Meninggalkan Kenangan, Bukan Merusak Derawan
Derawan, permata di Kalimantan Timur ini termasuk salah satu wisata yang sedang naik daun. Bahkan, tak sedikit yang menyebutnya sebagai Maladewa-nya Indonesia. Kecantikan alam bawah laut kepulauan yang satu ini menyebar luas ke telinga dunia. Promosi dari pengalaman wisatawan yang datang ke sana hingga foto-foto yang mengabadikan keindahannya di media sosial bersinergi mempopulerkannya. Siapa yang tidak ingin datang ke cuilan surga di utara tanah air ini?
Mungkin banyak yang tak menyadari, mempromosikan atau mengenalkan tempat wisata baru, sama saja dengan merusaknya. Tak bisa dipungkiri, salah satu ’sifat bawaan’ manusia adalah merusak. Masih ingat dengan kasus Taman Bunga Amarilis di Gunung Kidul yang hancur tak lama setelah banyak orang datang berbondong-bondong ke sana? Apalagi kalau bukan karena banyaknya pengunjung yang tak mengerti pentingnya menjaga dan bertata krama saat berwisata.
Sungguh mengiris hati saat mendengar bahwa 50% terumbu karang di Derawan sudah rusak. Sayang sekali jika pengenalan bagian indah Indonesia selain Bali dan Lombok ini malah menjadi aksi ‘bunuh diri’, karena lingkungan yang rusak. Tujuan utama mengenalkan potensi pariwisata adalah menaikkan kesejahteraan penduduk di sekitarnya. Namun jika dampak buruk semakin menjadi-jadi, apa yang bisa kita lakukan agar tidak semakin terpuruk?
Pengawasan Rutin pada Tour Operator
Manfaat Ekowisata jelas dirasakan oleh masyarakat Derawan setempat. Penghasilan dari tour operator yang menjamur, juga toko kerajinan yang dibuat dari hasil alamnya. Setiap tour operator sudah seharusnya wajib patuh pada SOP yang dibuat. Namun, ternyata masih ada yang bocor mengingat kasus tahun 2016 lalu di mana seorang traveler, Satya Winne malah dipojokkan ketika mengingatkan salah satu tour karena membawa turis terlalu dekat, bahkan menyentuh whale shark yang menjadi daya tarik pulau ini. Mengenalkan Derawan yang menawan memang penting, namun jangan sampai ini menjadi pisau bermata dua. Pengawasan rutin dan sanksi ketat berupa penutupan tour mungkin bisa menjadi pelajaran bagi oknum-oknum yang nakal.
Meninggalkan Jejak Kenangan
Menyenangkan mengetahui bahwa Indonesia semakin dikenal luas karena kecantikannya. Namun, hal ini akan menjadi lebih baik lagi jika para wisatawan yang datang tak hanya menikmati keindahannya, melainkan juga meninggalkan kenangan. Bagaimana jika setiap turis juga diwajibkan menjadi sukarelawan? Menyelam sambil menanam terumbu karang, misalnya. Jejaknya akan ada hingga puluhan tahun, lho.
Menjadi Turis yang Pintar
Menjaga tempat wisata tak hanya menjadi tanggung jawab para tour operator, namun juga setiap wisatawan. Setelah mendapat penjelasan mengenai apa yang boleh dan tidak, turis wajib mematuhi. Tak ada salahnya memberi sanksi pada wisawatan yang bandel. Tak jarang pengunjung yang datang melakukan hal bodoh demi sebuah foto paripurna untuk diunggah di sosial media. Pastikan kamu tak menjadi salah satunya.
Selain whale shark, penyu juga menjadi pesona Derawan yang menarik untuk dilihat langsung. Perlu aturan ketat agar para wisatawan tidak melanggarnya dengan sengaja. Para snorkeler wajib didampingi petugas tour yang berpengalaman dan berpegang teguh pada SOP. Kalau perlu, hanya penyelam yang bersertifikat yang bisa melihat keindahan biota laut Derawan. Bukan untuk mempersulit, membatasi penyelam di di Derawan bertujuan agar titik-titik cantik pulau ini tetap terjaga dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab.
Indonesia sungguh cantik, bahkan di setiap sudutnya. Merupakan kebanggaan bagi kita jika dunia bisa melihatnya. Namun, tugas kita pulalah menjaganya agar bisa dinikmati hingga anak cucu. Setuju, kan?