Mau bertanya nih.
Kalau cewek setiap kali marah itu nama nya apa sih,walau lagi pms atau nggak,bawaan marah mulu.
seen from China

seen from Russia

seen from Israel

seen from United States

seen from Russia

seen from Malaysia
seen from China
seen from China

seen from United States
seen from China
seen from Hong Kong SAR China
seen from Poland
seen from United States

seen from Russia
seen from United States
seen from Bosnia & Herzegovina

seen from Malaysia
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from Russia
Mau bertanya nih.
Kalau cewek setiap kali marah itu nama nya apa sih,walau lagi pms atau nggak,bawaan marah mulu.
Kalau Kamu Mau, Datang Saja
Entahlah. Mungkin aku yang terlalu percaya diri. Namun, mungkin kita sama-sama sadar. Kita sama-sama tidak menginginkan keadaan seperti ini. Keadaan saat jarak akhirnya menjadi alasan, bagi aksara yang tidak bisa terucap. Padahal pada masing-masing kita, aku, kamu, terbentang berbagai hasrat untuk dikibarkan.
Dulu, dengan mudahnya kita melipat jarak. Aku melipat jarak. Mencari celah di setiap rapat. Mencari lengah di setiap padat. Setiap kali kamu membutuhkan sesosok senyum. Aku selalu upayakan apa yang ada. Di sela sibukku. Di sela sibukmu. Ketidakmungkinan selalu kita mungkinkan. Aku mungkinkan. Mungkin saat itu tampak biasa saja kan, Nona? Hal yang mudah, kamu butuh, kita bertemu. Kamu berkesah, aku menyapa. Bukan hal yang patut kamu atensi. Bahkan, bukan hal yang patut kamu hargai.
Namun, lihatlah sekarang. Perhatikanlah sekarang. Bagaimana ternyata semua hal cepat berubah, cepat beranjak. Tiada lagi gelora seperti dulu. Tiada lagi semangat seperti dulu. Tadi pagi, saat handphone itu berdering, suaramu di seberang masih saja sama. Hendak kesahkan resah, hendak satukan rindu. Tapi maaf, sibukku tak bisa kutepis seperti dulu.
Bagaimana kalau kini kita fair saja. Aku pun tidak akan memutus banyak hal. Toh, kita sama-sama makhluk sosial. Saat kamu butuh, datang saja. Kamu tahu di mana dan bagaimana cara menemukanku. Masih tetap ada di tepian hari yang sama. Bila kamu mau, berusaha saja. Cari sendiri celah-celah dari kerapatan yang ada. Mungkin di celah itu kamu bisa menemukanku.
Tapi satu hal yang harus kamu percaya. Jangan pernah berharap aku akan berupaya. Mengelakkan sibukku untuk mendengar keluhmu. Menyediakan waktuku untuk menghapus air matamu. Sungguh, aku sudah tidak merasa bertanggung jawab atas itu. Seperti rasa tanggung jawabku saat dulu. Rasa yang kamu sendiri membuatnya berlalu.
Jadi, semua terserah kamu. Aku masih tidak terlalu jauh. Meski dengan rasa yang sudah berbeda jauh.
Medan, 17 Januari 2016