364/365
Hai! Apa kabar? Titik; sebuah tanda, banyak gunanya. Pada bahasa Indonesia, titik digunakan untuk mengakhiri kalimat. Pada notasi balok, titik digunakan untuk menambah nilai not sebanyak setengah ketuk. Titik bagiku? Aku lebih suka menyamakannya dengan koordinat, digunakan untuk menunjukan posisi. Posisiku di kehidupan? Entahlah, haha! Sesaat aku di atas angin, sekedip kemudian aku di ujung tanduk. Sejenak aku berkuasa, sejurus kemudian aku tak bertakhta. Sekejap aku dicinta, sekelebat kemudian aku dicela. Begitu saja terus, sampai atma tak lagi bersemayam di raga. Percayalah, kamu bukan satu-satunya manusia di bumi yang menganggap kehidupan adalah sebuah lelucon. Kehidupan menyuguhkan berbagai kemungkinan, ketika satu-satunya yang kita inginkan adalah kepastian. Tidak apa, kan? Boleh jadi kita sedang berada di titik terendah kehidupan, namun kita diperkenankan untuk memperjuangkan apa-apa yang telah dikorbankan. Ketika kita memperjuangkan harta dan takhta dengan mengorbankan keluarga, misalnya. Boleh jadi kita sedang berada di titik tertinggi kehidupan, namun kita diperkenankan untuk mengorbankan apa-apa yang telah diperjuangkan. Ketika kita mengorbankan harta dan takhta yang sudah didapat untuk kembali memperjuangkan keluarga, misalnya. ‘Certamen ergo sum: Aku berjuang maka aku ada.’ Tentu saja tidak apa berpikir demikian, setidaknya jika kamu memang baru merasa ada ketika kamu berjuang. Toh aku pernah menjadi kamu, aku betulan paham. Namun, aku sedang putar haluan. Aku sedang belajar mensyukuri apa-apa yang memang ditakdirkan untukku. Dari yang akan kembali berjuang ketika sudah bisa bersyukur, Kelana Pertiwi









