Selama ini aku menganggap diriku sedang healing. Aku sadar sekarang, aku masih hancur. Diriku di dalam sangat rapuh, di mana air mata tiba-tiba bisa mengalir tanpa aku perlu terisak. Pikiranku mengatakan semua orang akan pergi karena aku tidak layak. Aku memandang diriku sangat rendah.
Mengherankannya aku masih bisa makan dengan lahap, humorku bisa digelitik dengan mudah sampai aku tertawa kencang sekali kapan pun. Lalu menit berikutnya aku menangis. Aku merasa ditinggalkan. Aku merasa tidak layak.
Aku tahu aku butuh mencari pertolongan secepatnya. Yang aku takutkan adalah: ketika aku membahas lukaku dengan orang itu aku akan jatuh lebih dalam ke lembah kesedihan. Akhirnya aku harus mengorek luka yang sudah mau kering. Padahal ini harus diobati. Its an unfinished busines.
Intinya, aku takut berobat karena pasti rasanya sakit sekali.
Pilihan ke dua: pergi ke tempat jauh dari rumahku di mana tidak ada orang yang kukenal dekat. Ini obat yang cukup manjur, tapi butuh waktu dan dana yang lumayan. Dan orang-orang yang kutinggalkan… jika aku pergi, aku egois. Bagaimana dengan perasaan mereka? Mereka pasti merasa tidak berhasil menjadi teman dan keluarga hingga aku pergi dari mereka.
Sumpah, satu bulan saja. Atau dua bulan. Aku harus pergi jauh. Biar aku bisa menangis dan berteriak sepuasnya. Aku mau lari. Mau lompat. Mau jumpalalitan. Mau jalan jauh tanpa ponsel. Mau tidur yang lama. Mau sunyi. Mau tidak perlu tersenyum. Mau tidak perlu memberi kabar. Mau tidak mencari kabar dari orang. Aku mau sendiri!















