Inginku hanya satu; kau datang mendampingiku, menjadi waliku. Sesederhana itu. Mana berani kupinta hal-hal muluk pada Tuhan, jika sesederhana bertemu denganmu saja ku tak diijinkan. Bukankah lucu jika aku terus memaksa? Jujur, sampai detik ini aku tidak tahu apa alasanmu semakin menjauhiku. Kau membuatku bertanya-tanya. Melahirkan asumsi-asumsi tanpa alasan yang pada akhirnya membuatku semakin tidak bersyukur. Aku tidak suka ketika si Mas mengatakan ingin mengunjungi saudaramu untuk meminta restu. Bukan, bukan aku ingin menjadi ponakan tidak tahu diri atau apalah, terserah kau menyebutnya apa. Aku tidak suka bertemu mereka. Karena setiap melihat mereka, rasa sedih menyergapku. Aku kembali teringat apa-apa saja yang pernah mereka katakan. Juga bagaimana mereka menatapku dahulu. Iya, aku memang sepengecut itu. Tapi aku bodoh untuk kembali melukai diriku. Lebih baik mereka membicarakan keburukanku diam-diam, daripada harus mendengarnya langsung. Aku tidak akan sekuat itu.
Maaf jika aku selalu menyalahkanmu. Ternyata memaafkan dan menerima itu prosesnya sangat menyakitkan. Padahal aku sudah mendoktrin itu pada diriku, sebagai mantra kalau-kalau aku kembali tidak bersyukur. Tapi tetap saja susah.
Kupikir-pikir, aku menjadi semakin cengeng dan mudah tersinggung semata-mata karena aku tidak tahu cara mengatakan bahwa aku takut kita semakin menjauh dan tidak lagi saling mengenal. Maaf ya. Aku cuma rindu. Dan sedih. Kenapa bapak tidak pernah ada di setiap momen penting di hidupku? Itu saja.
Rayuan Pulau Kelapa #fotolama #cumarindu #seascape #bw #blackandwhite
Cuma RIndu 2
Ketika merindukanmu, aku hanya perlu mengenakan denim biru berlengan panjang. Atau jam tangan dengan model klasik pemberianmu. Namun 3 tahun telah berselang, denim biru sudah mulai memenendek ketika kukenakan. Jam tanganmu pun telah aku musiumkan. Aku telah menjatuhkannya beberapa kali hingga kacanya retak, kini ia mulai berkarat sudah sepantasnya aku simpan bukan?. Sedangkan 2 baju lain yang telah kau berikan, yang bermotif garis karena kekecilan aku titipkan kepada kakakku dan yang satunya ku berikan kepada ibuku. Bukan berarti aku tak menghargai pemberianmu, tapi dari pada hanya tergeletak toh lebih baik dikenakan bukan orang keluargaku yang aku harap bisa menjadi keluarga kita wkwkwk.
Ketika merindukanmu, aku lebih baik menulisnya dari pada hanya memendamnya. Karena memendam itu sakit jika terlalu lama dipendam.
Cuma Rindu 1
Masih ingatkah?
Kau datang bersama fajar, saat kaca-kaca itu kulipat
Membawa sebuah jinjingan, kau tergesa memberikannya
Lantas kau pergi
Masih ingatkah?
Ketika hujan berhamburan, kelamaan jadi genangan
Kita terduduk di bawah lampu neon, tapi kau sibuk melukis alismu
mengkilapkan kukumu dan mengikat rambutmu
Masih ingatkah? Kau dengan ulang tahunku?
Bukan ulang tahunku, tapi aku
Hai kamu, lelaki yang tidak boleh kusebutkan namamu di manapun, aku rindu. Rindu ini penuh, tanpa bisa kubendung lagi. Bisakah kita lunaskan rindu dengan temu? Aku ingin kamu dan bahumu. Sungguh.
Rindu ini, kamu. Cepat pulang dari Bandung ya..