Jika Aku Berusia 18 Tahun (Part 1)
Saat kubuka mataku di pagi hari, tak dapat kubayangkan bagaimana kulalui hari ini. Di sekolah banyak teman-temanku yang tiba-tiba menjauh saat aku berusaha ikut dalam permainan sepak bola, walaupun aku seorang anak laki-laki yang sangat wajar untuk bermain bola. Atau segerombolan anak perempuan yang terus menertawakanku saat aku lewat di sampingnya dan berceloteh.
Terlahir dengan kondisi fisik yang sedikit berbeda, bagaimana aku berlari dan menggerakkan tangan tak semudah anak-anak pada umumnya. Saat menulis pun aku masih membutuhkan bantuan kakak pendamping untuk menuntunku. Selain itu kemampuan berbicaraku masih sangat kurang. Walau aku bercerita panjang lebar, tidak akan ada yang mengerti. Mereka hanya mendengar, “aaaaa....iiiiii...eeeee”. Sebaliknya, banyak orang yang malas berbicara adaku karena menurut mereka aku tak dapat memahami apa yang mereka bicarakan. Belum lagi saat jutaan imajinasi selalu bertebaran di pikiranku, susah rasanya untuk berkonsentrasi.
Terkadang aku sulit mengendalikan emosi. Aku marah tanpa alasan dan berlarian kesana kemari sambil berteriak. Hal itulah yang menyebabkan banyak orang tua yang melarang anaknya berteman denganku. Ingin rasanya aku lari dari semua itu. Setiap aku datang ke TK, aku kehilangan semangat yang sudah kukumpulkan di rumah. Setelah itu aku akan segera meminta pulang
Seperti biasa, aku datang terlambat. Kemudian seorang kakak pendamping menemaniku berlari menuju kelas. Semua siswa berkumpul di lapangan. Aku segera menyusul di barisan belakang. Tak seperti biasanya, hari ini ada beberapa kakak berpakaian putih abu-abu sedang berjajar di depan lapangan. Mereka sangat tinggi, cantik dan tampan, beberapa dari mereka berkacamata, ada juga yang berkerudung. Mungkin aku tak pandai berhitung, tapi kira-kira jumlahnya ada 6 kakak laki-laki dan 4 kakak perempuan.
“Selamat pagi adik-adik.” sapa salah seorang kakak laki-laki yang tinggi, kurus, dan murah senyum.”
“Pagiiiiii,” sahut siswa-siswa taman kanak-kanak dengan antusias.
“Tahu nggak, ngapain kakak-kakak ada di sini sekarang?” kakak tadi melanjutkan sapaannya.
“Tiiiiidaaaaaak,” siswa-siswa menjawab dengan lantang.
“Ehmmmm, hari ini kami ada di sini akan memberikan penyuluhan tentang cara cuci tangan. Sudah pada bisa belum ?” kakak tersebut menjelaskan dengan penuh semangat.
Beragam celotehan teman-temanku dalam menjawab pertanyaan kakak tersebut. Ada yang berkata pernah, ada pula yang belum bisa, dan ada pula yang diam saja.
“Oke, oke, kakak mengerti,” kakak tersebut berusaha menenangkan teman-teman yang mulai ribut. “Oya, buat temen-temen yang pintar mempraktekan cara cuci tangan yang benar, nanti akan kakak ajak menonton film.”
Seketika aku senang mendengar kata ‘film’. Aku berlarian ke depan lapangan dengan girang lalu menarik baju kakak berkacamata yang sedang memegang microphone. Aku ingin mengatakan betapa senangnya aku apabila diajak menonton film.
“Kak, jangan ajak Rey nonton film,” teriak salah satu temanku sambil menunjuk ke arahku yang sedang berusaha berbicara dengan kakak tersebut.
Kakak tadi menghentikan pembicaraannya lalu meletakkan microphone di belakang punggungnya. Dia berusaha berbicara kepada temanku itu dengan suara yang sangat lirih.
“Kenapa temanmu ini tidak boleh diajak menonton film?” tanya kakak tersebut sambil merangkul bahuku.
“Rey itu aneh, kak. Lihat saja, ngomong aja gak bisa,” temanku menjelaskan lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengajak teman lainnya tertawa juga.
Sang kakak meletakkan jari telunjuk kanannya tepat di depan mulutnya, “Husssssssh.” Seketika teman-temanku berhenti tertawa.
“Siapa namamu?” tanya sang kakak kepada temanku.
“Nouval kak,” jawab temanku dengan begitu semangat.
“Dek Nouval, mohon maaf. Tapi kakak tidak setuju dengan apa yang dek Nouval katakan,” kak Nouval mencoba memberikan penjelasan, terlihat dia sangat hati-hati dalam berucap.
“Menurut kakak, mungkin untuk beberapa hal dia terlihat berbeda dengan Nouval, tapi yakinlah bahwa dia sama saja dengan Nouval. Sama makan nasi, berjalan menggunakan kedua kaki, dan pastinya sama-sama berhak berkawan dengan siapapun termasuk dengan Nouval. Bagi kakak, Rey ini sangat luar biasa dan istimewa.”
Penjelasan dari kakak tersebut membuatku menjadi terpanah. Serasa semua rasa kesalku pada sekolah ini menjadi sirna. Dia mengubah anggapanku bahwa tak semua orang sama. Tak semua orang menganggapku sebelah mata dan begitu mudah mencibir di depan mataku. Sejak saat itu, aku ingin menjadi seperti kakak itu, yang berusia sekitar 18 tahun.
Jika aku berusia 18 tahun seperti dirinya mungkin aku akan..................
[bersambung]







