Doa di Persimpangan Waktu
Pada akhirnya segala ragu menjelma kabut, membuat langkah terhenti di persimpangan sunyi, hingga aku memilih diam sebagai doa, menyerahkan arah pada Yang Maha Tahu jalan.
Namun masih tersisa gentar di dada, takut semua hanyalah kesementaraan rasa, takut semua hanyalah sekadar pelarian, takut semua hanyalah cermin dari sepi.
Aku ingin pilihan ini jadi pelabuhan, yang meneduhkan dahaga jiwa yang rapuh, yang mampu menerima retak dan ganjilku, dan tetap tinggal, meski badai mengguncang.
Sering kupinta dengan lidah yang gemetar, “Ya Allah, jangan bosan pada rintihanku, tunjukkan jalan agar tak keliru memilih, berikan yang terbaik, meski aku belum sebaik itu.”
Semoga niat ini tetap terjaga bening, bahwa cinta hanyalah jalan menuju-Mu, bahwa ikatan hanyalah wujud ibadah, agar langkah kecil ini Engkau ridhai selamanya.









