"Bisa nggak kita jalan bergandengan, jangan melulu kamu tempelin hidungmu di atas buku," ungkapmu kesal. • Aku menertawakan kebodohanmu, memang ada bedanya jika bergandengan tangan atau melangkah sendiri-sendiri sedangkan kita jalan bersisian, dengan jarak tak lebih dari sejengkal-dua jengkal? • "Aku nggak suka lihat kulitmu ada bekas bilur biru gara-gara nabrak meja atau kesandung kursi. Kamu itu terlalu ceroboh untuk dibiarkan bergerak bebas sendirian di dalam ruangan!" kau mengungkapkan kekesalan lagi di lain hari. • Lagi-lagi aku hanya tertawa. Mana bisa aku harus selalu dalam pengawasanmu, 7×24, di rumahku sendiri, yang bahkan jadwal berkunjungmu saja hanya akhir pekan karena waktumu disita kesibukan dan masa tenggang, kecuali jika kau menikahiku. Kau benar-benar berlebihan! • "Sayang, sekarang aku baru menyadari, bahwa selama ini aku yang berlebihan menilaimu. Jadi, selepas rasa sakit ini tuntas, tolong curahkan semua perhatian ke laki-laki itu. Dia berhak menerima semua kasih sayangmu yang tulus." • Demikian pesan terakhirku, bahkan tanpa sempat mengucapkan terimakasih karena malaikat-malaikat itu menjemputku dengan tergesa. • Jika pada Hari Penentuan ternyata tempatku bukanlah di surga, ku cukupkan kalian berdua sebagai surga di mata sebelum aku menutupnya. • 75% fiksi | Kota Bercahaya, malam berhujan sebelum tidur panjang. • @30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1920 #senjasewarnasaga #RupadalamAksara https://www.instagram.com/p/Bs3D69ClkzG/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=1v9pyqbt5insd













