Pingin nambah koleksi Soundiary; ada ide? Ada yang mau kolaborasi?
seen from China

seen from Ukraine

seen from United States
seen from Switzerland
seen from Yemen

seen from T1
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China

seen from T1
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands
seen from T1
seen from Canada
seen from United States

seen from Germany
seen from United Kingdom
Pingin nambah koleksi Soundiary; ada ide? Ada yang mau kolaborasi?
Kita selalu punya rahasia; misalnya kumpulan omong kosong yang kita anggap surat cinta dan mimpi-mimpi gila yang dituliskan di atas kertas, dimasukkan dalam bekas botol wiski bersumbat gabus, dan kita pendam di bawah tiang ayunan taman kota.
Kita selalu punya janji; tentang kecupan dan pelukan yang ditangguhkan musim, karena naifku waktu itu—bahwa hal-hal menyenangkan harus kita nikmati jika sudah sungguhan dewasa—bukan oleh siswa sekolah menengah yang masih menyeka hidungnya dengan ujung kerah.
Kita selalu memiliki satu sama lain; kecuali jika ada yang mulai mengingkari dan menghilang tanpa alasan.
Kita selalu punya alasan untuk bertemu; apabila tak ada salah satu yang mulai pasrah dan menyerah, muak dengan keadaan dan disudutkan oleh alasan-alasan untuk menghilang yang lebih masuk akal.
Kita selalu punya semua itu.
Sayangnya…
Kita tidak pernah punya daya untuk menyatukan beda. Hingga pada akhirnya tiba di titik nadir; berdebat tentang siapa yang paling layak dibenarkan, padahal sama-sama tahu bahwa nilai kebenaran hanyalah sebatas sudut pandang. Bahwa kebenaran bisa saja rekayasa akal pikiran manusia.
Kemudian tidak ada yang bisa mengelakkan, bahwa pada akhirnya kita berdua harus sama-sama berpura dungu; berpisah atas pasrah pada sebaris kalimat magis ‘untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku’.
Kita habis. Dan hebatnya, aku tak berminat untuk menangis.
Sekarang lihat, siapa yang paling bisa mendebat? Siapa yang berminat menyalahkan nama Tuhan yang rumah-Nya beda alamat? Siapa yang sudi melonggarkan rosario atau tasbih yang sudah melekat? atau, masalah memprioritaskan destinasi ziarah—Yerusalem atau Mekah?
Tidak ada!
Kita hanya tak bisa menyatu. Dan sekarang sama-sama saling menertawai masa lalu; tidak ada yang salah dengan beda—melainkan kita pribadi yang mempersenjatai diri untuk berpisah dengan alasan ini.
cc: @narasibulanmerah @tumbloggerkita
SENJA ABADI
Dalam diam; hatiku tidak bungkam. Ada nganga tanya yang besar di rongganya Siapa sangka kau bisa jadi penebar bahagia, menyuapiku dengan morfin yang tak pernah berhenti memaksaku untuk ‘ingin’, untuk menghirup lagi aroma kulitmu yang menguarkan kehangatan musim paling berbunga di hutan hujan yang liar. Lalu, untukku, seberapa lama kau akan bertahan? Tidak pergi, sekalipun malam memberi jeda untuk mimpi-mimpi. Tidak jengah, ketika aku mengajakmu menari di tengah badai yang tak pernah ramah. Atau sekedar memungut kulit kerang warna ungu, di pelataran Samudera Hindia yang pasirnya selegam kopi—di kota kecil kita. Setelah malam datang, Betelgeuse akan jadi saksi bagaimana kita basah dan mendesah. Bersenggama dalam hening tanpa kata-kata, melainkan hanya ada suara debur buih-buih ombak yang sengaja mencumbui dua pasang kaki anak manusia, yang saling tumpang tindih diantara sayup rintih. Lalu, setelah lewat masa subuh yang berpeluh, adakah kau berencana untuk memulas langit pagi agar jadi jingga atau saga, dan menghadiahi senja abadi? Sebuah prosa oleh Soundiary, dibacakan di Purbalingga, 22 November 2015. Terimakasih kepada Ruang Damai yang telah mendendangkan Sesal, menginspirasi dan mengisi sunyi. Salam, senja sewarna saga. *PS: dengarkan dengan headset atau earphone, lebih syadu
As I promised you, here you are our newest colaboration. Me featuring @narasibulanmerah, proudly present...
SYAIR SENJA
Aku sering melihatmu meramu puisi Bermodalkan sebatang pena dan halaman paling belakang dari buku catatan pelajaran semasa SMA Kau menakar kata-kata dengan bumbu rima irama, dalam bait yang sempurna terkait Awalnya kupikir semua wanita memang penuh dengan hal-hal melodramatis Bersembunyi di balik kalimat manis, demi kemudian tersuruk di sudut ruangan dan menangis Begitupun denganmu, aku taruh pula prasangka yang sama Tapi… Setelah sekian waktu terlewati sejak awal perkenalan yang janggal Tak sekalipun aku melihat kau tersedu dengan mata sayu Atau bahkan sekedar mendengar kabar bahwa kau menghilang sejenak, lantas muncul dengan wajah sembap Kutanyai teman-temanmu, satu demi satu, sampai aku bosan mendapat jawaban yang itu-itu saja, selalu sama
‘Perempuan itu terlalu dingin untuk melelehkan salju di matanya, bahkan hati yang ia miliki terlalu keras untuk melembutkan perasaannya sendiri’
Begitu jawab mereka Lalu, aku bertanya pada nurani, sekedar memastikan yang tak pasti
‘Kemana perginya airmatamu? Akankah kau sepejal itu, sampai tak ada rongga untuk berduka, untuk berputus asa?’
Jawaban datang kemudian, tepat seminggu sebelum kelulusanku Kita bicara dalam suasana yang mendadak canggung, seolah deru nafaspun menggantung Kuberanikan diri bertanya Yang ada dalam pikiranku saat itu hanya satu, kalau bukan kali ini, maka tak ada kesempatan untukku lagi Aneh, setelah mendengar pertanyaannya, kau tertawa Terbahak dan terlalu mendadak Aku gelisah, takut kau kira aku bercanda Tapi tak berselang lama kau mengklarifikasi, bahwa kau sedang menertawai dirimu sendiri Ditambah lagi, kau minta maaf kepadaku atas semua penolakan terhadap semua kebaikan yang kutawarkan Sungguh, ini semua tak ada hubungannya Saat itu juga keringat dingin mulai mengalir Ketakutanku beranak pinak, melipatgandakan emosi yang seolah menggodaku untuk lari dari suasana ini Aku tak mau disangka lancang, apalagi tak kenal sopan sampai menanyai yang bukan-bukan Lalu tak kalah tiba-tiba, kau menginterupsi lamunanku yang sedang menimbang kebimbangan; minta penjelasan atau jangan
‘Aku tak mau membuka perisaiku, itu saja,’ lalu kau tersenyum sinis. Bukan, bukan benar-benar sinis, tapi seingatku begitulah caramu tersenyum.
Belum genap kebingunganku menyeruak ke dalam otak, kau kembali menjejalkan sebuah fakta lagi; tentang kehilangan tentang perpisahan yang tak pernah diinginkan tentang selamat tinggal yang tak sempat dilafalkan dan tentang caramu menangis dalam diam
Aku seperti dikuliti, kemudian ditaburi garam di atas daging yang merah dan berdarah Ternyata seperih ini ketika tahu fakta bahwa kau terlalu sempurna menutup luka Bahkan kau tak menunjukkan wajah muram durja saat menceritakan Dia yang pergi terlalu dini Katamu, di masa lalu sudah terlalu banyak airmata dikucurkan Sebuah pemborosan Dan lagi, airmata tak pernah bisa memanggil yang pergi untuk kembali Maka demikianlah airmata tak pula bisa serta merta menghapuskan kesedihan
‘Jika yang kubutuhkan adalah penghiburan, maka aku memilih bernyanyi. Sekalipun itu lagu paling sendu, atau irama paling duka. Aku tak pernah punya tempat yang tepat untuk menangis,’ pungkasmu dengan senyum sinis, tapi manis.
Sungguh, kau seperti senja yang hanya datang dalam peralihan Tapi darimu aku belajar paham, bahwa dengan adanya senja maka siang dan malam tak perlu bertengkar untuk menggantikan untuk tergantikan bertukar tempat dari ada menuju tiada Maka kemudian dari caramu menguatkan diri sendiri, kuberi kau nama Syair Senja
Puisi ini dituliskan oleh Pria Berkacamata, 22 Januari-ku dalam rangka menguatkan dan melengkungkan lagi senyum yang sempat pudar.
Terimakasih atas semua usahamu menghimpun bahagia agar bisa kembali kueja. Dan terimakasih pula untuk TETAP ADA, di saat daun-daun berguguran dan bahkan batang pohon pun tumbang.
Malam ini bakal apdet koleksi baru di Soundiary. Yang nunggu-nunggu mana suaranyaaaaaa? uwuwuwu~
*belagak ala ala penyiar radio* *ditimpuk botol*
Halooo Mbak @krisanyuanita, akhirnya hari ini aku berhasil juga menyuarakan tulisan ini :D
Narasi Kehilangan
Mari kita menarasikan tentang jenis-jenis kehilangan;
Kau pernah melihat pohon beringin raksasa di lapangan luas, tiba-tiba tercabut paksa oleh angin beliung? Tanah berlubang setelahnya mungkin yang paling bisa memghayati apa itu kehilangan tanpa sebelumnya ada pemberitahuab. Mari kita namakan sebagai; kehilangan yang nelangsa.
Atau juga laba-laba yang mengaitkan benang-benang halusnya di plavon sebuah kastil, lalu sebuah buldozer semena-mena menghancurleburkan jerih payahnya tuk impikan sebuah rumah. Bahkan sampai dirinya sendiri terkubur mati dalam reruntuhan. Mungkin rasa kehilangan sang laba-laba lebih tepat disebut; menyedihkan.
Sedang terakhir, tentang sebuah wadah lapang bernama hati dimana seseorang mendirikan sebuah kerajaan, lengkap dengan taman taman dan kolam berair jernih. Dimana ia menyediakan sebuah singgasana di dalamnya untuk seorang raja yang diharapnya bisa dimiliki, namun hingga akhir cerita tak pernah terlaksana. Kurasa tepat sekali jika disematkan padanya; kehilangan yang mengenaskan.
Lalu, kehilanganmu yang jenis mana?
Keep listening, guys! For more melancholic writings, check her tumblr right here X
Knock knock...
Dear, Mba kotak-nasi idola saya. Dengan ini saya memberitahukan bahwa saya telah berhasil membacakan prosa bertajuk Kita yang Asing milikmu, dan menambahkannya menjadi penghuni baru dalam Soundiary.
Aku tahu, kamu akan membaca ini. Jika tidak esok pagi, mungkin suatu saat nanti.
Sebenarnya, aku merasa kamu tak cukup mengenaliku. Tidak peduli se-merasa dekat apa pun kamu denganku, se-serak apa pun kamu tertawa setelah aku melucu, atau se-pilu apa pun hatimu mengkhawatirkanku. Kamu tak cukup mengenaliku.
Membaca ini, kamu pasti bergumam, “Perasaanmu saja.” Lalu aku akan berakhir dengan kesal dan merasa menjadi orang paling bodoh se-antero negeri. Semuanya seolah hanya terjadi di kepalaku. Padahal mungkin, bisa jadi kamu yang pura-pura begitu.
Dan setelahnya, aku seperti kehilangan kompas dalam perjalanan mengenalimu. Aku laksana dihadapkan pada peta buta ketika akan menujumu. Mana barat, timur, selatan atau utara, semuanya tampak sama. Dengan seperti itu kamu berubah menjadi sangat abu-abu. Aku ternyata juga tak cukup mengenalimu.
Maka pada akhirnya, bisa jadi kita sesungguhnya adalah sepasang asing yang saling terbuka, dengan gudangan tanda tanya dan prasangka. Ah lagi-lagi ini pasti perasaanku saja.
Kita (aku) yang (merasa) asing.
Cerita Ananda adalah proyek lama saya yang membacakan cerita untuk adik-adik kecil. Saya mengupload rekaman ini dalam rangka rindu dengan drama radio yang sering saya dengarkan selagi kecil. Selamat mendengarkan dan bernostalgia, Folks :)