Kepada kamu sosok manusia yang hari itu memilih pergi dari hidupku,
Kepada kamu yang memberikan pelajaran berharga bagiku,
Aku berterimakasih padamu dengan sangat sekali, karenamu aku sekarang begitu kuat tumbuh menjalani hari-hari, sebabmu aku menjadi manusia seperti sekarang ini. Yang begitu gigih melawan kenyataan dunia yang tidak adil begini…
Yang curang selalu keluar sebagai pemenang,
Yang melakukan hal dengan sungguh hanya mendapat separuh,
Yang mencintai sepenuh hati malah terpaksa untuk beranjak pergi.
Yang diberi percaya dengan sangat bisa saja menjadi pengkhianat.
Namun dari ucapan terima kasihku, ada yang ingin kusampaikan padamu, tentang bagaimana sakitnya di waktu lalu, dan tentang ucapan terima kasih memang pantas untukmu...
Setelah ditinggal olehmu, aku paham bahwa salah satu cara menguras daging-daging tubuhku hingga aku mengurus adalah dengan cara berterima kasih padamu. Berterima Kasih pada kamu yang meninggalkanku. Padahal tidak ada satupun manusia yang senang ditinggalkan.
Namun, entah kenapa tubuh ingin berterima kasih padamu padahal kepergianmu adalah luka bagi dadaku.
Aku ingat hari itu, hari dimana jiwa dan raga memilih menyerah sebab segala hal yang kulakukan tidak menghasilkan apa-apa.
Percuma saja aku buktikan diri bahwa aku yang lebih pantas jika segala usaha yang kulakukan di matamu tidak membuatmu puas. Jadi untuk itu lebih baik aku memilih lekas. Berpaling darimu agar luka-luka tidak terlalu banyak membekas dan Jujur dalam keadaan setengah waras, hanya separuh hati yang rela melepas.
Lalu, apakah terima kasih adalah kata yang pantas untukmu yang pernah menghancurkan separuh alasan ku untuk hidup,Apakah pantas untukmu yang memporak-porandakan separuh dari alasanku bekerja keras demi impian hidup denganmu.Apakah pantas untukmu yang membunuh separuh senyumanku sebelum tidur sebab adalah kamu apa yang ingin kubahagiakan setelah membahagiakan kedua orangtuaku,Apakah pantas untukmu ucapan terima kasih dari lubuk hatiku?
Berterima kasih padamu yang telah meninggalkanku, ternyata itu benar-benar rumit dan sulit. Namun ada bagian dari diriku yang berusaha mengucapkan itu. Karena sebab mu hati ini mampu melalui segala keluh, melalui segala patah setelah mu, aku berterima kasih dengan sangat. Sebab ditinggalkanmu dikuatkan aku tidak perlu. Aku sudah tidak butuh pura-pura yang seakan peduli namun hanya penasaran saja yang berusaha mengetahui.
Kepergianmu adalah luka bagi dadaku namun aku harus tetap berterima kasih. Sebabmu aku tumbuh menjadi manusia yang lebih hebat, manusia yang lebih kuat, manusia yang telah tersadar bahwa yang dicintai dengan sangat bisa secara tiba-tiba menjadi seorang pengkhianat. Terima kasih banyak kamu yang telah berlalu. Meski seringkali berlalu lalang di kepala yang membuat dada terluka dan mengeluh.
Terima kasih, bagiku kamu tetap yang terhebat, menjadi penopang tubuhku untuk hidup lebih baik lagi nantinya, namun bukan berarti mencintaimu aku masih, ini hanya sekedar tamparan untukku yang nantinya akan mewarnai hidupku. Kamu benar benar menjadi penopang, tapi bukan berarti menyayangimu aku masih, hanya saja ini agar yang kucintai sepenuh hati nanti tidak terpaksa pergi sebab alasan yang sama dengan hilangmu dari sisi. Jadi terima kasih, dari pergimu aku belajar banyak sekali.
Dan yang terakhir, aku minta maaf kepadamu sebab terlambat menyadari maksud dari pesan terakhirmu.
“Kak, maaf, bukan bermaksud melukai tapi lebih baik sampai disini saja apa yang kita paksa selama ini. Adek yakin kakak sayang banget adek, jadi adek minta maaf soalnya adek tiba-tiba mengkhianati kakak.
Mmmfttt, Adek doakan di suatu hari kakak bakal dapat yang lebih baik, adek pun semoga saja bisa mendapatkan yang lebih baik dari kakak. Oia kak, ingat setelah mendapatkan pengganti adek, adek mohon jaga dia baik-baik terus ingat ini yah!. Kakak harus berjuang mendapat pandangan positif dari orang lain, kakak harus peduli sudut pandang orang-orang terhadap kakak, sebab masa lalu kakak begitu tidak baik dimata ibu-ibu yang suka gosip. Tapi adek udah percaya kok kalo kakak gak seperti apa yang orang bilang. Namun percaya atau nggak percaya, suara terbanyak adalah pemegang piala kak. Hehehe sok puitis adek. Maksud adek gini kak ehh emfttt. Kalo cuma adek yang bilang kakak baik namun, banyak orang bilang kakak buruk kan tetep aja orang bilang
“iya si dia memang buruk”(meski kenyataannya baik)
Kak dunia rumit biasakan diri yah. Adek pamit. Semoga berbahagia. Ingat baik-baik pesan adek. Adek yang kamu sayang ini. Jangan nangis kakak cengeng (titikduaP):P Buekkkk…”
Setelah menyadarinya, aku benar-benar berterima kasih, “Kenangmu yang dulu membuatku sedih, menjelma menjadi sebuah penopang bagi hati”