Tunjuknya kearah pintu cafe. Beberapa pelanggan berlalu-lalang disekitarnya, membuka dan menutupnya lagi. Aku mengangguk sambil memerhatikan pintu itu sejenak kemudian menatapnya lagi dengan tatapan 'maksud-mu-apa-?'.
"Tidak ada yang akan masuk jika kau hanya diam dan menunggu di dalam" lanjutnya.
Aku mengerutkan kening, masih belum paham dengan arah pembicaraannya.
"Belum tentu. Cafe ini buktinya. Petugasnya hanya menunggu didalam, dan banyak pelanggan yang datang membuka dan menutup pintunya, seperti kita." sanggahku cepat.
"Apa kau tak lihat? itu karena petugas menempel tanda 'buka' didepan pintu. Coba lihat rumah itu", kini ia menunjuk sebuah rumah disebrang jendela.
"Apa kau mau masuk kedalamnya sekarang?", lanjutnya.
"Apa kau bercanda? Aku tidak tahu siapa pemilik rumah itu, bahkan aku tak bisa memastikan apakah didalamnya ada orang atau tidak. Jelas aku tak mau masuk ke tempat asing seperti itu"
Ia tersenyum sejenak sambil menyeruput kopi susu yang baru dipesan. Asapnya mengepul hangat. Aku masih belum mengerti apa maksudnya.
"Begitu juga dengan hatimu" katanya padaku.
"Kau tak bisa diam saja didalam dan menunggu seseorang untuk mengetuk dan membukanya kan? Intinya jangan menutup semua celah di hatimu".
"Siapa bilang aku menutupnya?"
"Tapi kau tak berniat membukanya kan? Lalu sekarang 'pintu' itu terbuka atau tidak?"
"Aku sama sekali tak menguncinya kok"
"Lantas kenapa tidak dibuka saja? Kenyataannya banyak yang mencoba mengetuk tanpa kau sadari"
Aku mulai mengerti maksudnya. ini bukan pembicaraan ringan soal pintu cafe atau rumah disebrang jalan.
"Aku misalnya", katanya lagi.
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. sempurna membeku didepannya. siapa sangka dia bisa bicara seperti itu.
"Intinya jangan menutup pintu itu. Sesekali coba lihat keluar, aku masih menunggu kok"
Aku tersenyum kikuk. entah seperti apa mukaku sekarang.
"Sudah dulu ya. Aku pergi dulu. Sampai nanti"
Aku hanya mengangguk dan terpaku melihatnya pergi. Entahlah. Aku rasa aku tak bisa menganggapnya teman biasa setelah ini.
Sesekali melihat pintu dan rumah di sebrang jalan. Selebihnya memikirkan apa yang dikatakannya.
"kenapa tidak dibuka saja?"
Kalau boleh jujur, itu karena aku masih berharap seseorang datang dan mengetuknya lagi.
Dan seseorang itu bukan kamu.